Meski sempat mendapat kritik dari berbagai pihak, nyatanya film biopik Sultan Agung, Tahta, Perjuangan, dan Cinta ini sangat layak untuk ditonton. Tapi ingat, jangan belajar sejarah dari sebuah film, ya!

8/10
RATING

Sepekan setelah tayang, baru tadi malam saya memutuskan pergi ke bioskop untuk mencoba menikmati film Sultan Agung, Tahta, Perjuangan, dan Cinta. Ada banyak alasan kenapa saya menunda untuk menonton film besutan Hanung Bramantyo ini, salah satunya karena ini film biopik dengan tema sejarah yang tentunya kolosal. Sejujurnya, saya lebih suka kolosal dari Hollywood sih. 😀

Tapi begitu masuk ruang studio, saya langsung terkesima dengan adegan awal yang seru. Belum lagi kemunculan Putri Marino di balik topeng. Duh! Nah, berikut catatan saya ihwal film Sultan Agung, Tahta, Perjuangan, dan Cinta.

[SINOPSIS]

Advertisement

Cerita dimulai saat Sultan Agung muda alias Raden Mas Rangsang (Marthino Lio) menuntut ilmu di padepokan Ki Jejer (alm. Deddy Sutomo) dan bertemu lagi dengan Lembayung muda (Putri Marino) yang sempat hilang. Cerita berlanjut ke permasalahan tahta kerjaan, ketika Raja Mataram tiba-tiba meninggal dengan janggal. Singkat cerita, RM Rangsang pun naik tahta di usia muda menggantikan ayahnya, yang memiliki tanggung jawab sangat besar atas masyarakat Mataram.

Semasa Sultan Agung memangku kekuasaan, banyak hal berani yang dia lakukan untuk negerinya, termasuk mengepung benteng VOC di Jayakarta.

Dari sinopsis singkat ini, mungkin kamu seperti membaca buku sejarah yang memuakkan. Tapi …

Adakah yang bisa menyangkal kebolehan akting dari para aktor kondang dalam film Sultan Agung ini? Belum lagi makeup yang ciamik~

empat perempuan dalam kehidupan Sultan Agung via www.instagram.com

Nggak ada yang meragukan akting Ario Bayu (Sultan Agung dewasa), Meriam Bellina (Gusti Ratu Tulung Ayu), Christine Hakim (Gusti Ratu Banowati, ibu Sultan Agung), Deddy Sutomo (Ki Jejer), Adinia Wirasti (Lembayung dewasa), Lukman Sardi (Tumenggung Notoprojo, paman Sultan Agung), hingga Putri Marino dalam film Sultan Agung.

Advertisement

Belum lagi akting aktor muda Marthino Lio yang terbilang cukup baik, Rifnu Wikana (Kelana, mata-mata Kerajaan Mataram), Asmara Abigail (Roro Untari), hingga Anindya Putri (Ratu Batang, istri Sultan Agung), semuanya melakukan perannya dengan apik pula.

Ditambah, makeup para pemain yang sangat natural untuk kehidupan di abad ke-16 seperti itu, jadi makin keren. Barangkali ada campur tangan dari BRA. Mooryati Soedibyo, selaku produser, keturunan Sultan Agung, sekaligus pemilik Mustika Ratu Group? 😀

Pengambilan gambar yang sinematis dan scorring yang bikin merinding, berhasil menambah hidup film Sultan Agung

padepokan Ki Jejer via mooryatisoedibyocinema.co.id

Untuk film kolosal seperti ini, film Sultan Agung sudah hampir memenuhi syarat sebagai film yang harus banget kamu tonton. Pengambilan gambar yang sinematis, membuat kita terperangah dengan setiap adegan. Scorring atau elemen musik yang gahar sukses menambah suasana makin hidup—terlebih scene saat pengepungan di benteng VOC dan perang di pinggir sungai Ciliwung. Tone dan colour dalam film turut menyempurnakan scene sepanjang film, lanskap alam dan bangunan yang maujud abad ke-16, juga pas banget!

Tapi ada satu hal yang rasanya perlu dikoreksi. Saat pasukan Kerjaan Mataram (yang digambarkan begitu jadul dengan kostum perang yang ala kadarnya) mengepung VOC di Jayakarta, rasanya begitu kurang riuh untuk menyebut 14.000 orang yang turut dalam perang suci tersebut. Efek CGI pun saya rasa masih agak kasar, meski penggunaannya sangat minimalis. Tampaknya Hanung memang ingin bermain dengan teknik penggambilan gambar saja, yang saya pikir sudah cukup mendekati sempurna.

Sayangnya, sosok Lembayung terlalu mendapat porsi dan karakter yang cukup dalam. Konon, dia nggak ada dalam sejarah

Lembayung dewasa via mooryatisoedibyocinema.co.id

Bagi kamu yang nggak tahu sejarah pasti Sultan Agung, mungkin akan menikmati saja film ini, tanpa berhenti sejenak untuk mempertanyakan sosok Lembayung. Dari beberapa referensi yang pernah saya baca, sosok Lembayung rupanya memang hanya tokoh fiktif buatan Hanung yang sengaja dimunculkan untuk mempermanis jalan cerita. Barangkali benar, saya rasa sosok Lembayung yang dimainkan apik oleh Putri Marino dan Adinia ini mengambil porsi yang cukup banyak dengan kedalaman karakter yang jauh dibandingkan Sultan Agung dewasa.

Hal ini didasarkan pada dialog Lembayung dengan Sultan Agung yang akhirnya mempengaruhi Sultan Agung dalam mengambil sebuah keputusan saat perang suci. Eits, sorry, saya nggak bisa memberi bocoran adegannya.

Pada dasarnya, seharusnya Lembayung nggak mendapat porsi dan karakter yang mendalam. Justru, karakter lain yang sebenarnya penting, seperti Ki Juru Khiting, Kelana, hingga Notoprojo harus diperdalam lagi. Tapi balik lagi, kalau nggak ada ‘kisah tak sampai’ dari sosok Lembayung, mungkin nggak ada kata ‘cinta’ di judul film ini. Hehe.

Kendati mendapatkan kritik dari berbagai pihak, termasuk Gusti Kanjeng Ratu Bendara saat proses syuting, film Sultan Agung tetap layak disebut film sejarah

Meski sempat mendapat kritik dari Gusti Kanjeng Ratu Bendara saat proses syuting, agaknya Hanung tetap berhasil membuat alternatif tontonan keluarga yang edukatif. Masalah kurangnya referensi soal kisah hidup Sultan Agung, pertalian emosi antartokoh, hingga sosok fiktif tambahan Layung, film Sultan Agung masih tetap layak disebut film sejarah yang relevan untuk zaman sekarang. Sejatinya, perebutan kekuasaan, politik kekuasaan, perjuangan hidup, loyalitas, rasa nasionalisme, hingga percintaan, sampai kapan pun masih akan tetap ada dalam peradaban manusia.

Benar kata Hanung Bramantyo, selaku sutradara film Sultan Agung ini. Kita jangan belajar sejarah dari film. Karena nggak selalu film menyampaikan sejarah dengan pasti. Satu hal yang pasti, hidup itu masalah mukti utowo mati!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya