Baru kali ini aku ingin jadi manusia pelupa tingkat dewa. Jika perlu akan kupencet seluruh tombol “Hapus” dan “Discard” yang ada di dunia. Demi satu tujuan yang menurutku mulia — kau segera hilang dari kepala. 

Kau perlu tahu, kau yang terus bercokol di kepalaku sudah mulai mengganggu. Bayanganmu yang tak tahu diri itu tak kunjung mau pergi meski sudah berkali-kali disapu. Bahkan ia tak mempan diusir pergi dengan kehadiran orang baru.

Advertisement

Bahkan setelah kita tak lagi jadi satu, kamu tetap sebrengsek itu. Kepergianmu menyisakan gembok imajiner di kakiku. Membuatku tertambat pada kenangan kita dulu, yang sampai hari ini masih mencipta kelabu.

Tapi jangan tinggi hati dulu. Buatku kau sudah tak lagi sepenting itu. Bahkan dihantam amnesia pun aku mau. Selama itu membantuku untuk bisa melupakanmu.

Lepas darimu membuatku mengerti betapa dulu kau tak menghargaiku. Dan aku jelas layak untuk sesuatu yang lebih baik dari itu

Aku jelas layak untuk diperlakukan lebih baik dari kamu dulu

Aku jelas layak untuk diperlakukan lebih baik dari kamu dulu via sdphotography.co.uk

Demimu yang ternyata tak punya hati — dulu pernah kuturunkan standarku sendiri. Apapun yang kau mau kuamini. Kepentinganmu bertransformasi jadi petunjuk yang harus diikuti. Harus kuakui, aku sempat sedalam itu menitipkan hati. Memilih tak mau peduli pada peringatan orang-orang yang menyayangi.

Advertisement

Karenamu aku sempat berlindung di balik alasan: “Setiap orang punya cara mencintai yang berbeda.” Dan caramu yang tampak semena-mena bisa jadi salah satunya. Last minute cancelation pada kencan kita, alasan-alasanmu supaya kau bisa tetap mendekati gadis lain yang mulai membuatmu jatuh cinta jadi rasional di mata.

Sedalam itu kamu sempat menyakiti saya.

Aku tidak langsung kuat dalam semalam setelah lepas dari ikatan kita. Sempat kurasa tak lagi bisa menemukan cinta. Jadi orang dungu yang percaya kamu pasangan terbaik yang bisa ditawarkan dunia.

Sementara kamu menggenggam tangan gadis yang sudah kau siapkan jadi penggantiku sebelumnya, tengah malamku terasa lebih menyiksa. Namun dari situ aku tahu bahwa kau tak pernah menghargai rasa. Dan tak sepantasnya cecunguk macammu diberi hak mengacaukan hidup saya.

Jangan percaya diri dulu karena merasa sangat dicinta. Kita sempat menjalani sekian lipatan hidup bersama. Wajar ‘kan aku tak langsung lupa?

Wajar saja 'kan aku tak langsung lupa?

Wajar saja ‘kan aku tak langsung lupa? via wephotographie.com

Boleh jadi kau temukan kicauan randomku yang terkesan biru dan mendayu karenamu. Jika bertanya pada kawan-kawanku kau pun bisa menemukan fakta betapa kosongnya hatiku selepas tak lagi bersamamu. Tapi jangan busungkan dadamu dulu. Untukku, setelah semua yang kau lakukan padaku — kau tak lagi seberharga itu.

Otakku bukan operation system yang seenaknya bisa di upgrade dan di instal ulang. Sebagai pribadi yang menghargai kenangan beberapa jejakmu jelas akan tetap tertinggal. Tidak sepertimu, proses melupakan bagiku membutuhkan usaha yang melibatkan otot nan pejal. Dan belum tentu kamu akan langsung terpental.

Ini justru bukan lagi soal kamu. Tak perlu mengasihaniku karena terlihat tak mudah melupakanmu. Silakan, berbahagialah dengan gadis barumu. Sementara itu biarkan aku berdamai dengan hatiku. Hingga ia benar-benar siap menerima orang baru tak akan kubuka pintunya hanya karena tak ingin kalah darimu.

Hanya karena belum bisa melupakanmu bukan berarti aku jadi pecundang yang masih mencintaimu.

Jika boleh meminta kuharap kali ini Tuhan memberiku amnesia. Supaya semua hal tentangmu bisa masuk kompartemen kenangan: segera

Semua tentangmu harus masuk kompartemen kenangan: segera

Semua tentangmu harus masuk kompartemen kenangan: segera via atmervynphotography.com

Hidup toh tetap berjalan meski kau tak ada. Kesibukan tetap menunggu. Target-target yang harus dikejar juga tetap muncul walau tanpa dirimu. Dipisahkan semesta denganmu menyadarkanku. Rasa nyaman bisa membuat kita terlena, enggan lepas dari hal yang justru mencipta memar biru.

Syukurlah, aku sudah melewati fase itu.

Kau jelas sudah bisa kulepaskan, meski belum sepenuhnya mampu kulupakan.

Dalam sujud di ujung-ujung malam sering tanpa sadar kuajukan permohonan pada Tuhan. Kalau amnesia bisa membuatku lebih mudah melupakan, tak keberatan rasanya kutanggung sedikit penderitaan. Pusing, mual, bahkan sedikit terganggu keseimbangan lebih ringan dibanding harus terus berdamai dengan kenangan.

Sedalam itu kau sempat menyakitiku. Sekuat itu pula kini aku sedang berusaha melupakanmu. Tak perlu mengasihaniku. Aku yang sekuat ini terbentuk dari potongan hati yang kau serak dulu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya