Dalam sebuah hubungan, romantisme, perselisihan, dan rasa bosan tak jarang akan selalu hadir sewaktu-waktu. Tanpa bumbu-bumbu tersebut, jalinan kasihmu dengan dia pasti akan dibuat hambar dan flat. Saat kamu dilanda rasa yang kurang menyenangkan, mungkin akan terbesit di pikiranmu untuk mengakhiri hubungan dengan pasanganmu. Satu kata tabu, putus.

Namun sebelum kamu memutuskan untuk mengakhiri romansamu dengannya, sebaiknya kamu memikirkan beberapa hal sebagai bahan pertimbangan. Jangan sampai kamu membuat keputusan gegabah yang nantinya akan membuatmu menyesal. Mumpung kata ‘putus’ masih belum terlontar, luangkan waktu sejenak untuk memikirkan hal-hal ini, ya!

1. Pertimbangkan sudah berapa lama kalian bersama. Kalau putus, apa sepadan dengan investasi perasaan dan waktunya?

Tidak sayang telah habiskan waktu via favim.com

Menghabiskan waktu untuk berkomitmen dengan seseorang bukanlah perkara yang gampang. Mau nggak mau, kamu harus menjadikannya sebagai salah satu prioritas utamamu. Kenyataannya, kamu sudah menjalin hubungan spesial selama bertahun-tahun bersama dia. Anggap saja sudah 2 tahun. Apakah kenangan dari asam manis hubungan kalian akan terhapus dengan mudahnya?

Semakin lama bersamanya, perasaan terhadap satu sama lain pun akan semakin dalam. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakannya. Semua itu akan menjadi percuma. Nggak ada gunanya kamu menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran buatnya kalau ujung-ujungnya hanya akan menjadi mantanmu.

2. Walau nggak sempurna, orang ini sudah menemanimu berubah. Kamu perlu ingat kalau berjuang sendirian itu lebih lelah.

Advertisement

Memilih sendiri lebih melelahkan via www.lovethispic.com

Menjalin hubungan satu tingkat lebih serius di atas teman, yang bukan sekedar mempersoalkan tentang status. Disadari atau tidak, kalian memahami sikap dan perilaku masing-masing. Nggak jarang kalian pun berubah buat sama-sama jadi lebih baik. Dia memang bukan yang sempurna, tapi perlu kamu sadari bahwa berjuang untuk berubah lebih baik sendirian itu lebih melelahkan. Coba kamu tanyakan pada lubuk hatimu yang terdalam, apa kamu sudah siap buat berjuang sendirian yang pastinya melelahkan?

3. Bayangkan apa yang sudah kalian hadapi berdua. Yakin kamu bisa dapat partner yang lebih baik di luar sana?

Momen suka kalian lewati dengan bersama, tak jarang saat-saat duka juga telah kalian hadapi berdua. Kehadiran dan dukungan kalian saling mengisi untuk satu sama lain. Saat kamu lagi sakit, dia tidak pamrih untuk repot-repot membelikan makanan buat kamu. Kadang, saat kamu lagi nggak punya uang, dengan senang hati dia meminjamka uang supaya kamu nggak kesusahan selama beberapa hari ke depan. Sosok yang seperti itu nggak akan kamu temukan dalam satu malam. Kalau kamu putus sama dia, apa kamu bener-bener yakin akan dapet partner yang lebih dari dia?

4. Hubungan ini bukan cuma kamu dan dia, tapi juga soal keluarga. Bagaimana perasaan mereka jika kalian tak lagi bersama?

Saat main bersama adiknya… via indulgy.com

Tidak semua orang bisa sesupel kamu atau pasanganmu. Bisa mengakrabkan diri dengan keluarga adalah sebuah prestasi tersendiri. Secara nggak langsung, kamu sudah mendapat restu untuk bisa dekat dengan anaknya, walaupun masih dalam tahap pacaran. Di suatu waktu, mungkin kamu dan adiknya sudah akrab dan sering jalan keluar bersama. Bayangkan apa yang mereka rasakan kalau kamu sudah putus dengannya. Perasaan sedih pasti ada, karena orangtua mereka sudah kehilangan salah satu anak kesayangannya. Mungkin, Ibunya akan kirim pesan padamu…

Nak, kamu lagi sibuk ya? Kok udah jarang main ke rumah?

Apa kamu sudah bisa menerima hal itu nantinya?

5. Selama ini kamu sudah terbiasa dengan kehadirannya, apa kamu siap tiba-tiba kehilangan sosok pasanganmu seutuhnya?

Sendirian…. via www.duitang.com

Menghabiskan sebagian waktumu dengannya sudah jadi rutinitasmu. Kadang, intensitas pertemuanmu dengan dia lebih sering daripada kamu sama orangtua. Pesan atau chat di hp-mu sebagian besar juga dari dia. Saat kamu putus,
semua intensitas itu akan berkurang, berawal dari selalu, jarang, dan berakhir ke lost contact. Kamu pun akan jarang bertemu dia lagi. Mantapkan hatimu, tanyakan pada diri sendiri. Apa kamu siap ditinggalkan dan kehilangan sosoknya selamanya?

6. Komitmen yang kalian jalani sudah serius. Cicilan KPR, tabungan pernikahan, dan harta gono-gini lainnya akan kamu apakan? Biarkan begitu saja?

Rumah masa depan kita gimana? via thisoldhouse.tumblr.com

Dalam hubungan yang sudah tidak mementingkan ego, kalian sudah memiliki komitmen yang kuat untuk menikah. Kalian berdua sudah bersusah payah menyisihkan sebagian dari jumlah gaji untuk biaya pernikahan, cicilan KPR,
dan keperluan lainnya. Ketika kalian mengakhiri hubungan ini, hal-hal yang telah kalian siapkan ini akan dibawa kemana? Dibagi dua atau diberikan ke salah satu pihak? Suasana akan jadi awkward, ‘kan?

7. Yakin diri sendiri dan siapkan hatimu dulu. Bagaimana kalau ternyata dia lebih cepat move-on dan dapat pasangan yang lebih OK daripada kamu?

Saat berpisah… via aezuum.com

Putus memiliki arti menghentikan segala hal yang berhubungan dengannya. Kamu pun bebas untuk menjalin hubungan yang lebih dari teman bersama orang lain. Tapi, putus bukan berarti sudah move on. Move on itu butuh usaha ekstra, kamu tahu ‘kan. Yakinkan dirimu, apa kamu bisa move on dari segala hal yang berhubungan dengan dia? Apa kamu siap menerima kenyataan kalau ternyata dia lebih cepat move on daripada kamu. Sudah siap mental menerima kenyataan kalau pacarnya nantinya lebih OK daripada kamu?

Kalau dari pertimbangan di atas belum bisa kamu dapatkan jawaban yang memuaskan, lebih baik kamu urungkan dulu niat itu. Berikan waktu dan ruang untukmu memikirkan hal ini. Kalau ternyata dia adalah anugerah Tuhan yang memang sudah ditakdirkan buat kamu, pertahankan. Akan selalu ada jalan keluar kalau kamu mau berusaha untuk bertahan dan memperbaiki diri. (migmegalau)