Review Film Habibie & Ainun (2012); Film Biopik Romantis yang Dibuat dengan Pas, Nggak Kemanisan!

Review film Habibie & Ainun

7.5/10

Terlepas dari sebuah film biopik, cerita romantis di film ini antara pak Habibie dan bu Ainun dibuat dengan pas, nggak lebih, nggak kurang, nggak kemanisan, apalagi lebai~

Entah ada angin lewat apa, tiba-tiba tangan saya dengan sengaja memencet sebuah film lama di Netflix. Film yang saya tonton dengan nggak sengaja itu berjudul “Habibie & Ainun” yang dirilis tahun 2012 silam di bioskop, tentunya kamu sudah bisa menebak dari judulnya, bahwa film ini membahas kisah mantan presiden Indonesia ketiga, B.J. Habibie.

Advertisement

Ternyata ada hal lain yang bisa membuat saya lekat di layar untuk menonton film berdurasi 120 menit ini, kendati saya bukan penikmat film biopik. Cerita yang dibuat seperti potongan mosaik kehidupan Habibie dan Ainun ini ternyata sukses memancing ketertarikan saya. Terlepas dari sebuah film biopik, cerita romantis di film ini antara Habibie dan Ainun dibuat dengan pas, nggak lebih, nggak kurang, nggak kemanisan ataupun lebai.

Sinopsis dulu, ya, toh sepertinya mayoritas udah pada nonton film yang rilis pada 2012 silam ini, kan~

Film “Habibie & Ainun” adalah sebuah film biopik yang mengangkat cerita kehidupan presiden Indonesia ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang akrab disapa dengan sebutan B.J. Habibie. Film ini menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya dari usia muda, ketika dia tinggal di Jerman, hingga cerita tentang pesawat buatannya sampai waktu dia menjabat sebagai presiden.

Seperti judulnya, film ini nggak cuma mengisahkan kisah bapak Habibie seorang (diperankan oleh Reza Rahadian), porsi ibu Ainun (diperankan oleh Bunga Citra Lestari) juga diceritakan cukup intens. Film yang dibuat nggak jauh setelah ibu Ainun meninggal ini memang menekankan bagaimana hubungan keduanya berjalan dan terbangun, dari mereka remaja, hingga maut memisahkan.

Advertisement

Jika kamu nggak cermat, mungkin kamu akan langsung percaya bahwa yang memerankan film ini adalah Habibie sendiri, bukan Reza Rahadian. Persis banget!

Bisa dikatakan Reza Rahadian dalam film ini sukses mengopi semua hal yang bisa saya amati dari B.J. Habibie. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Habibie, menurut saya Reza bisa menampilkan gestur-gestur sedikit kaku dan kikuk yang dimiliki oleh Habibie. Selain itu, cara berbicara Reza juga terasa sangat Habibie sekali. Reza bisa meyakinkan saya, bahwa dia sedang memerankan Habibie dan nggak menjadi sebuah karakter yang melenceng jauh dari ingatan saya.

Kisah romantis yang dibangun secara dewasa dan normal di film ini nggak membuat saya geli sendiri, sebuah hal yang menurut saya susah untuk dibuat

Habibie & Ainun (2012) | Credit: Tangkapan layar/YouTube MD Pictures via www.youtube.com

Seperti yang kita tahu, film biopik ini juga mengangkat kisah romantis Habibie dan Ainun, tetapi untungnya di film ini hal tersebut dibuat dengan pas, natural, nggak kemanisan, atau bikin ‘cringe’. Nggak ada adegan-adegan romantis yang nggak perlu, semuanya natural aja, sebagaimana layaknya pasangan yang saling mendukung. Ada saat di mana Ainun nggak setuju atau Habibie yang keras kepala. Mungkin karena nggak semuanya romantis dan berjalan mulus, saya tertarik dan agak permisif dengan kisah romantis yang dapat membuat saya melahap habis durasi film ini.

Advertisement

Hubungan yang dibangun dengan cara yang menurut saya lumayan dewasa ini sampai membuat saya bertanya ke diri saya sendiri, “Apakah saya selama ini berlebihan dalam menjalin hubungan dan terlihat seperti cerita cinta film remaja yang geli-geli itu?” Terlepas dari penggambaran kisah romantisnya, kamu bisa mencontoh kok perjuangan Habibie dan Ainun yang membangun kisah mereka dari bawah di negeri orang sampai menjalani hubungan LDR Indonesia-Jerman.

Sayangnya nggak ada film yang sempurna, sama seperti cara film “Habibie & Ainun” memainkan lompatan waktu untuk mempercepat alur cerita

Tetapi jika kamu punya tingkat konsentrasi yang nggak bagus-bagus amat, saran saya coba cari suasana tenang untuk nonton film ini. Dalam sebuah film biopik, pastinya sutradara akan melakukan beberapa ‘lompatan’ untuk memajukan alur waktu dalam cerita. Tetapi menurut saya, lompatan tersebut terjadi dengan tiba-tiba di film ini, sehingga mengharuskan saya mengerenyitkan dahi dan berpikir, “Kok udah begini? Kapan prosesnya? Rewind, ah!”

Saya bisa maklum, dalam sebuah biopik nggak semua cerita sang tokoh dapat dimasukkan, tetapi alangkah lebih baiknya jika sutradara ingin melakukan lompatan waktu, buatlah penontonnya nyaman dan nggak gelagapan karena lompatan yang terlalu cepat dan tiba-tiba. Hal ini menurut saya sangat terasa di 30 menit pertama film ini berjalan. Saran saya buat yang menonton, jangan berpaling dan berkonsentrasilah di 30 menit pertama, biar nanti nggak bingung di belakang!

“Habibie & Ainun” bukanlah sebuah film terbaik yang pernah dibuat. Ada banyak film biopik dengan kisah yang lebih inspiratif di luar sana. Tetapi saran saya, jika kamu ingin melihat bagaimana sebuah film menampilkan sebuah hubungan romantis antarmanusia terbangun dengan nggak lebai dan menjijikkan, film ini harus masuk dalam daftar tontonanmu. Toh masih tersedia di Netflix lo!

Ikuti Instagram @wolesjon biar nggak ketinggalan informasi seputar cowok dan dunia hiburan lainnya, kuy!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

What is bravery, without a dash of recklessness?

CLOSE