Hai, muda-mudi di masa yang akan datang!

Aku pemuda-pemudi 2015. Tentu saja, kamu sudah banyak membaca sejarah dan mendengar kisah tentangku. Ya, aku generasi yang labil karena tumbuh dalam masa perubahan. Dulu (baca: Orde baru) banyak di antara kami yang dituntut untuk selalu tunduk dengan beberapa stereotip yang ditanamkan. Eh, mendadak semua itu berubah. Aku boleh bebas menentukan yang memimpinku, aku bisa bebas mengkritik bahkan menghujat yang memimpinku.

Advertisement

Kalau dulu hanya ada segelintir media dan aku langsung yakini kebenarannya, pada 2015 ini ada banyak media dan masing-masing memberikan pemahamannya sendiri. Aku jadi bingung, aku jadi galau. Begitulah, daripada pusing mikirin negara yang nggak selesai-selesai mending aku menggalau karena urusan perasaanku sendiri saja.

Ceritakan padaku, bagaimana pemuda-pemudi di masa yang akan datang? Apakah mereka masih suka marah-marah dengan pemimpin mereka atau bahkan acuh tak acuh dengan politik?

Inilah wajahku

Inilah wajahku via inspirasi.co

Seperti yang kamu tahu, aku sangat suka marah-marah sama pemimpinku. Ada apa-apa sedikit nyinyir, nggak suka dikit mengkritik. Wajar tho kami begitu, kami kan bayar pajak yang dipakai menggaji mereka itu kan ya uangku juga. Ya, walaupun suka telat bayar pajaknya dan lebih mengandalkan pemutihan sih. Yang jelas, aku kepo maksimal dengan seperti apa kehidupan muda-mudi di masamu, masa yang akan datang. Tahu kan ‘kepo’? Apa di masamu ada banyak istilah-istilah gaul macam ini? FYI aja, di masaku, aku banyak menciptakan bahasa baru. Ada ‘baper’, ‘unyu’, dan kata-kata lain yang bisa kamu googling sendiri. Aku kreatif, ‘kan?

Jumlahku sangat amat banyak, maafkan aku kalau itu justru merepotkanmu saat kami tua dan tak lagi produktif.

Jumlahku sangat banyak

Jumlahku sangat banyak via www.tribunnews.com

Konon, pada masaku ini disebut sebagai momentum emas. Ya, itu karena jumlahku yang begitu besar yakni 170 juta, hampir separo dari total jumlah penduduk Indonesia. Secara positif ini disebut momentum emas karena jumlah usia produktif jauh lebih banyak dibanding yang nggak produktif. Kalau aku dan negara dapat memanfaatkannya dengan baik, tentu itu akan jadi kekuatan yang besar di masa yang akan datang. Masanya kamu-kamu nanti.

Advertisement

Namun jika tidak bisa, akan sebaliknya. Bisa terjadi kelemahan untuk masa yang akan datang. Yang akan menanggung ya memang kamu-kamu ini. Bayangkan di masa yang akan datang, kalian harus susah payah menanggungku yang banyak ini dan sudah tidak produktif lagi.

Jangan bandingkan aku dengan seniorku terdahulu, penjajahan yang kami hadapi jelas berbeda.

Memang di zaman dulu nggak ada gadget dan segala macam teknologi yang membuat mereka, para pemuda di zaman dulu, bisa dengan mudah terkoneksi. Bisa dibayangkan bagaimana para pemuda dulu bisa bersatu padu untuk mengusir penjajah dan mengukir sumpah. Di masaku kini, aku dan kaumku memang sangat mudah terkoneksi. Dalam waktu yang bersamaan, aku bisa ngobrol dengan aku lain yang ada di Aceh sampai Papua. Sayangnya, yang kami hadapi jauh lebih rumit dari pada zaman dulu.

Kalau dulu bangsa asing datang dengan kekerasan sehingga pendahuluku secara serempak meneriakkan perang dengan heroik, sementara sekarang aku terlalu dibuat terlena pada semua yang asing-asing itu. Aku katakan, asing-asing itu, karena jumlahnya (sangat) banyak. Mereka membawa buaiannya masing-masing. Ada asing yang membuai dengan kebebasan pemikiran. Ada asing yang menarik perhatian dengan panggung hiburannya. Ada pula asing yang menjajikan kenikmatan surga. Masing-masing dari aku pun memiliki ketertarikan sendiri dan tak jarang kami ribut soal asing mana yang paling baik.

Lagi-lagi, aku harus minta maaf karena kemungkinan besar kamu tidak bisa melihat hutan atau kekayaan alam lainnya.

Entah kamu masih bisa melihat hutan atau tidak

Entah kamu masih bisa melihat hutan atau tidak via nasional.tempo.co

Saat ini, aku sedang mengalami masa yang cukup genting. Terlebih soal lingkungan. Ada yang dengan keras ingin membuat daratan dengan menggusur laut. Ada yang menggali pasir di laut seenaknya. Yang terbaru, ada yang membakar hutan demi membuat perkebunan. Lalu apa yang aku bisa perbuat? Berteriak di sosial media adalah salah satu sarana daripada enggak sama sekali. Dari hati yang paling dalam, aku pun terluka tapi kira-kira apa yang harus aku perbuat selain memenuhi timeline. Mau membela? Bagaimana aku bisa membela sementara untuk membela hidup sendiri saja masih sulit? Wong ditanya ‘kapan lulus?’ ‘kapan punya kerja?’ ‘kapan nikah?’ saja aku langsung kecil hati.

Kembali soal lingkungan, maafkan aku kalau mungkin kamu nggak bisa melihat keindahan alam di Indonesia. Keindahan yang pada masaku sering diinstagramin dengan tagar #exploreindonesia ditambah judul foto nyolot, “jangan di rumah saja, Indonesia itu indah.” Dan setelah foto dengan caption tersebut diposting, jadi nggak indah lagi. Maaf kalau di masamu kamu hanya menikmati itu sebagai sebuah gambar hologram lima dimensi dan sejenisnya.

Sepertinya, akan terlalu banyak kata maaf jika aku menerus-neruskan surat ini. Sebelum kata maaf itu semakin banyak, biarkan aku mencoba memperbaiki semuanya. Untukku sendiri, untuk kamu di masa depan, dan untuk Indonesia.

Salam,

Pemuda Pemudi 2015

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya