Sudah rahasia umum jikalau Indonesia, negeri yang mengaku mengusung budaya timur ini tampak berupaya keras membentengi diri dari pemikiran dan budaya yang bersifat sekuler. Salah satu yang dipandang ekstrem dan ditabukan adalah ateisme, paham yang menolak atau meragukan keberadaan Tuhan. Tekanan sosial dari masyarakat ini lantas memaksa para ateis untuk beradaptasi sedemikian rupa. Alhasil, mereka punya sisi unik dalam menghadapi keseharian di tengah mayoritas masyarakat yang secara umum belum bisa menerima keyakinan mereka.

Di sini Hipwee bukan mau memperdebatkan eksistensi ketuhanan atau masalah teologi. Cuma mengundang kalian untuk melakukan semacam observasi sosial terhadap fenomena ateisme di Indonesia. Inilah permasalahan reguler yang terkadang kocak juga dari para ateis untuk berkompromi dengan masyarakat Indonesia, simak:

1. Bagi mereka yang menyangkal keberadaan Tuhan, hari raya yang penuh aktivitas keagamaan adalah hari yang melelahkan

Bagi mereka yang beragama, hari raya seperti Lebaran, Natal, Nyepi, atau Waisak ialah hari yang dinanti-nanti. Selain bisa berkumpul dengan keluarga, hari raya ini juga jadi momentum mewah untuk mendekatkan diri pada sang Pencipta, ataupun membasuh dosa-dosa.

Akan tetapi, sebaliknya bagi yang tidak percaya dengan hal-ihwal keagamaan, hari raya bakal jadi hari yang panjang. Teruntuk yang masih belum go public atau masih berpura-pura beragama, mereka tetap harus ikut shalat berjamaah, mendengar khutbah panjang, acara-acara gereja, ataupun Nyepi seharian untuk sesuatu yang menurut mereka tidak ada manfaatnya. Mereka dituntut main peran dan basa-basi berhari-hari.

2. Udah berharap-harap cemas mendekati gebetan, semua kandas hanya dalam sebuah obrolan. Ternyata ia mencari orang religius

Bayangkan saja, Kamu yang ateis lagi naksir dengan sosok imut-imut lucu. Kenalan, bercakap-cakap kecil, lalu tiba-tiba segenap asa dan perjuangan kandas begitu ia menunjukan ketertarikannya dengan pasangan yang disiplin shalat lima waktu atau rajin ke gereja tiap Minggu. Kamu mungkin bisa menyamar menjadi orang lain di depan keluarga atau saudara jauh, tapi untuk ke gebetan yang nantinya sudah “diproyek” sebagai pacar (apalagi istri), wah kayaknya buang-buang waktu aja nih.

Advertisement

“Aku sih suka sama orang yang nggak neko-neko. Muka nomor dualah, yang penting akhlak dan ibadahnya bag…”

“Bye”

3. Main ke rumah calon mertua di waktu ibadah

Bahkan andai secara beruntung Kamu bisa menaklukan hati sang gebetan, perjuanganmu belum selesai kawan. Tantangan sesungguhnya menyambut: calon mertua. Jika beliau adalah orang religius, siap-siap aja mengiya-iyakan secara palsu dakwah colongannya yang mungkin tersusup dalam obrolan ruang tamu kalian. Klimaksnya kelak adalah ketika Kamu di rumah doi saat azan berkumandang, lalu Kamu dihadapkan pertanyaan, “Nggak shalat dulu?”

4. Lantaran nggak pernah ikut ibadah, teman-temanmu yang seagama di KTP mengira Kamu beda agama

Wajarnya sih kalau masih tahap kenalan di awal, orang-orang nggak akan bertanya-tanya tentang agamamu. Biasanya orang akan saling menebak atau mengasumsikan agama satu sama lain dari apakah ia ikut beribadah atau tidak. Misalnya, kalau Kamu nggak pern

ah ikut shalat, cenderung temanmu akan mengira Kamu non-islam. Sesungguhnya akan enak kalau mereka udah menanyakan atau memastikan hal itu, biar jelas posisi keyakinanmu di mata mereka. Tapi kalau nggak, malah bisa bikin kita awkward atau canggung dalam bersikap. Kalau ketahuan satu agama tapi nggak pernah ibadah, nanti dikira pemalas.

5. Orang lain yang akhirnya tahu dan membuka obrolan dengan melempar pertanyaan maut, “Apakah Kamu ateis?”

Kamu bisa menjelaskan posisi kepercayaanmu dengan berbagai deskripsi ke orang lain. Tapi ketika ada yang bertanya langsung dengan format kalimat “Apakah Kamu ateis?”, biasanya timbul sedikit keheningan sejenak, lantaran Kamu butuh waktu berpikir lebih untuk menjawab. Pasalnya, istilah ateis itu kompleks. Nggak semua yang nggak percaya Tuhan berarti ateis. Ada banyak istilah lain semisal agnostik, irreligius, deisme, ignostisisme, dan segambreng lainnya yang masing-masing mengandung model kepercayaan yang berbeda-beda. Lagipula, umumnya seorang ateis tidak terlalu gemar merumuskan model kepercayaannya pada sebuah istilah tertentu. Jarang ada ateis yang menyebut dirinya sendiri ateis.

6. Karena kebiasaan bawaan sejak kecil, tetap kadang nggak sengaja menyebut spontan kalimat “Puji Tuhan” atau “Astagfirullah”

“Astagfirullah! Dompetku ketinggalan!”

“Alhamdulillah, Kamu menyebut nama Tuhan. Sudah kembali ke jalan yang benar ya…”

“…..”

Ini realitas yang cukup jenaka. Seringkali ateis pun dalam percakapan sehari-harinya menceletuk kalimat-kalimat religius. Teman-temannya pun jadi bingung, dan kadang ada yang protes. Padahal kalimat-kalimat itu hari ini memang sudah melebur dengan penggunaannya sebagai bahasa keseharian. Misal “Alhamdulillah” ketika menemui hal yang menyenangkan, “astagfirullah” atau “Ya tuhan” ketika kaget, “Insyaallah” untuk padanan “semoga”, dan banyak sebagainya. Kebiasaan menggunakannya di agama lama sejak kecil pasti akan tetap terbawa terlepas masih meyakini maknanya atau tidak.

7. Kehilangan hak menggunakan kata sumpah untuk meyakinkan seseorang

“Eh sini kembaliin duit gue kemarin!”

“Sumpah demi Tuhan, bukan gue yang ambil duit lo!”

“Lah, mana gue percaya. Percuma ngomong sumpah, lo juga nggak percaya sama Tuhan”

“……”

8. Tiba-tiba diajak ngobrol perihal ateisme, dan keluarlah pertanyaan maut versi 2, “Kalau sudah mati, menurutmu Kamu bakal ke mana?”

Sebagian orang cenderung suka menghindar dari obrolan ketuhanan bersama ateis karena takut terpengaruh dan sebagainya. Namun, tak sedikit yang justru bersemangat untuk memperbincangkannya dengan hasrat untuk menceramahi, mendebat, atau memang sekadar pengen tahu aja. Kalimat pembuka topik ini sih biasanya adalah “Kalau sudah mati, menurutmu kita bakal ke mana?” Kebanyakan ateis agak kikuk pas menjawabnya. Bukan karena nggak punya jawaban, tapi kadang memang mereka selektif untuk membicarakan hal itu. Mereka akan mempertimbangkan siapa lawan bicaranya, apakah cukup layak dijadikan rekan bincang atas hal-hal sensitif semacam ini. Apalagi mayoritas orang Indonesia masih bermasalah dalam menghadapi perbedaan. Tapi kalau udah nyaman, biasanya mereka akan berapi-api menjawab pertanyaan itu.

9. Mendapat pandangan yang penuh curiga dan wasangka dari orang udik, seakan ateis adalah iblis, dajjal, atau satu-satunya orang di dunia yang tidak percaya Tuhan

Jika ketiban sial harus ketahuan ateis oleh seseorang yang kurang jauh mainnya, Kamu harus berhadapan dengan apa yang dinamakan stigma. Orang-orang yang cenderung berpikir tertutup ini biasanya akan tersentak dan merasa was-was berlebih tatkala mengetahui ada orang yang secara terang-terangan menyatakan tidak punya agama. Ia akan mulai berimajinasi dan menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan semacam “Kok bisa???” “Orangtuanya seperti apa sih??” “Nggak percaya Tuhan? Jangan-jangan suka makan bayi nih orang?”

Padahal, menurut survei internasional Gallup,  jumlah individu yang tidak percaya agama di dunia menyentuh angka 13 persen. Itu menunjukan bahwa keberadaan ateis bukan barang baru, dan juga kebanyakan mapan secara ekonomi, pendidikan, politik, serta menjalani kehidupan di masyarakat sewajarnya.

10. Begitu punya anak, keluarga besarmu akan segera pasang kuda-kuda mengawasi perlakuanmu terhadap sang anak

Jarang sih seorang ateis Indonesia berada di situasi buka-bukaan atas kepercayaanya dengan keluarga besarnya. Jika ada yang sukses menjalaninya, ya tantangan berikutnya adalah ketika punya anak. Anggota keluarga yang lain akan berusaha menjauhkan pengaruhmu dari si anak, dan mencoba menuntunnya menyandang agama yang sama dengan agama mayoritas keluarga. Tapi biasanya sih para ateis nggak terlalu peduli apakah anak atau anggota keluarganya yang lain akan beragama atau tidak. Apalagi banyak juga yang meyakini agama memang tetap dibutuhkan di dunia ini untuk memenuhi kebutuhan pedoman moral. Seperti kata Voltaire: “Jika Tuhan tidak ada, kita perlu menciptakannya”

Poin menarik dari realitas-realitas yang dihadapi ateis di atas adalah kemiripannya dengan kaum LGBT. Selain dianggap berbeda dan ditabukan, keduanya juga punya rintangan tersendiri untuk melewati tahap coming out (pengakuan ke masyarakat luas). Di negeri ini, kedua kaum itu harus berkompromi dengan banyak hal. Seperti bagaimana kaum LGBT tetap tak bisa serta merta mengabaikan normasosiokultural dan kebutuhan membangun keluarga ‘normal’ untuk mendapatkan penerimaan sosial. Begitu juga kaum ateis yang tak bisa bebas mengabaikan kewajiban status agama resmi di KTP atau perilaku beragama di  situasi-situasi tertentu. Intinya sih repot.