(Tulisan ini akan semakin terasa manis kalau didengarkan bersama lagu She Falls Asleep, Tom Fletcher. Kamu bisa mendengarkan dan melihat videonya di link ini.)

Sudah tidak terlalu banyak hal yang rasanya bisa kutawarkan. Setelah selama ini siaga di sisi demi mengusap keringatmu yang datang tanpa permisi — perjuangan ini rasanya makin absurd untuk dijalani. Asal kau tahu, jika hati ini adalah kursi kayu panjang kau sudah melengkungkan dan menciptakan banyak retak di atasnya. Tanpa mau tahu apa yang kurasa.

“Aku ‘kan sudah bilang kalau aku begini. Kalau sudah tahu, kenapa kamu tidak pergi?”

Advertisement

Oh ayolah. Egois sekali dirimu. Berlindung di balik ke-aku-an yang rasanya tak bisa ditawar lagi. Seakan dengan bilang kau brengsek dari awal maka aku pasti tak akan sakit hati.

Kau pernah kuperjuangkan sampai menciptakan sembilu yang perihnya terasa sampai hari ini. Kini kuputuskan berhenti. Aku tak lagi mau jadi opsi. Lebih baik aku remuk hari ini, daripada terus berjuang demimu yang tak punya hati.

Impian bisa menggenapkanmu sudah kuakhiri. Rasanya kau juga tak perlu tahu, pernah ada gadis yang sedalam itu mencintai

Pernah ada gadis yang sedalam itu mencintai

Kau tak perlu tahu, pernah ada gadis yang sedalam itu mencintai via www.finchandfawn.com

Pernah ada gadis yang cintanya menaungimu serimbun itu. Berulang ranting teduhnya hendak dipangkas namun ia tak sampai hati, bercericit cemas. Lalu duduk lemas.

Advertisement

Kau juga tidak perlu tahu betapa banyak air mata dan harga dirinya tergadai.

Berenanglah dalam matanya, cobalah berjalan di hatinya jika bisa
kau akan menemukan jejakmu dimana-mana.

Setiap kali mengecup punggung tanganmu, ada haru yang muncul di hati gadis yang dulu milikmu. Sedang ia, menatap matamu saja tak mampu. Takut pancar bening lain terpantul di situ.

Gadis yang sama kini memilih dengan gagah — ia sudah berhenti bermimpi bisa menggenapkamu. Patah arang.

Sebab saat kau sedikit mencintainya biasanya sakit setelahnya akan berlipat ganda.

Sering-seringlah menyakitiku. Kau toh tak peduli ‘kan jika hati ini berderak keras karenamu?

Kau toh tak peduli jika hati ini berderak keras karenamu

Kau toh tak peduli jika hati ini berderak keras karenamu via www.finchandfawn.com

Sering-seringlah menyakitiku, Sayang. Kau sudah lebih dari tahu kalau hatiku tak lebih sebuah kursi kayu panjang melengkung di tengah, Ia hanya akan protes saat sudah benar-benar patah, berhenti punya guna. Tak berwujud lagi di mata manusia.

Selama masih bisa kau atur dudukmu miring sedikit, geser kanan-kiri bergantian tiap detik aku pasti masih kuat bertahan. Dan kau, Sayang, sudah memperhitungkannya lebih dulu.

Kemari, coba kulihat kertas burammu. Aku penasaran atas ekuasi handal sampai kapan nyeri ini sanggup ditahan

hingga “Kraaak!”, dua ia terbelah

Lalu kau segera beranjak, beringsut pindah.

Waktu membuat makin banyak peran di hidupku yang kau mainkan. Tapi bukan berarti lalu kau tak bisa kutinggalkan

Memang, kamu sudah menjelma memainkan banyak peran. Tapi bukan berarti tak bisa kutinggalkan

Memang, kamu sudah menjelma memainkan banyak peran. Tapi bukan berarti tak bisa kutinggalkan via www.finchandfawn.com

Denganmu aku sudah bermain gengsi, jatuh cinta, patah hati, sakit dan benci, tapi ujung-ujungnya jatuh cinta lagi. Denganmu, aku menjelma jadi gadis kecil manja yang minta diusap saat sakit pinggang. Atau wanita dewasa yang menyapu kamar dan memasak tanpa diminta. Dalam jejak kecil kita, aku hanya ingin jadi sebaik-baik wanita. Agar kamu bangga dan bahagia. Meski kebiasaan buruk dan kecerobohanku terus kau baca, tapi kasih terus tersedia.

Sekian lama kita bersama kau memang menjelma jadi kekasih, kakak, sahabat, teman diskusi dan bahkan rekan bertengkar. Aku mencintaimu tanpa banyak minta. Tak pernah terbersit komparasi dengan pria lain di luar sana.

Sesekali kau menemukanku merengek manja. Minta ditemani ke mana-mana, atau minta kau membuka lengan agar dadamu bisa jadi rumah tempatku pulang dan meletakkan kepala. Mengetahui fakta bahwa aku membutuhkanmu boleh membuatmu bangga. Tapi bukan berarti tanpa kehadiranmu hidupku tak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Kehilanganmu jelas membuatku mati rasa sementara. Namun aku bersumpah, selepas limbung beberapa saat lamanya kau akan menemukanku melenggang seperti biasa. Aku bertahan. Perlakuanmu selama ini membentukku jadi pejuang.

Aku pergi. Kini rasakanlah bagaimana lelahnya menghadapi hidup seorang diri. Asal kau tahu, kenop ke hatiku sudah diganti. Kau tak bisa masuk ke dalamnya lagi

Rasakanlah hidup seorang diri. Kau tak bisa masuk ke hatiku lagi

Rasakanlah hidup seorang diri. Kau tak bisa masuk ke hatiku lagi via www.finchandfawn.com

Kata orang, cara terbaik untuk menghargai arti sebuah rumah adalah dengan meninggalkannya. 

Pergi, membuatmu lepas dari cangkang yang bernama kenyamanan. Memaksamu tangguh menghadapi dunia tanpa perlindungan. Di luar, satu-satunya cara yang tersedia hanyalah berjuang. Mengerahkan seluruh kemampuan agar kamu tetap hidup. Belajar bertahan.

Kau tahu, mungkin kita hanya terlalu jengah setelah menghirup udara yang sama. Kau dan aku lupa kita pernah saling membutuhkan. Tak perlu lagi kugapai engkau jauh-jauh. Sebab kau sedekat pembuluh. Untukmu, aku sudah seperti nafas. Hingga ringan rasanya kau hempas. Kau dan aku seperti dua petualang yang kelelahan. Kita butuh meluruskan betis sebelum langkah kembali diayunkan.

Aku juga takut kedinginan. Enggan rasanya keluar dari hangat ruangan, untuk kemudian menggigil. Sendirian. Tapi dekapmu tak akan kuhargai, sebelum aku tahu repotnya harus memeluk diri sendiri. Kamu tak akan menghayati rasanya didampingi. Sebelum pijatan di bahumu tak lagi mudah ditemui.

Rasakan. Rasakan bagaimana lelahnya menghadapi hidup sendiri. Nikmati. Nikmati hari-hari penat tanpa pijatan, ketika keringatmu menetes deras tanpa ada yang menghentikan. Carilah rumah kontrakan, tempat singgah baru. Lalu hayatilah, apakah ia bisa melelapkanmu seperti aku? Bisakah ia merawatmu tanpa banyak gerutu, memastikan semua bersih dan rapi sebelum kau kembali membuka pintu?

Rumah ini perlu dibenahi dulu. Cat nya butuh diganti baru, lampu beranda juga sudah terlalu redup untuk kita santai duduk di depan pintu.

Sebelum kita benar-benar berkemas. Ingin kubisikkan kata pamungkas pelan-pelan di telingamu,

“Kunci kenop pintu itu sudah kuganti selamanya. Kau tak lagi bisa seenaknya membukanya kapan saja”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya