Nama Peter Yan beberapa hari ini ramai menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir taksi ini memang memiliki pengalaman hidup yang layak untuk dijadikan pelajaran. Di usianya yang sudah menginjak usia 58 tahun ini, Peter Yan yang lulusan S2 teknik Sipil di Jerman, kini dengan ikhlas menjalani profesinya sebagai seorang sopir taksi.

Bermula dari seorang penumpang yang kaget ketika Peter Yan menjawab telepon dengan bahasa Jerman.

Advertisement

@pameran Retrospektif 10 tahun Akademi Samali, hari ke-2Kau tahu siapa nama sopir taksi eagle yang mengantar kami…

Posted by Aji Prasetyo on Friday, 8 May 2015

Seorang netizen berhasil menemukan pria yang telah banyak menyumbang ide untuk pembangunan daerah di Tanah Air ini. Aji Prasetyo, seorang komikus yang juga dosen di salah satu Univeristas Negeri di Malang, mengunggah pertemuannya tak terduganya dengan Peter Yan. Kala itu, Aji bingung ketika sopir taksi tersebut mengangkat telepon dan berbicara dengan menggunakan Bahasa Jerman dengan lancar.

Postingan itu kemudian menjadi viral dan menjadi pembicaraan di media sosial. Media-media mainstream pun tak ketinggalan memberitakan sosok Peter Yan yang mengejutkan ini.

Sepuluh tahun tinggal di Jerman, Peter Yan pulang ke Indonesia dan mengerjakan banyak proyek pembangunan.

Peter Yan tak malu menjadi sopir taksi

Peter Yan tak malu menjadi sopir taksi via www.google.co.id

Lulus SMA, pria asal NTT ini memutuskan kuliah di Jerman. Tak ada bayangan apa yang akan dilakukannya. Baginya, saat itu lulus dan diterima kuliah di luar negeri adalah sesuatu yang membanggakan. Selama sepuluh tahun, Peter Yan tinggal di Jerman untuk kuliah. Menurutnya, waktu itu kuliahnya gratis, namun dia harus bekerja untuk memenuhi kehidupannya selama di Jerman. Dia pun menikah dengan gadis Indonesia yang juga berkuliah di Jerman dan telah dikaruniai anak.

Setelah lulus kuliah, Peter Yan pun kembali ke Indonesia untuk menerapkan ilmu yang telah ditimbanya selama sepuluh tahun di Jerman. Dia memulai dengan mempraktikkan ilmu yang diperolehnya di Jerman, yakni membuat desain tata kota. Tahun 1991, Peter dan kedua temannya sudah membuat desain busway seperti yang digunakan saat ini. Namun sayang, Pemprov DKI Jakarta waktu itu belum tertarik untuk menggunakan desain yang diberikan Peter. Ia pun mengaku pernah membuat desain beberapa jalan layang di Jakarta. Peter pun turut membuat desain untuk pembangunan ribuan rumah pasca gempa Aceh pada tahun 2004 silam.

Kisah Peter Yan ini telah diangkat ke sejumlah televisi dan membuat kagum presenter televisi yang mewawancarainya.

Testimoni salah satu presenter yang mewawancarai Peter Yan

Testimoni salah satu presenter yang mewawancarai Peter Yan via www.path.com

Kisah perjalanan Peter Yan yang inspiratif ini membuat sejumlah media penasaran dengan sosoknya. Bahkan, Peter Yan baru-baru ini mulai mucul di televisi. Presenter yang mewawancarainya pun dibuat kagum dengan kerendahan hati dan keikhlasan diri Peter Yan. Seperti yang diungkapkan Andini Effendi, presenter televisi ini menunjukkan kekagumannya pada Peter Yan melalui akun pribadi Path-nya. Andini bertanya kepada Peter, apakah tidak malu menjadi sopir taksi. Dengan santainya Peter Yan menjawab, kalau dia malu dia tidak akan bisa diwawancara di televisi.

“Tuhan itu baik, Mbak…” ujar Peter Yan diakhir jawabannya.

Di samping menjadi sopir taksi, Peter Yan juga masih  menerapkan ilmunya dengan mengajar di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Sopir taksi lulusan Jerman

Sopir taksi lulusan Jerman via www.google.co.id

Beberapa bulan ini, kondisi Peter Yan memang sedang sulit. Usaha yang dikerjakannya bagkrut dan dia kesulitan mencari pekerjaan. Makannya dia pun beralih profesi menjadi sopir taksi. Meski demikian, Peter Yan masih bisa menyalurkan ilmunya. Dia juga menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta, meski itu cuma dianggap sebagai pekerjaan paruh waktunya. Pekerjaannya utamanya tetap sebagai sopir taksi.

Sebenarnya meski menjadi seorang sopir taksi, Peter Yan tetap bisa mengamalkan ilmunya. Kesehariannya sebagai sopir taksi ini membuat dia mengerti daerah mana saja yang macet pada jam tertentu. Peter Yan pun telah memiliki solusi untuk mengatasi daerah-daerah macet yang hampir setiap hari dilaluinya itu.

Kisah Peter Yan ini mengajarkan pada kita bahwa hidup tak selamanya berjalan mulus. Kadang mendapat banyak kenikmatan, tak jarang mendapat cobaan. Peter Yan mengajarkan untuk menerima segala yang diberikan dengan ikhlas dan tetap menjalaninya dengan penuh semangat serta syukur. Tak perlu malu dengan apa yang dikerjakan, selama itu baik, tentu kelak akan berbuah baik.

Kalau Peter Yan yang sudah berumur saja masih semangat menghadapi cobaan, masa kamu yang masih muda dikasih cobaan sedikit aja, udah galau…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya