Secara umum, manusia diciptakan dengan karakter dan bentuk tubuh yang sama: satu kepala, dua mata, dua tangan, dua kaki dan lain sebagainya. Namun, terdapat hal-hal khusus yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya, yaitu karakter dan sifat. Hal inilah yang penyebab mengapa seringkali ada perbedaan pendapat antara satu dengan yang lainnya.

Namun, pada kenyataannya, perbedaan inilah yang kerap membuat kita bersitegang. Salah ucap sedikit marah, kesenggol dikit ribut. Fenomena ribut-ribut inilah yang secara nggak langsung membuat kita resah dan nggak nyaman melihatnya. Nah, bicara soal ketidaknyamanan, baru-baru ini netizen dihebohkan dengan video seorang kakek yang tersiram aspal setelah berseteru dan seorang pria yang marah-marah kepada polisi.

Bermula dari keresahan akibat pembangunan jalan, seorang Kakek berseteru dengan suami sang lurah yang dikritik. Salah paham doang nggak, sih?

Advertisement

Warganet dihebohkan oleh sebuah video berdurasi sekitar 1 menit 20 detik seorang kakek berlumuran aspal di sekujur tubuhnya. Dinukil dari Liputan6.com, kejadian ini terjadi pada Minggu, (10/12). Kapolsek Bojong, AKP Sugeng Subagyo menjelaskan, saat itu, Kakek Nasor (64) sedang melewati jalan desa yang sedang diaspal dengan sepeda motor. Dia berhenti kemudian mengeluhkan proyek aspal yang terkesan lamban, dan lainnya. Nah, di situlah akhirnya terjadi kesalahpahaman. Rupanya, keluhan si kakek tentang lurah didengar suami Bu Lurah, Imam Rojai (54). Karena nggak terima, keributan nggak bisa dielakan.

“Kontak fisik antara keduanya tak bisa dihindari. Keduanya saling dorong hingga si kakek itu terjatuh ke drum yang berisi aspal panas. Itu saksinya para pekerja,”

Dilansir Tribunnews, Kapolres Tegal, AKBP Heru Sutopo mengatakan bahwa tersangka akan dijerat Pasal 351 KUHP. Tapi saat ini, penyidikan sedang ditingkatkan untuk menentukan apakah tersangka ditahan atau nggak. Jika situasi kurang kondusif, dan mengancam keselamatan tersangka, akan dilakukan penahanan. Heru mengatakan, nggak ada unsur kesengajaan tersangka dalam kasus itu. Pada saat duel dan saling dorong, korban terkena drum yang berisi aspal panas.

Video serupa juga viral dalam waktu yang berdekatan. Seorang pemuda asal Jepara marah-marah kepada polisi dan mengajak berkelahi

Advertisement

"Kesabaran seorang Anggota Polantas Polres Jepara"Sepintas Kronologi : Menerobos Barikade, Diingatkan petugas untuk tidak masuk Barikade CFD tidak mau, disuruh memakai helmnya Tidak Mau, malah melempar puntung rokok ke depan petugas dan diingatkan untuk membuang ke tempat sampah malah memukuli petugas. #viralkan#alun_alunjepara

Posted by Suryo Adi Gunawan on Saturday, 9 December 2017

Setali tiga uang, video pria mengamuk di atas juga viral dalam tenggat waktu yang hampir bersamaan, Minggu (10/12). Dikutip dari Kumparan.com, video yang diunggah akun Facebook Suryo Adi Gunawan ini bermula ketika anggota Satlantas Polres Jepara, Bripka Anton Catur (31), sedang melaksanakan pengamanan Car Free Day (CFD) di alun-alun Jepara. Kemudian, datang Zaenal Abidin (21) membawa motor dan mencoba menerobos barikade yang dipasang di lokasi CFD. Zaenal melawan ketika mendapat peringatan untuk nggak menerobos. Dalam rekaman video berdurasi 1 menit itu terlihat, Zaenal terlihat melakukan pemukulan kepada Bripka Anton.

Maraknya fenomena adu mulut yang berujung pada adu hantam kian hari kian meresahkan. Memangnya harus selalu diselesaikan dengan berkelahi, ya?

perkelahian via metro.co.uk

Dari kedua video viral tersebut, terdapat kesamaan, yaitu emosi laki-laki yang tersulut. Menilik dari akar permasalahan dua kasus tersebut:

  • nggak terima kritik kepada pembangunan jalan dan
  • nggak terima ditertibkan.

Terlepas dari siapa yang salah dan benar dalam dua kasus tersebut, terbersit satu pertanyaan, apakah jalan satu-satunya untuk memecahkan masalah beda pendapat ini harus selalu diselesaikan dengan perkelahian? Nggak, kan?

Secara nggak sadar, selama ini orang-orang selalu menjadikan ‘adu otot‘ sebagai penyelesaian masalah. Khususnya cowok yang memiliki kekuatan fisik lebih dari cewek kerapkali menanggalkan penggunaan akal ketika mendapati suatu masalah, terlebih ketika bersinggungan dengan sesama cowok. Apakah seharusnya memang begitu? Kalau apa-apa harus diselesaikan dengan adu otot apa bedanya kita dengan binatang? Atau memang kita harus kembali ke masa purba yang ‘membudayakan’ hukum rimba? Kita diberi akal untuk memilih, salah satunya adalah memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dan tentu kamu juga sudah tahu kalau perkelahian berdampak buruk pada diri kita.

Perilaku ‘barbar’ ini kian meresahkan karena semakin marak kita temui: di desa, di jalanan, di sepak bola (pengeroyokan wasit), dan sebagainya. Padahal ada cara lain yang lebih manusiawi dan relatif lebih ‘aman’, yaitu dengan rembugan, diomongin secara baik-baik, atau diselesaikan dengan kepala dingin. Nggak perlu sampai ada baku-hantam, apalagi sampai ada yang jadi korban. Intinya adalah kita harus belajar menerima perbedaan pendapat orang lain dan bersabar, meskipun terkadang pendapat kita kurang bisa diterima orang lain. Kita sepakat, ya?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya