Review Film “Dear Nathan: Thank You Salma”, Penutup Trilogi yang Ceritakan Kehidupan Kampus

Bukan hanya suguhkan adegan romantis, film ini juga angkat isu pelecehan seksual

“Film “Dear Nathan: Thank You Salma” menutup trilogi “Dear Nathan” dengan sajian yang lengkap. Bukan hanya menghadirkan kisah romansa saja, Kuntz Agus berani mengangkat isu sensitif soal pelecehan seksual di kampus secara gamblang”

Advertisement

Setelah sukses dengan film pertama dan keduanya, Kuntz Agus bersama Rapi Films dan Screenplay Films kembali menggarap film “Dear Nathan: Thank You Salma” untuk menutup trilogi Dear Nathan. Film adaptasi novel dengan judul yang sama karya Erisca Febriana ini tayang mulai 13 Januari 2021. Seperti film pertama dan keduanya, “Dear Nathan: Thank You Salma” masih dibersamai dua pemeran utama yang sama. Karakter Nathan diperankan oleh Jefri Nichol, sedangkan karakter Salma diperankan oleh Amanda Rawles.

Kalau kedua film sebelumnya, “Dear Nathan” dan “Dear Nathan: Hello Salma” menceritakan tentang kehidupan masa sekolah, seri penutupnya ini berlatar kehidupan kampus. Bukan hanya mengangkat kisah romansa kedua tokoh utama saja, seri ketiga trilogi “Dear Nathan” justru banyak menyoroti isu sosial di kalangan mahasiswa, termasuk pelecehan seksual. Kehadiran para tokoh baru, yakni Indah Permatasari sebagai Zanna dan Ardhito Pramono sebagai Afkar, membuat “Dear Nathan: Thank You Salma” menjadi sebuah tontonan yang apik.

Meskipun mengisahkan kehidupan romansa Nathan dan Salma, tetapi konflik dalam film ini lebih berwarna karena menyelipkan pesan soal kebebasan bersuara

Thank you salma

Kisah romansa Nathan dan Salma diwarnai perbedaan cara berpendapat |  Credit: @thankyousalmafilm via Instagram

Film “Dear Nathan: Thank You Salma” diawali dengan jenjang hidup baru yang dialami oleh Nathan dan Salma. Transisi menjadi dewasa itu membuat keduanya memiliki pola pikir masing-masing. Nathan aktif sebagai mahasiswa himpunan jurusan yang kerap mengikuti demonstrasi secara langsung. Sementara Salma aktif di sebuah komunitas lewat keahlian menulis puisi yang dimilikinya.

Advertisement

Perbedaan pola pikir Nathan yang memilih untuk terjun ke lapangan untuk menyampaikan aspirasi dengan Salma yang bersuara lewat media sosial membuat hubungan keduanya sempat renggang. Meski begitu, film ini tak kurang memberikan sajian romansa keduanya layaknya sepasang kekasih. Berbeda dari film pertama dan keduanya, kedewasaan sosok Nathan dan Salma semakin terlihat. Mereka akhirnya bisa menyadari kalau perbedaan cara bersuara yang mereka miliki bisa disatukan lewat tujuan yang sama.

Hadirnya beberapa tokoh seperti Ardhito Pramono sebagai Afkar membuat suasana film terbangun lewat lagu “Teman Perjalanan”

Thank you salma

Ardhito sebagai Afkar menjadi sosok yang hadir di tengah Nathan dan Salma | Credit: @thankyousalmafilm via Instagram

Terlepas dari kasus yang menimpanya, Ardhito Pramono dalam film ini menjadi sosok baru yang berkarakter kuat. Tokoh Afkar yang diperankannya memiliki kecintaan terhadap sastra, lagu, dan puisi. Dia merupakan sosok  yang diidolakan oleh Salma di kampusnya dalam hal berkarya dan berpendapat. Namun, tak lama setelah berkenalan Afkar kemudian menyatakan ketertarikannya pada Salma.

Konflik hubungan Nathan dan Salma semakin menarik dengan kehadiran Afkar. Namun tanpa diduga, kehadiran tokoh Afkar ini justru mampu menjadi penyelamat permasalahan yang hadir. Konflik percintaan yang mereka alami menunjukkan kedewasaan pemikiran layaknya seorang mahasiswa. Seperti sosok aslinya sebagai musisi, Ardhito lewat tokoh Afkar juga secara eksklusif menghadirkan keelokan bermusiknya di sini. Lagu yang secara khusus dibuatnya untuk “Dear Nathan: Thank You Salma” berjudul “Teman Perjalanan”.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE