Kocaknya Isi Pikiran Anak Kecil yang Ngamuk Kalau Nama Bapaknya Dipanggil. Woi, Jamal!!

Panggil nama bapak

Anak kecil merupakan makhluk yang iseng. Kalau lagi main sama temannya, siasat isengnya keluar semua. Temannya nggak salah apa-apa suka tiba-tiba dijahilin. Kalau temennya belum nangis biasanya belum berhenti. Dasar bocah.

Advertisement

Salah satu keisengan anak kecil adalah manggil temannya pakai nama orangtuanya. Panggil-panggilan nama bapak ini entah kenapa jadi ledekan. Secara konsep aja udah kocak banget. Lebih anehnya lagi, temannya marah nama bapaknya dipanggil.

1. Ada suatu masa di mana memanggil nama orang tua menjadi ledekan. Ledekan ini berlaku, baik di lingkungan rumah, maupun di sekolah

Ledekin nama. via www.dw.com

Meledek teman adalah kebiasaan buruk anak kecil. Saat tahu nama bapak temannya, panggilan kepada teman langsung berubah. Yang dipanggil bukan nama aslinya, melainkan nama bapaknya.

Kalau di sekolah, ledekan itu bermula ketika si anak meminjam rapot temannya. Ngomongnya sih mau lihat nilai, tapi ujung-ujungnya baca lembaran biodata. Dari sana akhirnya dia tahu nama bapak temannya. Semenjak itu, kalau isengnya lagi kumat, dia pakai nama bapak itu untuk meledek temannya.

Advertisement

2. Masih menjadi misteri kenapa anak kecil marah ketika dipanggil nama bapaknya disebut. Memangnya kenapa, hei?!

Nggak ada yang berkurang dari diri, kenapa mesti marah. via kumparan.com

Mulai dari ejek-ejekan nama bapak aja sejatinya sudah aneh. Tapi yang lebih aneh justru mereka yang tersinggung ketika nama bapaknya disebut. Marah atau tersakitinya udah kayak diapain aja gitu. Padahal kan cuma manggil. Nama bapaknya juga sesuai sama Kartu Keluarga, nggak ada yang diubah-ubah. Harusnya mah nggak perlu marah. Bila perlu malah bangga. Tandanya bapaknya cukup terkenal.

3. Kecuali kalau nama bapaknya dipanggil paksi embel-embel yang sensitif. Misalnya “Jamal Tompel”, “Udin Petot”, atau “Slamet Becak”

Kalau kayak gini baru masuk akal kalau marah. via www.stevanusandre.com

Sejatinya bocah nggak perlu marah ketika nama bapaknya dipanggil, toh dipanggilnya dengan ejaan yang benar. Kecuali kalau dipanggilnya pakai sebutan yang aneh-aneh. Misalnya “Jamal Tompel”, ada indikasi temannya meledek tompel bapaknya di sana. Atau “Udin Petot”, ada indikasi temannya menyamakan dengan tokoh yang sudah ada. Atau “Slamet Becak”, indikasinya udah meledek profesi—cukup sensitif secara sosial ekonomi. Wajar jika mereka marah kalau diledek begitu.

4. Yang paling apes tentu saja mereka yang nama bapaknya Amin, setiap salat Tarawih di masjid pasti diledekin habis-habisan

Aaaamiiiiin! via lifestyle.kompas.com

Dari sekian nama, Amin-lah yang paling sering jadi bulan-bulanan. Terutama saat bulan puasa, momen di mana bocah-bocah kumpul di masjid untuk salat Tarawih berjamaah. Ketika surat al fatihah selesai, gerombolan bocah pasti teriak dengan lantang, “Aaaaamiiiiiin”. Paling apes jelas mereka yang nama bapaknya Amin. Dalam hati pasti sakit banget tuh bapaknya diledekin. Dasar bocah-bocah barbar.

Advertisement

5. Pas udah gede baru pada sadar kalau sebenarnya nggak ada yang salah dari ledekan itu

Ngapain sih sampai marah segitunya. via m.kaskus.co.id

Kita semua pernah ada dalam momen kocak saling meledek nama bapak. Baik sebagai pelaku maupun penyintas. Kita sama-sama ngerasain puasnya meledek teman dan sakitnya diledek. Barulah saat dewasa kita sadar bahwa ledekan nama bapak ini sungguh konyol. Kalau dinalar sejatinya nggak ada yang menyakitkan dari teman yang memanggil kita dengan nama bapak kita. Begitu pun ketika kita memanggil nama bapak teman, nggak ada kepuasaan apa-apa.

Ledekan nama bapak sudah menjadi kultur anak kecil di Indonesia. Entah siapa yang memulai. Yang jelas sampai sekarang ledekan ini dilakukan anak-anak. Jangan kaget kalau suatu saat anak kita mengadu sama kita habis diledekin sama temannya pakai nama kita. Membayangkannya saja sudah kocak. 😀

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Fiksionis senin-kamis. Pembaca di kamar mandi.

CLOSE