Kamu yakin kerja disitu? Penghasilan di sana kan kecil lho. Mending ikut Om aja. Masuk PNS.

Terkadang kita suka takut dan menghindar untuk diremehkan dari teman-teman yang tidak terlalu akrab atau orang lain yang tidak terlalu kita kenal. Padahal, acapkali mereka yang sering entah sengaja atau tidak membuat kita “jatuh” atau merasa gagal justru berasal dari keluarga besar sendiri. Bisa saudara dari pihak ibu, ayah atau keduanya. Seringkali cibiran-cibiran mereka cenderung lebih sinis dari orang lain lho, walau diutarakan dengan gaya yang lebih halus dan implisit. Bisa soal karir, asmara, pendidikan, hingga materi. Nah, kira-kira cibiran seperti apa sih yang sering kita dengar dari keluarga sendiri? Yuk!

”Minta Bapak beliin mobil buat kamu lah,  nggak capek tiap hari naik motor?”

Cuma 100 Juta kok! via cdnku01.autobild.co.id

Kasian tuh bapak kamu, udah tua pakai motor!

Keluarga mana sih yang nggak pengen lihat semua anggota keluarganya punya mobil? Tapi, balik lagi. Harga tunai mobil bisa 150-250 juta. Kreditnya? Jangan ditanya. Nggak akan cukup kalau kamu hanya mengandalkan UMR. Tentu, tidak semua keluarga mampu beli mobil. Meskipun begitu, cibiran dari keluarga yang sudah punya mobil pasti akan terus ada sampai kamu punya. Solusinya? Cuekin aja! Kalau perlu semprot pakai oli motor bebek 2 tak

”Boleh lho bilang ke Bapak, beli rumah yang agak besar sedikit. Kalau ada teman atau saudara yang mau parkir jadi susah”

Advertisement

Sempit tahu! via www.ainisastra.com

Kedengaran risih sih kalau ada saudara yang bilang begini. Niatnya sih menyarankan, tapi malah kesan sombong yang lebih banyak tersirat. Hal ini banyak terjadi di keluarga besar manapun. Pengen membalas “Ya sana Tante, parkir di lapangan Gelora Bung Karno tuh luas. Mau buat memarkir pesawat ulang alik juga bisa,” tapi jelas nggak enak.

”Kasihan ya kamu masuk swasta. Makanya belajar yang rajin. Kenapa nggak minta Bapak buat ikut kursus biar bisa masuk Universitas Negeri.”

Kampus apa namanya? Itenas? Dimana tuh via 1.bp.blogspot.com

Setiap anak diberikan kapasitas intelektual yang berbeda-beda. Selain itu juga jelas ada segudang faktor lain yang bisa menentukan apakah kita akan masuk universitas negeri atau swasta. Lagipula yang mana pun sebenarnya nggak masalah. Apakah kita bakal langsung jadi fakir miskin jika masuk universitas swasta? Itu bukan jaminan kesuksesan seseorang. Yang penting jagalah etos menuntut ilmu setinggi-tingginya.

”Sekolah di Indonesia sudah bagus kok. Sudah bisa buat cari kerja. Memangnya kamu bisa bahasa Inggris kok mau ke luar negeri?”

Amerika? via 1.bp.blogspot.com

Nggak ada yang nggak mungkin. Siapa bilang ke luar negeri harus dari kalangan anak pejabat? Tidak. Setiap anak punya mimpi dan cita-cita, maka kesungguhannya lah yang menentukan. Seringkali kita ditertawakan ketika mengutarakan impian kepada orang lain. Mereka melihatnya dari sisi latar belakang keluarga, kemampuan orangtua untuk membiayai, jejak rekam prestasi sekolah kita terdahulu, dan lain-lain. Padahal hari ini ada banyak akses untuk menggapai pendidikan yang setinggi mungkin. Mau dikata TOEFL dan IPK pas-pasan beasiswa tetap bisa didapat di tangan.

Tidak ada kata terlambat pula untuk mengejar ketertinggalan dengan belajar bahasa asing dengan lebih keras.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya