Review Film Sampai Jadi Debu: Drama Keluarga Sederhana yang Hangat nan Menyentuh

Review film Sampai Jadi Debu

8/10

"Sampai Jadi Debu" menjadi film drama keluarga yang melankolis dan menarik untuk disaksikan. Ceritanya yang mendalam dengan sinematografi yang sederhana dan sentuhan akting maksimal dari para aktor membuat film ini layak banget untuk kamu tonton!

“Sampai Jadi Debu” adalah film drama keluarga yang dirilis pada tanggal 8 April 2021 kemarin. Film ini menghadirkan aktor-aktor berkualitas lintas generasi. Beberapa nama baru antara lain Yasamin Jasem dan Wafda Saifan. Lalu ada juga aktris senior Cut Mini Theo. “Sampai Jadi Debu” digarap oleh sutradara Eman Pradipta dengan skenario yang ditulis oleh Anggoro Saronto.

Advertisement

Judul “Sampai Jadi Debu” diambil dari judul lagu terkenal dari duo Banda Neira. Film ini mengisahkan tentang keluarga yang mengurus ibunya yang menderita penyakit alzheimer. Siapa sangka film ini begitu memikat dan sangat menyentuh. Ceritanya yang sederhana bisa sangat berkesan karena eksekusi sinematografi dengan performa para aktornya yang baik.

Film “Sampai Jadi Debu” punya cerita yang sederhana tentang kehidupan kakak-beradik yang harus mengurus ibunya yang menderita penyakit alzheimer

Sampai Jadi Debu adalah film drama keluarga dengan cerita yang amat sederhana. Film ini mengisahkan pilihan seorang anak bungsu bernama Damar (Wafda Saifan) untuk mengurus ibunya yang menderita alzheimer. Pilihannya mengurus sang ibu membuat Damar meninggalkan kekasihnya serta pekerjaannya. Nggak sampai disitu, Damar juga dibenci oleh saudaranya karena keras kepala ingin mengurus ibunya sendiri di rumah.

Cerita bermula ketika ayah Damar, Pak Sugeng (Agus Wibisono) yang meninggal dunia. Berpulangnya sang kepala keluarga membuat bu Sugeng (Cut Mini Theo) terpukul. Ternyata telah mengidap alzheimer ringan selama setahun terakhir dan penyakitnya semakin parah setelah suaminya meninggal. Karena bu Sugeng mulai sering lupa pada beragam kejadian, anak-anaknya yang lain Ruri (Ully Triani), Lukman (Eduwart Manalu), dan Nining (Erfika Diandra) mulai berembuk untuk membicarakan penyakit sang ibu sekaligus membicarakan harta warisan mereka. Mendengar hal tersebut Damar merasa marah dan mengusulkan agar sang ibu tetap berada di rumah dan harus ditemani secara bergantian.

Advertisement

Penyakit alzheimer sang ibu yang semakin parah membuat beragam konflik dan kondisi yang membuat anak-anaknya bersitegang dan lelah mengurusnya. Setelah beragam konflik terjadi, sang ibu akhirnya meninggal dunia dan anak-anaknya kembali melangsungkan kehidupannya masing-masing. Di antara anak-anaknya, Damar seoranglah yang pada akhirnya mengikuti nasihat dan wasiat terakhir sang ibu untuk kembali mengejar kehidupannya yang telah ia tinggalkan semenjak mengurusnya.

Teknik pengambilan gambarnya yang sederhana membuat film ini terasa down to earth. Aransemen lagu “Sampai Jadi Debu” dari Banda Neira yang mengalun lembut sepanjang film ini juga membawa kesan melankolis yang ajaib

Seperti sudah kamu baca, film “Sampai Jadi Debu” punya cerita yang sangat sederhana. Kendati tema ceritanya telah sering digunakan, film ini jadi syahdu dan berbeda karena sinematografinya yang sederhana. Membuat film ini terasa down to earth dan bisa dirasakan oleh penonton. Meski setting berputar ditempat yang sama, sang sinematografer nggak kehabisan akal untuk memberikan emosi pada tiap gambar yang diambil. Maksudnya setiap konflik dan adegan bu Sugeng yang kehilangan ingatan dan kembali normal terasa sangat depresif. Bisa dikatakan film ini berhasil menampilkan sudut pandang anak-anak bu Sugeng yang teramat kesulitan menjaga seseorang dengan penyakit alzheimer.

Selain teknik pengambilan gambarnya yang brilian, aransemen lagu “Sampai Jadi Debu” terus mengalun sepanjang film. Lagu yang dinyanyikan Banda Neira ini menambahkan nuansa melankolis tersendiri pada film garapan Eman Pradipta ini. Puncaknya, lagu “Sampai Jadi Debu” mengalun untuk mengakhiri film ini. Sebab film ini adalah hasil adaptasi dari lagu tersebut, saya rasa film ini telah berhasil menampilkan sisi gelap melankolia juga sisi terang harapan yang terkandung dalam lirik dan musiknya.

Advertisement

Performa semua aktor yang dalam film ini terasa maksimal. Cut Mini Theo selaku pemeran utama bisa membawa film “Sampai Jadi Debu” terasa sangat berkelas dan emosional

Hal yang membuat film ini terasa kuat dan nyata adalah akting para aktornya yang total. Hampir semua pemeran film ini menunjukan performa terbaiknya memainkan karakter-karakter yang ada. Wafda Saifan yang memerankan Damar sebagai tokoh yang keras kepala dan penuh perhitungan, Yasamin Jasem yang memainkan karakter perempuan perhatian sampai Ully Triani dengan karakter pemarah serta banyak yang lainnya.

Di antara penampilan para aktor tersebut saya kira akting Cut Mini Theo selaku salah satu pemeran utama film ini sangatlah brilian. Ia berhasil memainkan tokoh seorang ibu yang tua dan memiliki penyakit alzheimer dengan natural. Saat menonton kamu bisa merasakan perubahan emosi film dari satu adegan ke adegan lain lewat performa Cut Mini Theo. Saya kira, aktris kelahiran Jakarta tersebut membuat film ini jadi spesial dan menarik. Nggak berlebihan kiranya jika Cut Mini Theo mendapatkan penghargaan sebagai aktris Indonesia terbaik tahun ini.

Nah, itu dia ulasan film “Sampai Jadi Debu”. Kesimpulannya adalah film ini sangat layak untuk kamu tonton. Film ini tersedia di situs streaming KlikFilm dengan harga 10 ribu doang lo. Buruan nonton!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Represent

CLOSE