Jadi anak bungsu aslinya tak selalu menyenangkan, ada memang senangnya tapi ada juga kesalnya. Bukan tak bersyukur, tapi memang ada saja hal yang bikin emosi. Punya kakak yang tiap hari usil, tiap apa yang mau dilakukan adiknya pasti diawali dengan omelan. Entah kenapa mereka bersikap seperti itu, padahal katanya mereka sayang dengan adiknya ini. Senangnya jadi anak bungsu ya cuma-cuma itu saja, sering dimanja dan dikasih kelonggaran dalam beberapa peraturan di rumah. Tapi, sebenarnya bukan itu yang kami inginkan.

Jadi anak bungsu katanya bisa enak-enakan? Kata siapa? jadi anak bungsu tak lantas membuat kami kebal dengan omelan. Karena perbedaan usia membuat mereka kurang memahami kalau zaman mereka dengan kami berbeda. Bisa dibilang mereka agak kolot dalam beberapa hal. Seperti saat kami cuma ingin berlaku seperti anak muda seusia diri ini, tapi kata mereka sudah kelewat batas. Banyak yang aslinya kami inginkan, bukan menuntut tapi sepertinya keluargamu harus terbuka pikirannya menanggapi apa maunya diri ini.

1. Nggak perlu dimanja, kami anak bungsu tuh bisa kok buat hidup mandiri

Kami berani kok via unsplash.com

Advertisement

Beberapa anggota keluargamu berpikir kami lemah, nggak siap hidup di luar rumah. Padahal kami selalu ingat pesan mereka, “jadi anak tuh yang mandiri,” bagaimana bisa mandiri kalau apa-apa selalu dibantu. Kami nggak terlalu suka dimanja, itu membuat para anak bungsu bergantung ke orang lain. Pokoknya mulai dari sekarang harusnya mereka mengerti kalau kami bisa dan kuat hidup mandiri.

2. Pengen beli-beli baju dan perlengkapan sendiri, nggak perlu lagi dapat warisan dari kakak

Pengen punya barang pribadi sendiri via unsplash.com

Paling memuakkan adalah ketika semua barang sampai pakaian itu hasil warisan kakak. Dengan bijaknya mereka berkata kalau semua barang yang masih layak pakai harus dimanfaatkan dengan baik, terus deh dikasihkan ke anak bungsu. Memangnya kami nggak mau barang baru? Kami itu juga pengen dapat baju baru atau barang kesenangan kami. Lagian semua model baju atau barang-barang itu kesannya sudah kuno banget.

3. Jangan bandingin sama kakak, anak bungsu punya cita-cita dan keinginan pribadi

Kami punya cita-cita sendiri via unsplash.com

Iya, kakak memang sukses karena kerajinannya, prestasinya juga bukan main banyaknya. Tapi ingat, sekali-kali percayakan pada kami, kami juga punya cita-cita. Jadi, jangan selalu bandingkan kami dengan kakak, anak bontot bisa berjuang dan nggak perlu harus mirip kakak. Pastinya, kami punya kemampuan unik tersendiri yang nggak dimiliki para kakak.

4. Jangan selalu melarang apa yang jadi keputusan kamu, karena diri ini pun ingin mengeksplor banyak hal demi sebuah pengalaman

Kami mau berpetualang via unsplash.com

Advertisement

Lihat, kakak memang sukses, dia sukses karena nggak terkekang dengan aturan yang ribet seperti aturan yang dilimpahkan ke kami. Selain itu, kami juga memiliki banyak sekali rencana, dan mirisnya selalu gagal karena sering mereka larang. Kami punya tujuan, apa yang kami putuskan pasti menjadi pengalaman berharga buat kami.

5. Ya! Kamu memang nggak mau main aman, kami suka tantangan jadi jangan khawatir berlebihan

Kami suka tantangan, jangan khawatir berlebihan dong via unsplash.com

Mereka sudah berlebihan, memanjakan kami seperti bayi yang rentan segala ancaman. Mereka menutup mata buat memercayai kami melakukan banyak hal. Kami suka tantangan, kami ingin ada hal menarik yang kami temukan. Jadi hentikan kekhawatiran yang berlebih, anak bungsu bisa menentukan jalan dan menyambut tantangan masa depan.

6. Kami bisa menabung kok, kalau memang uang sering habis ya itu karena kebutuhan kami banyak

Kami bisa menabung kok, percaya sih via unsplash.com

Kata siapa kami boros? Mereka selalu curiga kenapa seringkali uang habis, padahal kami punya alasan kuat buat menjawabnya. Semua harga di masa remaja kami melonjak tinggi, jadi jangan sama ratakan dengan di generasi kalian. Kami bisa menabung kok, tapi jujur saja memang banyak banget kebutuhan yang harus segera dipenuhi sebagai seorang anak bungsu.

7. Kami juga punya semangat dan pemberani, jadi jangan suka menganggap remeh

Kami bisa dan pantang menyerah, jangan remehkan kami via unsplash.com

Mereka sering kali meremehkan, mereka bilang kami cengeng. Mereka sudah kelewatan nih, tangis dari anak bungsu itu jujur, penuh dengan rasa sakit. Kami bukan cengeng, kami hanya perasa dan punya rasa empati tinggi. Jadi saat kami menangis, memang kami rasa perlu melakukan itu karena kamu terbawa emosi. Mungkin malah mereka yang jarang nangis ternyata mati rasa.

8. Kadang terbesit keinginan punya adik, biar tahu rasanya jadi seorang kakak seperti apa

Gimana rasanya jadi kakak ya via unsplash.com

Pokoknya jadi anak bungsu pasti ada susahnya. Nah, kesusahan ini bisa tercermin dari banyak hal, kadang malah terbersit pengen punya adik biar tahu rasanya jadi seorang kakak. Kalau seandainya kami punya adik, pasti kami menghindari cara mendidik seperti yang dilakukan kakak-kakak kami.

Punya kakak yang pengertian sungguh jadi idaman, apa pun yang kamu lakukan pasti didukung. Beda banget dengan kakak satu ini, sudah kerjaannya mengomel kadang ada saja kelakuan buruknya yang terpaksa kami tutupi. Harusnya yang menerima pengawasan lebih dari orang tua tuh bukan anak bungsu, melainkan para kakak yang kadang semaunya sendiri memperlakukan adiknya. Dikira kami senang terus-terusan diusili dan jadi korban bercandaan mereka? Pengen marah pasti dimarahi, pengen nangis juga dibilang cengeng.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya