Penghuni Sisi Lain Sekolah #7 – Malam Pentas Seni

Penghuni sisi lain sekolah chapter 7

Percuma meminta panitia memundurkan pensi, Arum malah curiga mereka menyembunyikan sesuatu. Malam 1 Suro tiba, sekolah mulai dipenuhi penonton pensi. Arum dan Guntur hanya bisa menatap kalut, saat satu per satu makhluk halus ikut berkumpul di antara mereka. Sekarang, apa yang bisa dilakukan?
***

“Maaf, Kak, kalau bisa tolong dipertimbangkan untuk memundurkan acaranya.”

Di hadapan panitia pentas seni, aku dan Guntur mencoba menyampaikan pendapatku.

“Nggak bisa. Apa dasarnya kalian meminta acara diundur? Semua perizinan dan vendor sudah selesai diurus,” ucap Rico sang ketua panitia yang menjelaskan kondisinya.

“Tapi, Kak Rico, waktu pelaksanaan acara itu malam satu suro. Nggak baik kalau bikin acara pada malam itu,” jelas Guntur.

“Malam satu suro? Halah … memangnya kalian mbah-mbah yang masih percaya hal begituan? Ini zaman modern. Sudah tidak ada lagi yang percaya begituan!” balas Rico.

Cukup sengit kami meyakinkan Rico dan panitia lain, tetapi mereka masih sama sekali tidak berniat mendengarkan kami.

“Kalau kalian tetap memaksa mengadakan acara ini, bisa-bisa ada korban! Ada seseorang yang sengaja berniat jahat,” ucap Guntur yang mulai mulai kehilangan kesabaran.

Bersamaan dengan itu tiba-tiba tubuhku terasa panas. Ah, ini mulai lagi. Sesuatu yang berada di dalam tubuhku sejak penyekapan di bangunan tua itu kembali mencoba mengendalikan diriku. Dan di tengah pandanganku yang kabur ini, samar-samar aku melihat beberapa panitia pentas seni yang ada di ruangan tersenyum mendengar ucapan Guntur. Senyum yang aneh dan tidak biasa. Ah, mereka juga terlihat tidak terkejut dengan kata-kata Guntur, seolah mereka sudah tahu tentang hal itu sebelumnya.

“Sudah Guntur, cukup. Nggak ada gunanya,” ucapku dengan suara yang lemas dan segera mengajak Guntur keluar dari ruang OSIS.

“Kamu kenapa Arum?” tanya Guntur yang sepertinya menyadari bahwa ada yang aneh dengan tubuhku.

“Nggak, nggak apa-apa …” ucapku.

Sayangnya, hal itu sama sekali tidak sinkron dengan kondisi tubuhku yang setelah itu langsung meluruh dan jatuh ke lantai.  

“Arum!”

Di sisa-sisa kesadaranku, aku bisa melihat Guntur sangat panik. Ia segera mengangkat tubuhku dan mengantar ke ruangan UKS.

“Lho! Arum kenapa Guntur?” tanya Santi yang ternyata sedang piket di ruang UKS.

“Sepertinya dia nggak enak badan, San,” jawab Guntur yang segera membaringkanku di ranjang UKS.

“Ya sudah, aku buatin teh panas dulu,” kata Santi setelah menyentuh dahiku dan memastikan suhu tubuhku masih normal.

“San, titip Arum dulu ya, aku mau ambilin barang-barangnya sekaligus mintain izin pulang buat Arum.”

Santi mengangguk dan dengan segera Guntur meninggalkan kami di UKS. Dengan hati-hati Santi membantuku meminum teh yang sudah ia siapkan. Sebenarnya itu sudah cukup bisa membuatku sedikit lebih nyaman. Namun, sosok makhluk yang ada di tubuhku seperti terus mencoba untuk memberontak.

Aku berusaha menahan sekuat mungkin. Kupejamkan mataku, berharap makhluk itu juga akan tenang.

***

“Rum … Jangan, Rum! Arum! Kamu kenapa, Rum?”

Samar-samar terdengar suara Santi seperti ketakutan.

Aku membuka mata. Seketika terlihat Santi dengan wajah yang ketakutan berusaha melindungi dirinya dari sesuatu. Tapi … kenapa dia ketakutan saat menatap ke arahku?

“S—Santi , kamu kenapa?” tanyaku bingung.

Aku bermaksud bertanya seperti itu kepadanya, tetapi suara yang keluar dari bibirku hanyalah geraman yang mengerikan. Sebuah cermin tak sengaja mengarah ke arahku. Pantulan cermin itu menunjukan wujudku dengan mata yang melotot dan memerah sementara rambutku sudah tidak beraturan.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis kisah horor yang hobi traveling.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi