Sebagai dua orang yang sudah tidak membutuhkan approval untuk melakoni apapun yang disuka, kita bisa melakukan segalanya. Saya bisa mengajakmu memasak tumpeng, membangun istana pasir — atau membuat liburan avant garde versi kemping.

Sesekali kamu pun bisa menarik tangan saya saat dunia sedang gila-gilanya. Kebun teh yang hijau di mata atau Mie Jawa yang mengepul jadi pelarian kita. Selepasnya, kamu menatap lama dan mencium kening saya. Kita cicipi surga dunia tanpa perlu bercinta.

Namun baru kamu yang membuat saya berani melawan kebosanan. Tegar menghadang gempuran persoalan.

Kamu, nampaknya bisa jadi rekan menua yang menyenangkan.

Saya ingin belajar menghapal berapa sendok gula yang paling pas untuk kopimu. Jadi penikmat tunggal sesapmu yang syahdu

Saya ingin jadi penikmat tunggal sesapmu yang syahdu via storyboardwedding.com

Advertisement

Berbeda dari ikatan sebelumnya, kamu tak pernah merasa kurang dengan apa adanya saya. Kamu bilang tak masalah kalau saya tak bisa memasak. Keberatan juga tak kamu utarakan saat saya bilang paling tak suka menggosok pakaian. Katamu, “Masih ada laundry dan restoran.” Toh kamu bukan mencari pasangan, bukannya pelayan.

Jelas saya bahagia melihatmu begitu menerima. Tapi kali ini ada gelegak berbeda dalam dada. Biarpun tak masalah bagimu untuk makan dan mencucikan baju di luar rumah, kali ini saya ingin belajar berpayah. Meski tak rapi, celana dan bajumu akan saya gosok sepenuh hati. Saban pagi saya pun berjanji akan membuatkanmu kopi. Momen syahdu saat kamu dan kopi bercumbu tak boleh ditengahi oleh tangan Mbak-mbak warung di sebelah rumah itu.

Saat tak bisa mengubah dunia dan hanya bersantai di sofa, nampaknya kita akan bahagia-bahagia saja. Bukankah dosa melepas kemewahan yang langka?

Bukankah dosa melepas kemewahan yang langka? via storyboardwedding.com

Kamu tidak harus selalu tampak kuat di depan saya. Meringkuklah seperti bayi kucing saat kelelahan sepulang kerja. Tak perlu bercerita soal klienmu yang tuntutannya harus selalu dituruti macam agama. Kamu bisa memeluk saya, membenamkan kepalamu di punggung saya lama. Saya berjanji akan menahan kesemutan dan rasa kebas selama kamu merasa nyaman di sana.

Hubungan kita bukan trampolin yang selalu butuh sentakan agar bertahan. Hari-hari kita tak harus selalu dipenuhi kejutan. Sesekali kita akan mengangkat keril dan menjajal berbagai petualangan. Namun di lain waktu kita bisa jadi dua kentang besar di atas sofa, yang terlalu malas membuat gerakan.

Bersama kamu, alih-alih melulu diciptakan, bahagia malah membersamai perjalanan. Bukankah kemewahan macam ini tak harusnya dilepaskan?

Rambut warna tembaga di kepala akan kita hitung dengan sabarnya. Berdua, ‘selamanya’ tak lagi terasa absurd di telinga

Selamanya tak lagi terasa absurd di telinga via storyboardwedding.com

Jelas ini berbeda dari cerita Edward dan Bella yang benar-benar punya waktu “selamanya.” Lagipula ogah sekali jika cinta harus melibatkan gigi taring yang tajam dan peminum darah. Masih banyak cara lain untuk mengukir kisah yang lebih indah.

Saat kelak kamu menua lebih dulu, saya akan jadi orang paling teliti yang menghapal jumlah rambut warna tembaga di kepalamu. Memprediksi berapa banyak rambut putih yang muncul setelah itu.

Waktu nanti perut saya mulai tak rata dan kehilangan lekuk tubuh yang selama ini ada — kamu akan tetap jadi pengecup seluruh inci kulit dengan ketelatenan yang sama. Rasa ini tak akan mudah pudar karena kemunduran fisik wajar yang amat ‘manusia.’

Kita jelas tak punya seluruh waktu yang ada di dunia. Tapi selama kita bersama, akan saya berikan seluruh yang saya punya. ‘Selamanya’ tak lagi terasa absurd di telinga.

Hey, bagaimana? Sepakatkah kamu jika kali ini saya minta sesuatu yang berbeda? Maukah kamu kita menua bersama?