Jakmania Marah Instastories Teza Sumendra

Sejak berpuluh tahun silam, suporter tim sepakbola Tanah Air memang terkenal akan ikatan dukungan dan solidaritas yang kuat, bahkan beberapa tergolong militan. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendukung tim kesayangan mereka. Nggak peduli menang atau kalah, mereka akan selalu ada di barisan terdepan. Begitupun ketika ada yang mencela tim idolanya atau sesama anggota klub suporter  itu sendiri, maka mereka juga nggak segan-segan membuat perhitungan.

Dan hari ini, suporter klub Persija sedang beramai-ramai mengekspresikan kegeramannya. Tim pendukung yang menamakan diri mereka  Jakmania ini meradang setelah menyimak salah satu unggahan penyanyi Indonesia, Teza Sumendra.

Awalnya Teza membuat Instastories yang menunjukan kekesalannya terhadap suporter tim sepakbola Persija yang dianggapnya bikin macet

postingan Teza Sumendra via www.instagram.com

Advertisement

“Keren nih suporter Persija, kalau nggak nyampah, ya bikin macet. How civilized.”

Sejak tadi malam, Jakmania, sebutan untuk suporter Persija, mengungkapkan amarahnya terhadap unggahan Teza tadi. Tidak diketahui rekaman ini diambil di jalan mana, namun memang terlihat Teza sedang terjebak kemacetan, tepatnya di belakang sebuah mobil yang mengangkut para personel Jakmania.

nggak terima via www.instagram.com

Atas unggahan Teza tersebut, nggak sedikit suporter yang merasa tersulut emosinya bahkan turut menambah panasnya hati suporter lain. Sebagian mengeluarkan komentar-komentar ofensif, sebagian lagi mengajak sesama suporter untuk “menyerang” Teza sampai minta maaf. Bahkan, sudah ada yang berencana mendatangi Teza untuk menanyakan langsung motif pernyataannya tersebut.

diajak ketemu via www.instagram.com

Nah, sekarang coba kita renungkan dulu, memangnya benar kalau suporter Persija bikin macet?

persoalan macet jakarta via www.instagram.com

Advertisement

Tidak ada yang menyangkal atau meragukan keluhan seseorang yang bilang “macet” di Jakarta. Jakarta dan macet sudah seperti sinonim.  Tapi tidak adil juga rasanya untuk memposisikan eksistensi suporter klub bola sebagai penyebab kemacetan. Meski seluruh Jakmania berhenti menonton bola di stadion pun mereka tetap akan beraktivitas memenuhi jalanan di Jakarta, sebagaimana semua orang. Meski seluruh Jakmania dipindah ke Bengkulu pun Jalan Sudirman atau Thamrin tetap saja tidak bisa dilewati dengan lancar dan senyum bahagia. Jakarta macet karena padat penduduknya. Jakarta macet karena sistem ekonomi yang terlalu terpusat ke ibukota, sehingga berbondong-bondong orang tetap ke sana mesti sudah dikasih tahu orangtua seberapa gerah, sulit,  dan tidak enaknya tinggal di Jakarta. Jakarta pun macet karena sistem sosial yang seakan-akan membujuk setiap orang harus punya mobil pribadi, padahal garasi saja tidak punya. Jakarta macet karena banyak investor yang mendirikan pusat hiburan dan melakukan pembangunan tidak perlu di mana-mana. Jakarta macet karena banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka adalah bagian dari orang-orang yang berpartisipasi dalam lahirnya kemacetan itu sendiri.

Tentu saja, tidak menampik pula kenyataan bahwa suporter klub bola di Indonesia kadang suka kelewatan dalam mengekspresikan militansinya

setuju sama Teza via www.instagram.com

Di antara komentar-komentar ofensif Jakmania, nggak sedikit juga mereka yang setuju dengan apa yang dikatakan penyanyi berusia 30 tahun ini. Mereka mengamini bahwa apa yang dikatakan Teza adalah semacam ugly truth yang selama ini nggak berani disuarakan oleh orang-orang banyak. Memang tak sedikit kasus-kasus tak terpuji yang didalangi oleh suporter klub bola di Indonesia. Baik yang berskala kriminal maupun sekadar laku-laku yang merugikan masyarakat, termasuk sembarangan dalam berkendara atau berpolah tingkah serampangan di jalanan. Hal ini nih yang perlu menjadi pekerjaan rumah untuk semua suporter bola di Indonesia, tidak cuma Jakmania saja.

Sayangnya, unggahan dari Teza lebih terkesan sebagai ungkapan emosi yang sembrono daripada metode kritik yang layak dipertimbangkan

kultur persebakbolaan tanah air via www.beritasatu.com

Ketika ribuan bahkan puluhan ribu orang berkumpul dalam satu tempat seperti stadion, atau mungkin arak-arakan di jalan, adalah hal yang lumrah jika jalanan akan sedikit lebih macet dari biasanya. Dan ini sudah menjadi bagian dari kultur perayaan sepakbola Tanah Air sejak puluhan tahun silam. Selama mereka tidak melanggar hukum sih sah-sah saja. Maka batasan ini yang perlu dijaga oleh suporter manapun. Mudah-mudahan para suporter Persija juga dapat semakin bijak dalam mengungkapkan segala ekspresi dukungan terhadap klub bola pujaannya.

Sementara untuk orang-orang yang merasa dirugikan dengan aktivitas mereka, sebaiknya lebih taktis dan cerdas dari Teza dalam menyampaikan kritiknya. Harapannya sekarang, para suporter Persija yang marah tidak melakukan hal-hal yang lebih dari ini untuk merespons blunder Teza tersebut. Karena jika mereka berbuat lebih, maka itu malah bisa membenarkan apa yang disampaikan oleh orang-orang yang antipati dengan mereka selama ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya