Kata orang, cinta yang paling berkesan itu saat masih SMA. Apalagi kalau berhasil pacaran sama kakak kelas yang anak basket, aktif OSIS, atau yang punya predikat biang masalah semasa sekolah. Rasanya seperti kamu jadi orang paling bangga dan beruntung di antara teman-temanmu saat disamperin ke kelas untuk sekadar makan siang.

Namun pacaran semasa SMA rasanya belum ada apa-apanya dibandingkan saat kamu kuliah. Sebab nggak hanya rasa bangga dan paling beruntung saja yang kamu rasa ketika menyandang status not available di kampus biru. Lebih dari itu, pacaran pas lagi kuliah itu seru dan menyenangkan! Nggak hanya berantemnya yang seru, tapi saat cemburu, menakar rindu, sampai sama-sama mendukung mimpi pun seakan menjadi nafas buat kalian. Nggak heran, cinta yang bersemi di kampus biru ini layak kamu beri kesempatan untuk berkembang dan terus tumbuh hingga masa depan. Bahkan sampai mimpi kalian hanya tersisa menua dan menikmati sisa umur bersama.

1. Pacaran semasa kuliah itu banyak improvisasi. Maklumlah kalian sama-sama berjiwa muda yang masih suka mencoba sana-sini

Hubungan kalian penuh improvisasi via www.pexels.com

Advertisement

Bosan karena libur semester yang terlalu lama, kalian siasati dengan cari wisata murah meriah di penjuru kota. Pening dengan tugas kuliah pun kalian obati dengan sama-sama mencari acara musik murah meriah yang ada. Pokoknya selama masih bisa menekan uang jajan tapi tetap bisa senang-senang, segala improvisasi kalian lakukan. Ibarat mengamini lirik lagu Bang Roma ‘masa muda, masa yang berapi-api’ kalian berdua selalu punya cara mencari kesenangan kalian sendiri. Inilah yang menyebabkan pacaran semasa kuliah seperti punya gregetnya sendiri. Pun tak perlu resah karena orangtua melarang. Tarena pacaran di masa kuliah memang hal yang wajar.

2. Nggak ada yang lebih seru daripada bayar patungan atau gantian tiap habis jalan. Dari sana kalian mulai paham strategi mengatur keuangan dalam hubungan

Patungan memang lebih menyenangkan via www.pexels.com

Nontonnya bayarin dulu ya? Nanti jajannya aku aja yang bayar, Yang!

Kalimat penuh strategi ini kerap kamu lontarkan. Bukannya sok hidup irit, tapi nyatanya dari hubungan ini kamu belajar banyak soal mengatur keuangan dalam hubungan. Kamu tak mau sok-sokan selalu menjadi ATM berjalan. Toh sebagian biaya hidupmu masih ditanggung kedua orangtuamu. Kamu hanya mau hubungan ini tetap berjalan, cinta kalian tetap berkembang meski setiap kali jalan kamu dan dia harus patungan atau gantian bayar.

Advertisement

Bukankah hal seperti ini yang buat kalian semakin dekat dan kelak akan tetap bermanfaat?

3. Kecup dan peluk  mulai punya arti yang lebih dalam dalam episode ini. Apalagi ketika brengseknya kehidupan mulai dialami

Kecup dan peluknya punya makna lebih dalam via www.instagram.com

Kalau dipikir-pikir lagi, ada banyak hal yang berhubungan dengan kecup dan peluk ketika SMA yang bikin kamu bergidik geli. Seperti kalau nggak mau dipeluk berarti nggak sayang atau kalau sungkan dikecup di pipi berarti nggak benar-benar mencintai. Namun saat kalian udah kuliah, kecup dan peluk punya makna yang lebih dalam lagi. Bukan lagi sebagai tanda cinta, tapi mampu bangkitkan semangat setelah sama-sama payah menghadapi dunia yang makin sulit saja dijalani.

Sini aku peluk dulu. Gagal di mata kuliah ini bukan berarti kamu nggak bakal lulus kok. Kan masih bisa ngulang tahun depan!

4. Pacaran sembari sama-sama merajut mimpi selalu punya gregetnya sendiri. Rasanya tak ada yang bisa mengalahkan hubungan di masa ini

Punya gregetnya sendiri saat pacaran di masa ini via www.pexels.com

Semasa kuliah, ada banyak mimpimu yang berusaha diwujudkan. Mau masuk BEM, jadi asisten dosen sampai ikut pertukaran pelajar barang sekali dalam empat tahun perkuliahan. Hal yang sama pun dialami pacarmu. Ambisinya untuk bikin event terbesar di kampus tak bisa dibendung. Pun inginnya lulus tepat waktu dan melanjutkan S2 dengan beasiswa, kedua hal itu selalu ada di obrolan kalian berdua. Pacaran sembari merajut mimpi seperti ini memang perlu pintar-pintarnya mengatur waktu. Meski terlihat melelahkan, tapi kalian justru merasa tertantang. Hubungan ini jadi berjalan jauh lebih menyenangkan daripada hanya sekadar sayang-sayangan.

5. Meski ego masih meluap-luap di masa ini, tapi selalu ada alasan kalian untuk saling kembali. Inilah seninya pacaran semasa kuliah yang mungkin belum kamu sadari

Selalu punya alasan untuk saling kembali via www.pexels.com

Darah muda yang mengalir di nadi kalian memang tak bisa begitu saja melenyapkan ego. Aksi diam-diaman dan marahan pun masih meluap berkali-kali. Namun meski hal kekanakan masih sering terjadi, kalian seakan punya sejuta alasan untuk tetap kembali. Apalagi ketika kamu dan dia sudah menjalin hubungan ini cukup lama. Barang marahan, baikan, lalu marahan lagi tak pernah menjadi soal dan malah bisa mendekatkan kalian.

6. Sebab kuliah adalah masa pendewasaan. Kalian yang saling menemani di momen ini kelak akan punya fondasi yang lebih kuat

Saling menemani di masa ini buat hubungan kalian makin kuat menjulang tinggi via www.pexels.com

Hidup sendiri di perantauan dan jauh dari orangtua buat kalian pelan-pelan menjadi dewasa. Baik secara pikiran maupun perbuatan. Kini kamu dan dia tak bisa selalu mengandalkan orangtua. Pun kalian tak bisa semena-mena mengambil keputusan tanpa tahu risikonya. Susah memang dijalani, apalagi kalian juga tengah membangun hubungan yang bisa dibilang masih rapuh ini.

Namun kalian yang saling menemani di momen pendewasaan diri iri punya kesempatan sendiri. Kesempatan untuk lebih saling mengenal dan menguatkan, sehingga kelak fondasi hubungan makin mantap dari segala terpaan.

Meski setiap hubungan punya peluang untuk bubaran, tapi hubungan semasa kuliah ini tetap punya kelayakan untuk dipertahankan sampai nanti. Bukankah hidupmu akan lebih seru ketika di pelaminan nanti, seseorang yang kamu gandeng adalah partner-mu wisata kuliner saat kuliah?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya