Jakarta, ibukota Indonesia ini, sudah menjadi kota terpadat dengan populasi terbesar nomor 2 di dunia. Jutaan orang dengan kepribadian berbeda berkumpul di sini untuk satu tujuan: bertahan hidup. Karena perkara hidup itu banyak permasalahannya, banyak berita-berita seram yang kita tonton di media itu datangnya dari Jakarta. Mulai dari pencopetan, hipnotis, penggusuran rumah, tawuran, demo anarkis, teror bom sampai aksi cabe-cabean dan semacamnya.

Walau begitu, 40 persen dari penghuni Jakarta ternyata adalah pendatang dari daerah-daerah lainnya. Sudah hidup di Jakarta menakutkan, tetap saja masih banyak yang berbondong-bondong pindah ke sana untuk bekerja. Di balik wajah ibu tirinya, Jakarta ternyata menyimpan sejuta tantangan yang menarik pendatang untuk bertahan walau harus jauh dari kenyamanan.

1. Bagi fresh graduate dapat kerjaan di Jakarta emang ngga mudah. Tapi banyaknya perusahaan startup yang banyak bermunculan disana, bikin kita jadi punya banyak peluang.

tunggu anakmu pulang, Mak… via www.arcopodojournal.com

Banyak perusahaan yang mencari fresh graduate untuk mengisi pos-pos yang sesuai dengan kebutuhan. Karena kebutuhan industri makin meningkat, kebutuhan akan sumberdaya manusia yang berkualitas juga ikut naik. Banyak peluang emas di dunia kerja di menantimu.

Lingkunganmu di daerah asal mungkin selalu menganggap kerja yang sukses itu ya dengan jadi PNS, tapi di Jakarta kamu bisa pilih pekerjaan apa saja sebelum menentukan passion-mu yang sesungguhnya.

Advertisement

Kamu: “Kakak mau ke Jakarta, Mak. Mau kerja di start-up.”

Emak: “PNS ya, Nak?”

Kamu: “Bukan, Mak. Semacam perusahaan rintisan gitu.”

Emak: “Program pemerintah apa itu, Nak?”

ah, sudahlah…

Namun begitu kamu hidup di Jakarta, jauh dari sanak saudara, kamu akan segera mengerti bahwa rumah dan segala isinya adalah istana terindah di dunia.

2. Mewujudkan mimpi itu butuh waktu lama, tapi tagihan kos terus jalan. Maka Jakarta bisa membantumu menjadi realistis.

kerja kerja kerja via minervarising.com

Bertahun-tahun ditempa di bangku kuliah, kamu mungkin sudah punya gambaran sehabis lulus ingin kerja di Jakarta. Mimpi-mimpi itu tetap harus dijaga, hanya saja ketika masuk dunia kerja yang sesungguhnya, ada baiknya menyesuaikan ekspektasi dan kemampuan.

Kalau kamu sudah coba puluhan tes kerja di Jakarta tapi selalu gagal, coba cek lagi posisi yang kamu incar tersebut. Mungkin kamu daftarnya di perusahaan multinasional, untuk posisi bos pula. Bukannya tidak bisa, hanya saja mungkin belum waktunya.

Di Jakarta, orang sudah kerja bertahun-tahun saja masih harus kerja keras untuk naik posisi,Tapi coba lihat sisi baiknya. Iklim kompetisi ini akan membentukmu menjadi pribadi tangguh untuk bahtera kehidupan di samudera selanjutnya. Bukan hanya bermimpi, kamu juga jadi mampu menyusun strategi yang tepat untuk mencapai mimpi-mimpimu itu.

3. Di Jakarta, kamu patut berbangga karena kemampuan survival kamu meningkat ke level ninja!

If you can survive Jakarta, you can survive the world! via www.mediaindonesia.com

Menerobos lautan manusia di gerbong kereta sambil menjinjing ransel laptop di atas kepala, lompat dengan kaki kiri dari kopaja yang nurunin penumpang sambil jalan, lalu mendarat di aspal dengan penuh percaya diri, tidur di dalam Trans Jakarta sambil berdiri gelantungan di dalam bus.

New York boleh berbangga punya julukan Big Apple, tapi Jakarta yang disebut Big Durian juga patut jumawa karena buah durian itu hanya bisa dinikmati orang-orang tertentu. Orang-orang nekat yang tidak suka dengan rasa yang biasa-biasa aja. Tanpa disangka, kamu sejatinya sedang mengembangkan kemampuan adaptasi dan bertransformasi menjadi problem solver yang efektif.

4. Jakarta keras, kawan! Kalau kita ngga melawan, kita yang akan diremehkan!

tahan emosi, mbak.. via nina-gifs.tumblr.com

Dulu, kalau ada orang menyerobot antrean di depan kamu, kamu cuma diam. Berpikir dalam hati, “oh, mungkin orang ini sedang buru-buru. Kasian.”

Sekarang…

“BUTA YA? NGGAK LIAT INI ADA ORANG DI BELAKANG?!!”

5. Tapi Jakarta juga mengajarkanmu untuk semakin peka dan pengertian. Terutama terhadap kehidupan kelas menengah ke bawah.

berbagi dengan orang lain membuat hidupmu penuh arti.

Kalau lewat bapak-bapak tua yang jualan tissie, kamu bakal beli dan ngasih lebih untuk bapak itu. Habis naik ojek online, kamu dengan senang hati kasih bintang 5 biar supir ojeknya dapat bonus. Kamu pun rela menghabiskan waktu untuk volunteer di kegiatan sosial, atau kalau belum sempat, setidaknya  menyisihkan sedikit uang untuk membantu mereka yang susah payah bergerak untuk membantu sesama. Kamu tahu betapa susahnya mencari penghidupan yang layak di Jakarta.

6. Di kota ini, kamu bisa bertemu orang-orang yang penting dalam penentuan masa depanmu selanjutnya.

jaga lingkar pertemananmu. via twitter.com

Mereka bisa jadi merupakan kalangan pejabat negara, artis, para ahli, atau sekadar kenalan baru yang memiliki ketertarikan di bidang yang serupa denganmu. Relasi pertemanan bisa berubah menjadi relasi profesional, begitu juga sebaliknya. Kamu jadi belajar membangun dan mempertahankan hubungan baik dengan orang lain, mengatasi konflik, dan bernegosiasi. Di mana lagi kamu bisa menemukan peluang berjejaring yang luas seperti di Jakarta?

Jakarta memang banyak mengubah kepribadianmu. Namun justru dengan begitu, kamu akan menemukan siapa dirimu sebenarnya. Jangan takut melabuhkan kaki di Jakarta. Tinggal di sana untuk waktu yang lama bukan hanya perkara kerja, tetapi juga pencarian jati diri. Suatu saat, hatimu akan memilih untuk tinggal atau pulang.