Curahan hati anak pertama

Semasa kecil, anak pertama selalu menerima perhatian penuh dan kasih sayang orangtua. Ketika ingin sesuatu, orangtua pasti berusaha menurutinya. Ingin mainan, makanan, jalan-jalan dan lain sebagainnya permintaan itu selalu jadi pertimbangan utama. Belum lagi ketika sanak saudara berkunjung ke rumah, seringnya jadi pusat perhatian banyak orang.

Sekilas menjalani hidup sebagai anak pertama selalu menyenangkan dan mudah. Boleh jadi memang benar menyenangkan, namun semua kesenangan itu akan berubah ketika memiliki adik. Semua perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terbelah menjadi dua–cenderung lebih banyak kepada yang lebih muda. Apalagi ketika sudah beranjak dewasa keberadaannya kerap kali dilupakan. Nah sebagai bahan perenungan, berikut ini adalah 6 hal yang ada dalam pikiran anak pertama. Sejatinya telah paham posisi dirinya, namun anak pertama pun manusia yang acapkali ingin dipahami dan diperhatikan.

1. Jangan terlalu membebankan semua kebaikan pada kami, justru karena itu kami terbebani

Kami merasa terbebani via www.pexels.com

Advertisement

Kami paham posisi bahwa kami sudah dewasa dan memiliki adik maka kami mesti menjaga diri untuk selalu berlaku baik agar bisa menjadi panutan. Namun kami tetaplah manusia. Kami tidak sempurna, yang bisa kapan saja membuat kesalahan. Terus terang kami suka sebal ketika kami berbuat kesalahan dan posisi kami sebagai anak pertama selalu dibawa-bawa.

Sejatinya kami tidak berkeberatan untuk dijadikan panutan, namun hendaknya kalian mengerti juga bahwa terlalu memaksakan kami menjadi sosok selalu bertindak baik dan benar membuat kami tak nyaman. Kami sudah berusaha menjadi baik tanpa perlu kalian suruh. Namun ketika kami melakukan kesalahan tolong dimaafkan dan jangan buat kami tertekan.

2. Jangan banding-bandingkan kami dengan orang lain, tiap orang berbeda watak dan perilaku

Jangan mengkomparasi kami via www.pexels.com

Yang menyebalkan menjadi anak pertama adalah ketika kami selalu dibanding-bandingkan dengan anak pertama lainnya. Ketika orang tua menasehati kami acapkali ada embel-embel “coba lihat si Galih, ia sudah bisa cari uang sendiri”, “lihat Ajeng, ia jadi PNS sekarang”. Kami paham bahwa menjadi sukses adalah yang kalian inginkan, kami pun juga begitu. Namun jalan hidup seseorang berbeda-beda. Kami berbeda dengan mereka. Kami punya kesukaan, hobi dan cita-cita yang berbeda dengan mereka. Maka dari itu tak bisa serta merta kami sama seperti mereka.

3. Kami memiliki impian sendiri, jangan tuntut kami meraih yang orangtua ingini

Kami punya impian sendiri via www.pexels.com

Advertisement

Hal lain yang kerap membuat kami jemu adalah selalu dibebani oleh keinginan orang tua untuk menjadi ini dan itu. Kami paham bahwa orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya tapi obsesi untuk melihat kami menjadi seperti ini dan itu membuat kami tertekan. Ma, Pa, kami punya keinginan dan impian sendiri yang kami ingin wujudkan. Kalau ingin melihat kami bahagia cukup dukung kami meraih apa yang kami ingini, bukan sebaliknya.

4. Kami bukan anak kecil lagi yang harus dipantau. Sebab Kami pun bisa membedakan mana yang baik dan buruk

Kami bukan anak-anak lagi via www.pexels.com

Sebenarnya tak ada yang salah dari orang tua mengkhawatirkan anaknya. Kami paham bahwa hal itu meruakan hal yang wajar. Tapi entah mengapa terkadang ada-ada saja hal yang sepele namun dikhawatirkan secara berlebihan. Kami sudah besar dan sudah bisa menjaga diri. Kami pun juga paham mana yang baik buat kami dan mana yang tidak. Cukup percaya saja kepada kami.

5. Kami paham kalian sudah ingin menimang cucu. Tapi kami masih punya keinginan lain yang harus dikejar, ialah karir yang membanggakan

Kami ingin meniti karir terlebih dahulu via www.pexels.com

Pertanyaan klise yang sering kami peroleh dan malas kami jawab adalah “kapan nikah“. Bukan apa-apa, siapa sih yang tidak mau menikah, punya anak-anak lucu dan menggemaskan? Kami jelas mau menikah, tapi saat ini kami merasa belum siap baik secara jasmani dan rohani. Kami masih merasa belum becus mengurusi diri sendiri, kami masih merasa perlu banyak belajar. Tenang saja, sampai waktunya tiba nanti kami pasti akan menikah. Ya, nanti… setelah kami meraih karir seperti yang kami ingini. Harap bersabar

6. Maafkan anakmu yang belum bisa jadi seperti yang bapak dan ibu ingini. Tapi kami janji akan meraih sukses dengan cara kami sendiri

Harap bersabar via www.pexels.com

Sampai saat ini kami merasa belum bisa membanggakan dan membahagiakan orang tua. Kami akan senantiasa berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi kalian. Meskipun kami kerap mengabaikan saran dan keinginan kalian, tapi bukan berarti kami tidak menyayangi kalian. Kami hanya ingin berhasil dengan cara dan sesuatu yang benar-benar kami inginkan. Tunggu saja sebentar lagi kami akan berhasil dan membuat kalian bangga.

Menjalani hidup sebagai anak pertama boleh dibilang susah-susah gampang. Kami paham itu sudah menjadi resiko kami sebagai anak pertama. Namun semua uneg-uneg ini juga perlu kalian pertimbangkan demi kenyamanan hubungan. Mama, Papa, terima kasih atas semua perjuangan dan kasih sayang yang orang tua berikan kepada kami, kami akan membalasnya suatu saat nanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya