Baru-baru ini warganet digegerkan dengan unggahan personel girlband SNSD, Kim Hyoyoen. Pasalnya konten yang diunggah ialah video joget lucu dari seorang bocah yang sebenarnya telah lama viral di Indonesia. Meski kualitas gambarnya jelek, namun video sorang anak asik berjoget diiringi sebuah musik batak ini terbukti menarik perhatian artis Kpop tersebut. Ketertarikan Kim diketahui berasal dari gerakan joget anak tersebut. “This is the real dance,” bunyi dari keterangan pada unggahannya.

너 진짜 사랑스럽당😍😍😍😍😍 This is the real dance🕺🏼

A post shared by hyoyeon kim (@watasiwahyo) on

Advertisement

Nah, bicara soal tarian atau joget, kalau dicermati lagi sebenarnya gerakan joget orang Indonesia bisa dibilang lebih unggul lho dibanding Kpop—tapi bukan berarti Kpop jelek lho, ya. Selain itu, sejatinya joget kita ini juga berpotensi besar untuk go international. Penasaran? Simak nih.

1. Joget menjadi salah satu kebiasaan yang sudah layak disebut budaya bagi masyarakat Indonesia. Di mana-mana ada saja yang berjoget

Bahkan diacara kampanye politik pun ada sesi berjoget ria via www.tribunnews.com

Orang Indonesia memang demen banget joget—baik menonton orang yang berjoget atau berjoget sendiri. Hal ini bisa kita cermati dari kebiasaan ”tanggap dangdut” atau menjadikan musik dangdut sebagai salah satu sesi pelengkap acara, sebut saja pernikahan, acara 17-an, bahkan sampai acara kampanye politik pun mengundang artis dangdut. Lantas apa lagi yang dicari selain bersenang-senang dengan berjoget ria? Dari sini bisa kita persingkat, joget sudah menjadi budaya bangsa kita.

Apabila dangdut disandingkan dengan Kpop, meski sama-sama berjoget tentu saja budaya berjoget kita harusnya lebih unggul, karena bisa lebih menarik perhatian banyak orang. Sederhananya begini, di panggung Kpop yang kita lihat barangkali hanya boyband atau girlband (penampil) saja yang yang berjoget, sedang penontonnya cukup menikmatinya saja. Lain halnya dengan di Indonesia, ketika menonton dangdut bukan hanya biduannya saja yang berjoget, tapi hampir semua penontonnya juga ikut bergoyang—lebih partisipatif.

2. Fenomena banyaknya video viral yang menampilkan aktivitas berjoget menjadi tolok ukur tersendiri bahwa berjoget sudah menjadi budaya

Advertisement

Video di atas sedikit mencerminkan bahwa kebiasaan berjoget nggak mengenal batasan usia dan nggak mengenal tempat. Kalau yang tadinya berjoget semacam itu hanya dilakukan ketika ada acara dangdutan saja, namun sekarang di manapun dan kapanpun, berjoget hampir selalu menjadi kegiatan yang lekat dengan kita.

Selain itu, dengan banyaknya video berjoget yang viral menunjukan bahwa selain sebagai aktivitas yang mereka lakukan sendiri, berjoget juga disukai sebagai bagian dari hiburan—dengan menonton pun mereka sudah senang.

3. Budaya berjoget nggak bisa lepas dari musik dangdut yang selalu mengalami perkembangan. Semakin variatif goyangan pedangdutnya dan joget penontonnya

regenerasi baik via www.naviri.org

Di Indonesia, joget dan musik dangdut seperti Fredrich Yunadi dengan kemewahan; dua hal yang nggak bisa dipisahkan. Maka dari itu budaya berjoget orang Indonesia nggak bisa dilepaskan dari musik dangdut itu sendiri. Musik dangdut yang selalu berkembang tiap zaman memiliki peran penting membentuk budaya berjoget.

Diawali Rhoma Irama yang memopulerkan musik dangdut tahun 70-an, regenerasi penyanyi dangdut nggak terputus. Era 80-an ada nama Evie Tamala, Meggy Z, kemudian era 90-an diteruskan oleh Caca Handika, Iis Dahlia, lalu memasuki tahun 2000-an pedangdut semacam Inul Daratista, Anisa Bahar, sampai yang kondang akhir-akhir ini Ayu Ting-ting, Via Vallen, dan Nella Kharisma menjadi garda depan musik dangdut Indonesia.

Nggak cuma berkembang melalui regenerasi penyanyi, namun juga dari musik dangdutnya sendiri banyak perkembangan yang telah terjadi. Munculnya genre baru dengan embel-embel dangdut kontemporer; pop dangdut, rock-dut, dangdut koplo dan dangdut house dan lain sebagainya membuat kebiasaan berjoget semakin lama semakin banyak peminatnya. Khusus dangdut koplo, barangkali dari sinilah bermula beragam joget pelaku dangdut—baik penampil maupun penonton—mulai menjurus ke goyangan aneh namun jenaka karena kerap mengundang gelak tawa bagi yang melihatnya.

4. Sebenarnya dangdut dan budaya berjoget orang Indonesia ini punya potensi yang sama seperti Kpop yang pernah populer di dunia lewat dance “Gangnam Style” dan “Pineapple Pen”

Lirik, musik dan tariannya sebenarnya biasa saja via applepan.blogspot.co.id

Bertolak dari pernyataan Kim Hyoyoen, “This is the real dance,” sejatinya dangdut dengan budaya berjoget masyarakat Indonesia memiliki potensi besar. Pujian dari personel SNSD ini bisa dijadikan tolok ukur bahwa ragam goyangan unik dan jenaka masyarakat Indonesia sangat memikat orang luar. Hal ini bisa menjadi nilai jual tersendiri yang—bukan nggak mungkin—bisa membawa budaya Indonesia menjadi lebih diperhitungkan dalam perkembangan budaya populer dunia.

Masih ingat tarian Gangnam Style atau Pineapple Pen? Tarian yang sempat viral di dunia beberapa waktu lalu itu, kalau dicermati sebagus apa sih tariannya atau musik pengiringnya? Biasa aja, kan? Coba bandingkan dengan dangdut koplo plus tarian beragam yang dikreasikan oleh pelaku dangdut; penampil dan penontonnya. Jelas mereka kalah kreatif dari kita.

Terlebih dengan kekuatan warganet kita yang terbukti dengan konten semacam “Om Telolet Om” saja bisa mendunia, kebayang kan betapa kuatnya kita untuk memopulerkan budaya joget kita? Dari sini tinggal seberapa besar tekad kita—baik seniman, maupun penikmatnya–untuk mewujudkannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya