Dulu, saya sempat seperti menyublim dalam pelukanmu. Hilang dalam tajamnya tatap matamu. Pulang, bagi saya dulu, sempat berarti kebebasan untuk berbaring di dada atasmu.

Kamu sempat membuat semuanya tampak masuk akal. Bahkan saya bisa tetap tersenyum saat hidup memberi trek cobaan paling terjal. Namun semua jelas berubah saat perasaan ini terpental. Saat kamu memilih pergi, sementara saya tetap tinggal.

1. Terima kasih sudah datang. Bagaimanapun saya bahagia sempat mencintai orang begitu dalam

Bagaimanapun saya bahagia sempat mencintai orang begitu dalam

Bagaimanapun saya bahagia sempat mencintai orang begitu dalam via bridalmusings.com

Advertisement

Kedatanganmu sudah cukup berarti bagi saya. Akhirnya saya mengerti bahwa ada sisi hangat dalam diri yang bisa terbuka dan menerima cinta. Bahkan di waktu yang paling tak terduga. Siapa yang menyangka, saya dan kamu pernah sempat jadi kita?

Walau sekarang kamu sudah tidak di sini saya tetap berterima kasih untuk kehadiranmu di sisi. Paling tidak kini saya yakin. Tanpa berusaha cinta selalu bisa datang sendiri.

2. Terima kasih sudah mengajak saya mencoba berbagai hal baru. Hal-hal absurd yang tak akan saya jajal tanpa kamu

Untuk hal-hal baru yang pernah kita coba. Terima kasih untuk semuanya

Untuk hal-hal baru yang pernah kita coba. Terima kasih untuk semuanya via bridalmusings.com

Kamu mengajak saya naik gunung, main bebek yang perlu digenjot kencang pedalnya sampai kaki pegal, bahkan pergi ke gumuk pasir di siang hari dan berakhir dengan muka terbakar.

Advertisement

Terlalu banyak hal anyar yang menyenangkan di dunia. Kadang kita hanya terlampau nyaman hingga enggan mencoba. Kamu, adalah agen penarik sempurna. Kamu membawa saya ke pintu-pintu baru yang tak pernah terpikir akan saya datangi sebelumnya. Karena kamu hidup saya jadi lebih kaya.

3. Untuk rasa cukup dan dicintai. Untuk debar dalam dada saat kita saling mencari. Terima kasih, kamu pernah hadir di sisi

Terima kasih, kamu pernah hadir di sisi

Terima kasih, kamu pernah hadir di sisi via bridalmusings.com

Sempat ada masa saya tidak percaya bahwa diri ini cukup memenuhi rongga dada seseorang. Saya ini banyak kurang. Ceroboh, pelupa, moody saat pekerjaan sedang banyak-banyaknya.

Tapi kamu — pernah merasa cukup hanya dengan saya.

Kamu membuat saya kembali percaya bahwa apa adanya diri ini bisa diterima. Akan ada orang yang membuka hatinya, menempatkan saya di dalamnya, tak ingin saya pergi ke mana-mana. Saat kita selalu rindu dan ingin bertemu setiap hari — sampai ini momen itu masih manis jika diingat lagi. Terima kasih, kamu sudah menumbuhkan rasa percaya ini.

4. Pelukanmu tak pernah gagal membuat saya tenang. Terima kasih untuk lengan yang selalu ada saat dibutuhkan

Terima kasih untuk lengan yang selalu ada saat dibutuhkan

Terima kasih untuk lengan yang selalu ada saat dibutuhkan via bridalmusings.com

“Saya lelah. Mau nangis. Mau peluk kamu.”

Entah kenapa pelukanmu memang remedy untuk semua jeritan dalam kepala. Anehnya, semanja apapun saya kamu tak pernah berpaling dan mengernyitkan muka. Setiap rasa tidak mampu datang, lenganmu merengkuh saya dan memberikan rasa tenang.

“Tenggelamlah dalam dadaku lama. Saya tidak akan pergi ke mana-mana”, katamu pada suatu masa. Dan saya sempat percaya.

5. Kecup di kening, ciuman singkat di bibir, beberapa sentuh yang membuka tabir. Terima kasih sudah membuat rasa canggung minggir

Kamu membuat semua rasa canggung minggir

Kamu membuat semua rasa canggung minggir via bridalmusings.com

Baru bersamamu saya berani menunjukkan sisi terjujur dari diri. Kamu lah orang yang pertama tahu kalau stress relieve saya adalah makan mie goreng, pakai nasi, sambil tengkurap pula. Saat mendengarnya kamu jelas mengolok saya. Tapi toh akhirnya mengacak gemas rambut dan tetap menerima.

Terima kasih untuk semua kecup di dahi, ciuman singkat yang masih tersisa getarnya sampai hari ini. Terima kasih kehangatanmu sempat membuat rasa canggung itu pergi.

6. Ayah , Ibu, bahkan anjing kecilmu itu baik sekali. Terima kasih sudah mengajarkan level baru dalam mencintai

Kamu mengajarkan saya level baru dalam mencintai.

Kamu mengajarkan saya level baru dalam mencintai. via bridalmusings.com

Kamu membukakan pintu baru soal ikatan dalam kehidupan saya. Ternyata rasa sayang itu bisa melebar — dari dua kepala, ke dua keluargam hingga merembet ke binatang peliharaan kita. Ayah, Ibu, dan Kakakmu sudah seperti keluarga baru.

Pernahkan saya bilang kalau saya juga jatuh hati pada anjing kecilmu? Sungguh, terima kasih untuk hal-hal kecil itu.

7. Terima kasih sudah menunjukkan bahwa perasaan bisa berubah jika tak diperjuangkan. Kelak semoga kita tidak mengulangi kesalahan

Kelak, semoga kita tidak mengulangi kesalahan

Kelak, semoga kita tidak mengulangi kesalahan via bridalmusings.com

Kamu lelah. Saya juga sudah terlalu lama berkubang dalam kebingungan dan resah. Sayangnya kita memilih jalan yang membuat semuanya berubah.

Alih-alih lebih banyak menghabiskan waktu bersama demi mengurai segalanya kita malah mencari pelarian di luar ke-kita-an yang sudah ada. Kamu membenamkan diri dalam keriaan bersama kawan-kawanmu. Sementara saya memilih menenggelamkan diri dalam rentetan pekerjaan yang seperti tak bisa menunggu.

Kita menjauh, karena tidak cukup berjuang dengan peluh. Di masa depan semoga kesalahan ini tak lagi membuat hubungan kita selanjutnya runtuh.

8. Karena kamu saya pernah menangis dan memeluk diri sendiri. Terima kasih telah mengajarkan bagaimana berdamai dengan nyeri

Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana berdamai dengan nyeri

Terima kasih sudah mengajarkan bagaimana berdamai dengan nyeri via bridalmusings.com

Perasaan ini memang brengsek sekali. Selepas kamu pergi ada malam-malam panjang yang memaksa saya menangis sembari memeluk diri sendiri. Ada bayangan kenangan kita, tempat kita biasa makan bersama. bagaimana kita biasa saling menghampiri sepulang kerja, sampai soal pelukan lama yang membuat kewarasan kembali ke kepala.

Kepergianmu mengajarkan saya satu hal.

Patah hati harus dihadapi sendiri. Menyembuhkan diri mesti dilalui dalam sepi.

Terima kasih sudah pernah datang, lalu pergi. Kamu mengajarkan saya banyak hal soal nyeri.

9. Melihatmu mampu melangkah lebih dulu jelas menyisakan sembilu. Terima kasih sudah memberi kesempatan membuktikan bahwa saya setangguh itu

Kamu pergi. Saya menangguhkan diri

Kamu pergi. Saya menangguhkan diri via bridalmusings.com

Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan mampu melihatmu bersanding secepat itu dengan dia yang baru. Dia, yang ternyata sudah kau gadang-gadang jadi penggantiku jauh sebelum kita tak lagi jadi satu.

Kamu perlu tahu bagaimana saya melakukan apapun untuk menenangkan diri. Kamu sempat saya unfriend di berbagai sosial media. Nomormu saya hapus agar keinginan menghubungi tak lagi muncul di kepala. Hubungan dengan kawan dan keluargamu juga sempat saya jauhi cukup lama.

Namun hal itu membuat saya menyadari satu hal. Ternyata kita punya ketangguhan yang hanya bisa keluar saat sakit sudah tak tertahan. Meski beberapa saat hati ini terasa bebal, toh buktinya saya bertahan.

10. Terima kasih sudah membuat saya jatuh cinta lalu pergi. Ternyata tanpa kamu pun hidup tetap bisa dihadapi

Ternyata tanpa kamu pun hidup tetap bisa dihadapi

Ternyata tanpa kamu pun hidup tetap bisa dihadapi via bridalmusings.com

Tidak. Hanya karena pernah kamu tinggalkan saya tidak akan takut kembali menitipkan perasaan. Kamu memang satu episode yang gagal. Tapi kamu pula yang membuat hati ini lebih tangguh dan pejal.

Hidup saya sempat bergulir mulus sebelum ada kamu. Lihat saja. Saya juga akan tetap sebaik itu — bahkan selepas kamu pergi.

Terima kasih sudah pernah datang. Sekarang perjalan kita tak lagi ada dalam satu lintasan. Selamat jalan. Saya tak pernah mengharap kamu kembali dan menawarkan perasaan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya