Review film Danur 2: Maddah

Sajian awal Danur 2: Maddah memang ampun-ampunan bagi yang penakut. Kemasan adegannya mengambil gaya banyak film horor yang pernah berhasil sebelumnya. Sayang, penyelesaian konflik yang disebut-sebut merupakan kisah nyata ini justru mengundang tanya, "Ah, masa sih ini bukan fiksi?"

 

6.5/10
RATING

Selamat malam Jumat!

Semoga ketika membaca telaah (review) ini kamu nggak sedang berada di kamar sendirian malam-malam. Pun sendirian, percayalah, ada insan yang menemanimu. Siapa pun itu. Seperti kutipan yang saya tangkap dari film Danur 2: Maddah:

Advertisement

Yang nggak kelihatan itu bukan berarti nggak ada.

Judul dalam artikel ini sebenarnya membutuhkan banyak penjelasan dan memunculkan pertanyaan, Kenapa sih Danur 2: Maddah butuh diselametin? Bukankah nggak ada yang sedang ulang tahun? Jadi, pada film Danur sebelumnya, banyak aroma-aroma kekecewaan yang tercium. Mulai dari mereka yang merupakan pembaca setia novel Danur yang merasa jalan cerita film jauh berbeda, hingga penggemar horor yang merasa gagal menemukan kengeriannya. Sekuel kedua kali ini, sutradara Awi Suryadi berhasil menyelamatkan aksi Prily dan kawan-kawan. Tapi sayangnya baru sekadar selamat saja nih, belum menggelegar untuk ukuran film horor Indonesia yang standarnya makin tinggi.

1. Penyelamat film Danur 2: Maddah adalah plot yang lebih rapi dan penanjakan cerita yang ciamik dibanding Danur: I Can See Ghost

Siapa tuh yang main piano? via www.wowkeren.com

Film horor memang selalu identik dengan adegan mengagetkan yang cukup ngeselin. Tapi setelah tensi ketegangan berkurang, plot dan narasilah yang pada akhirnya terngiang sampai penonton pulang. Menurut saya sih jalan cerita adalah hal yang nggak boleh jadi recehan di sajian horor mana pun. Tentu saja karena kita sedang berhadapan dengan cerita yang menyinggung takhayul, di mana nggak semua orang percaya hal gaib. Jalan cerita A-B-C sederhana nggak akan bisa menyelamatkan keberhasilan film horor meskipun porsi jumpscare dan make up hantunya sudah pol nampol.

Advertisement

Danur 2: Maddah diawali dengan establishing yang cukup bikin bergidik di mana seorang kakek-kakek bercerita tentang hantu perempuan yang suka memainkan piano. Sejurus kemudian dia merapalkan lagunya. Na na na na na …. Duh, ini jenis establishing yang kreatif meski pada akhirnya sedikit membocorkan plot yang seharusnya bisa jadi twist.

Nah, penanjakan cerita dan penampakan demi penampakan yang ditampilkan di awal juga nggak kayak kerupuk garing yang hanya bikin teriak-teriak, lalu sudah. Kengerian hantu Noni Belanda dengan postur tinggi ditampilkan berulang-ulang dengan jenis kengerian yang beda. Sumpah, hal ini sangat menyelamatkan film ini dari kegagalan.

2. Bukan lagi kuntilanak yang suka nyisir, karakter hantu di sekuel Danur ini lebih ngawur dan hobi banget resek

Sophia Latjuba yang porsi tampilnya sangat sedikit via hiburan.metrotvnews.com

Jika kamu penonton film Danur instalasi pertama, kamu mungkin sulit move on dari karakter hantu tukang nyisir yang diperankan Shareefa Danish. Tapi tenang, di Maddah ini kamu akan ketemu hantu bule yang nggak kalah seram. Secara pribadi saya nggak merinding kalau hanya lihat hantu lokal, tapi kalau hantunya sudah tinggi besar, berambut pirang, bergaun mewah layaknya Noni Belanda dengan ketawa yang nyablak, ampun deh! Sebelumnya saya mohon maaf, Guys, kalau saya agak ngasih bocoran. Tapi sungguh, karakter hantu di Maddah ini sangat resek, ngerjain manusia secara totalitas.

3. Porsi jumpscare, meski agak terlalu banyak tapi dihadirkan dalam tensi yang pas. Sutradara berhasil menukil gaya James Wan

Tokoh Risa kesurupan, tapi tetap imut. via www.teen.co.id

Jumpscare selama ini adalah elemen yang hampir fardhu ‘ain buat film horor. Tapi jumpscare yang berlebihan juga sangat beracun dan bikin penonton malah kebal dengan kengerian. Musik yang dihadirkan dalam Maddah lebih banyak mengambil bunyi-bunyi efek yang alami, bikin penonton merasa lebih dekat dan serasa ada di set. Sayangnya musik ala biola rusak dan piano gonjreng agak berlebihan. Musik ini seperti sengaja dibuat pol-polan untuk menyelamatkan beberapa adegan yang kurang seram. Tapi melihat penonton satu studio yang histerisnya jor-joran, saya jadi percaya jumpscare dalam Maddah memang elemen penyelamatnya juga.

Padahal tanpa jumpscare kengerian horor itu sebenarnya jadi lebih awet. Misalnya di film The Blair Witch Project (1999) dan Paranormal Activity (2007).

4. Warna pucat, disturbing angle, hingga art yang sudah khas horor banget cukup membuatmu mengingat setting film ini di kemudian hari, lalu ketakutan sendiri

Pohon, rumah tua, ayunan, dan gaun lawas. via topmetro.news

Tone warna pucat di Maddah akan mengingatkan banyak orang pada film horor ala Holywood. Meski nggak sesempurna itu, paling nggak Maddah bisa menampilkan bidikan yang nggak mengecewakan. Membuat film horor ini jauh dari prasangka kalau hanya dibuat untuk kepentingan komersil belaka. Lebih jauh, Maddah itu karya seni yang garapannya cukup serius. Tapi lagi-lagi, terlalu banyak pengambilan gambar yang dibolak-balik (disturbing angle) membuat seolah-olah Awi Suryadi berusaha banget bikin film jadi seram, ngeri, dan mengganggu. Entah mengapa saya merasa porsi ini berlebihan dan improvisasi yang jadi sia-sia.

Apa yang disayangkan adalah penyelesaian yang lucu. Iya, lucu. Dan mengingatkan saya akan film Harry Potter saat Dementor menghilang

Pemeran aslinya cantik kok. Tenang. via www.layar.id

Sebagai film yang mengklaim cerita ini berdasarkan kisah nyata (atau setidaknya sekadar terinspirasi dari kejadian nyata), penyelesaian film ini justru terasa sangat fiktif. Bagian tersulit dari horor memang ketika setan-setannya sudah diperkenalkan. Bertaruh antara kesannya jadi nggak seram atau penyelesainnya jadi kentang’. Tokoh antagonis (baca: hantu) yang selama ini mengganggu ternyata musnah hanya dengan menyobek buku. Alamak!

Selanjutnya yang sangat mengganggu saya dan bikin agak nggak masuk akal adalah adegan rumah sakit yang: Ya, Tuhan, rumah sakit mana yang semua lampunya korsleting dan lorongnya sesepi itu sih?

Oh, iya, kostum yang dikenakan Prily waktu mau tidur juga sedikit berlebihan. Kostum ini juga ditampilkan di poster film. Anak kuliahan mana yang tidur pakai gaun putih panjang mengerikan? Lagi pula nggak ada yang jual begituan di toko piyama.

Intinya sekitar 45 menit pertama film ini, sajiannya apik banget, semua jurus horor andalan keluar. Namun terakhir, gaco-nya sudah habis deh. Jadi sebenarnya Danur 2: Maddah bisa jauh lebih baik dari ini.

[BONUS SPOILER]

Dua adegan paling menyeramkan sepanjang film~

Coba ditonton, ya, buat menilai kualitas film dalam negeri. via www.brilio.net

Sebagai orang yang bukan penakut namun nggak sepemberani pahlawan revolusi nasional, saya punya dua adegan terseram di film ini. Bagi kamu yang nggak suka bocoran dan menganggap spoiler sebagai aksi kriminal boleh skip paragraf ini.

Adegan paling seram pertama adalah ketika Sophia Latjuba (Tina) sedang khusyuk berzikir. Ketika kamera mengarah ke bayangan di kaca, ternyata ada si hantu Noni Belanda yang duduk di depan Tina sambil mengikuti zikirnya. Nggak lupa sambil geleng-geleng kepala gitu. Ini, nih, contoh elemen ngeri meski tanpa jumpscare.

Adegan terseram selanjutnya adalah ketika Prily Latuconsina (Risa) bertemu hantu Noni Belanda sedang duduk bermain piano dan bertanya pada si hantu, “Kamu siapa?” Lalu si hantu menoleh dan tertawa ngakak cukup lama sampai bikin kamu ingin berkata kasar. Hmmm ….

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya