Penghuni Sisi Lain Sekolah #9 – Waktu yang Tersisa

penghuni sisi lain sekolah diosetta

Satu per satu Arum mengumpulkan tulang tengkorak. Di sisi lain, Guntur masih berusaha mengadang sang dukun jahat. Kekuatan yang tidak seimbang, membuat situasi buruk bagi Guntur. Akankah kali ini Arum benar-benar kehilangan Guntur? Akankah Arum bisa menolong teman-temannya dan keluar dari situasi ini?
***

Sebuah penglihatan muncul di pikiranku, kejadian ini persis seperti saat berada di ruang kelas 11 D. Kali ini penglihatan itu menunjukan sebuah kejadian yang menimpa rumah mewah yang dihuni oleh sebuah keluarga besar. Warga desa berbondong-bondong mendatangi rumah itu dengan membawa berbagai senjata tajam. Ekspresi mereka dipenuhi kebencian. Entah apa yang sudah dilakukan oleh penghuni rumah mewah ini, hingga penduduk desa begitu marah.

“Keluar kau, Baroto! Akui semua perbuatanmu!” teriak salah satu dari warga desa.

Seseorang dari rumah itu keluar menghadapi mereka. Mungkin dialah yang bernama Baroto.

“Kau dukun biadab! Kembalikan semua anak kecil yang kau culik!” ucap warga desa yang lain.

Anehnya, seseorang yang dipanggil Baroto itu justru menghela napas dan mulai berbicara, “Bukan aku pelakunya, aku bahkan tidak mengerti apa yang kalian maksud!” Namun, sepertinya pria bernama Baroto itu juga sudah menebak apa yang akan terjadi setelah ini. Bahwa penduduk desa mustahil mempercayainya. “Kalian boleh melampiaskan amarah kalian kepadaku, tapi jangan sentuh keluargaku!”

Sayangnya reaksi warga tidak mereda. Salah seorang warga berteriak dan memaki, berusaha mengompori kemarahan warga, membuat situasi semakin ricuh.

“Bunuh! Dukun itu dan keturunanya tidak pantas hidup!”

Seketika seluruh warga menjadi beringas. Mereka menangkap Baroto dan menggantungnya di atas pohon beringin yang berdiri di halaman rumahnya. Tak hanya itu, penduduk desa juga memaksa seluruh keluarganya keluar dari rumahnya yang besar.

Pemandangan mengerikan terlihat di tempat itu. Warga yang kesetanan dan tak cukup puas dengan menggantung mereka hidup-hidup, juga memenggal tubuh mereka hingga hanya kepala masing-masing keluarga Baroto saja yang masih tergantung di pohon beringin. Terakhir, mereka membakar rumah kayu yang megah itu.

Tanpa disadari oleh penduduk desa, seorang warga yang tadi berteriak dan memprovokasi kemarahan warga tersenyum puas. Diam-diam, ia juga meninggalkan warga yang masih diliputi kemarahan. Semakin jauh dari keramaian, samar-sama matanya mulai menghitam, sama seperti mata Ki Bolowireng yang telah menjual jiwanya kepada setan.

Tepat setelah itu, seorang wanita berbaju kebaya berlari menerobos kerumunan warga dan tak bisa menahan tangisnya. Penampilanya persis seperti dengan hantu wanita yang ada di bawah pohon beringin. Dia datang bersama dengan beberapa anak kecil.

“Bagus!” teriak salah seorang warga desa kepada anak kecil bertubuh kurus. Rupanya anak itu adalah anaknya yang sudah hilang beberapa hari ini. 

“Ratna!” kini giliran seorang perempuan yang masih menggenggam batu memanggil anak kecil yang tengah memegangi ujung kebaya si perempuan.

Rupanya wanita itu adalah anak sulung dari Baroto yang pagi ini memang sedang mendapat giliran untuk mencuci di sungai. Ia tanpa sengaja menemukan anak-anak itu yang ternyata disembunyikan oleh seseorang yang memang berniat memfitnah keluarga Baroto.

Lantas, seolah baru terlepas dari pengaruh mantra sihir, penduduk desa menyadari bahwa tuduhan mereka salah. Mereka menjatuhkan semua benda yang mereka gunakan untuk menghabisi keluarga Baroto dan menangis menyesali apa yang mereka perbuat. Namun, nasi telah menjadi bubur. Segala upaya yang dilakukan warga untuk menebus perbuatannya tidak dihiraukan oleh wanita itu. Sebaliknya, ia membalas dengan sumpah serapah dan berlari ke arah rumah yang masih terbakar dengan api yang menyala-nyala dan mengakhiri hidupnya di sana.

warga desa membakar rumah Baroto | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

***

[POV ARUM]

Aku tersadar, tepat di bawah pohon beringin bersama sosok setan wanita berbaju kebaya yang sekarang melayang di hadapanku. Namun, pemandangan kali ini tak lagi sama. Kali ini aku melihat begitu banyak kepala yang tergantung di atas pohon beringin ini.

Blarrr!

Suara dentuman terjadi di lapangan tempat Guntur bertarung dengan Ki Bolowireng.

Aku tidak punya banyak waktu lagi. Dengan segera aku memberanikan diri mendekat ke pohon beringin menuju tanah yang dengan bekas galian itu. Tidak terima wilayahnya diganggu, roh wanita itu  mulai mendekat ke arahku dan berusaha merasukiku.

“Baroto,” ucapku pada makhluk itu.

Seketika makhluk itu terhenti.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis kisah horor yang hobi traveling.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi