Entah apa permintaanmu pada Tuhan saat kamu masih jadi roh yang melayang-layang, tapi kamu terlahir di dunia ini sebagai seorang kakak. Meskipun sempat menikmati periode jadi anak tunggal, pada akhirnya kamu memiliki adik. Tidak hanya satu. Ada juga adik-adik lainnya yang menyusul kelahiran adik pertamamu.

Kamu pun harus beradaptasi. Kamar yang tadinya milikmu sendiri sekarang harus dibagi-bagi. Kamu menjalani hidup sebagai anak tertua, paling tua di keluarga besarmu. Pastinya, poin-poin dibawah ini gak asing lagi buatmu!

Di antara adik-adikmu, kamulah yang paling pertama merasakan dilema saat ditanya soal kelulusan, kerjaan, dan pernikahan

Pertanyaan yang bakal bikin kamu menjerit-jerit di kamar mandi

Pertanyaan yang bakal bikin kamu menjerit-jerit di kamar mandi via otakbagiantengah.blogspot.com

Advertisement

“Mas, kapan lulusnya? Skripsinya mbok segera digarap.”

“Mas, dah ngelamar kemana aja? Kapan mau kerja?”

“Gimana nanti calon nikahnya mas? Kapan mau dikenalin ke mbah?”

*pura-pura keselek kolak*

Oke, salah satu hal yang super duper gak ngenakin ketika kamu jadi anak tertua di keluargamu, adalah di setiap acara keluarga kamu akan dihujani pertanyaan-pertanyaan yang makjleb-nya tuh di sini. Dari soal kuliah, kerja, sampai pacar, disaat adik-adikmu mungkin masih SMA, SMP, atau SD yang belum ngerti pacaran tuh sebenernya ngapain.

Paling gampang sih biasanya kamu jawab dengan omongan semacam “ya, nanti”, serta “gampanglah”. Atau mungkin kamu mau menunggu telingamu kapalan dulu, baru menjawab dengan senyum.

“Dek, coba tiru kakakmu, orangnya pinter, rajin, dan baik.” Padahal aslinya maah…

Tuh dek, dengerin kata papa mamah.. *senyum kejam*

Tuh dek, dengerin kata papa mamah.. *senyum kejam* via pixgood.com

Advertisement

Paling asyik adalah kalau adik-adikmu disuruh untuk mencontoh dirimu. Alih-alih dengan berbagai alasan, mulai dari kamu yang orangnya baik, rajin, suka menolong, suka menabung, dan macam-macam alasan lainnya. Pokoknya, supaya adik-adikmu itu nurut kepadamu, alasannya sih bebas sebenernya.

Padahal, aslinya mah, suka juga jahatin orang. Boro-boro rajin, kuliah aja sering nelat. Suka menolong dan menabung juga kayaknya gak cocok banget, secara duitmu seringkali habis untuk hedon. Tapi ya karena yang ngomong itu mbah/eyang mah diterima saja… Kan harus nurut orangtua.

Dipaksa buat mandiri sedari dini

Masih SD bahkan dah belajar nyuapin dedek bayi

Masih SD bahkan dah belajar nyuapin dedek bayi via imelda.coutrier.com

Orangtuamu juga menggemblengmu sejak kecil agar kamu bisa hidup mandiri dan dewasa lebih awal dari adik-adikmu, karena kamu dianggap akan menjadi panutan yang lainnya. Bantu-bantu orang tua, beres-beres rumah, ataupun ikut kegiatan warga, selalu jadi hal-hal yang mereka coba tanamkan ke kamu. Sementara adik-adikmu belum tumbuh besar, kamu sudah piawai melakukan banyak hal yang biasa dilakukan oleh orang dewasa.

Gak jarang ngiri sama adek-adeknya, karena seolah mereka lebih dimanja dari kita

Mainan kakak, ya mainanku. Mainanku ya mainanku!

Mainan kakak, ya mainanku. Mainanku ya mainanku! via onekidtwokid.com

Kalau adik-adik kita bisa lebih dimanja semenjak masa muda hingga remaja, jangan harap hal tersebut berlaku ke kita. Apapun yang diminta, pasti bakal dikabulkan apalagi kalau mengeluarkan senjata maut mereka: merengek, nangis, bahkan sampai rolling dance di lantai. Mulai dari minta permen, komik, sampai minta hape aja dikabulkan. Kalau kamu? Ngeluarin senjata kayak mereka, malah berujung dijitak orang tua karena terlihat konyol.

Adik-adikmu pun bakal ikutan jadi tua juga, karena anakmu akan memanggil mereka dengan “om” dan “tante” walau masih kecil dan ingusan.

Karena kamu, mereka adikmu yang paling bungsupun ikutan jadi tua

Karena kamu, mereka adikmu yang paling bungsupun ikutan jadi tua via mypotik.blogspot.com

Silsilah keturunan yang unik dan gak kamu kira, terkadang membuatmu berada di situasi yang cukup bisa bikin kamu tertawa. Bayangkan, adik sepupu termudamu yang paling bungsu, bisa dipanggil “om” oleh anakmu nanti. Ya, adik sepupumu yang SD aja mungkin belum tamat, masih ngemut permen, itupun juga masih ingusan, lalu mendadak dipanggil “om” oleh anakmu. Akibatnya, ia pun ketularan tua dari dirimu. Maafkan aku ya, dek.

Semua perhatian bapak, ibu, om, tante, kakek, nenek, bakal tertuju ke kamu. Apapun yang dilakukan adik-adikmu, kamu yang kena batunya.

Nak.

Nak. via www.zawaj.com

Satu lagi, dibandingkan para adik yang lebih leluasa menjalani hidup (cuma main, belajar, makan, sama tidur), semua mata orang tua akan tertuju padamu. Entah kenapa, semua nasihat jatohnya ke kamu, bukan ke adikmu. Adik nakal karena mecahin perabot, kamu yang dinasihati. Adik nangis karena kesandung, kamu yang dimarahin. Adik depresi karena galau, untungnya dia yang dimarahin karena gak boleh pacaran sama mama. Fiuhh!

“Buset, gue aja semuanya!”

“Sayang, kenalin. Mereka SEMUA adalah adik-adikku.”

Perkenalkan sayang, semuanya adik-adikku!

Perkenalkan sayang, semuanya adik-adikku! via dwijim.wordpress.com

Salah satu moment paling awkward ketika kamu ngenalin pasanganmu ke keluarga besar sebelum menikah nanti, adalah ketika mengenalkan adik-adikmu ke pasanganmu. Gak heran, kalau dia tiba-tiba melongo karena bingung melihat adik-adikmu berjejer mulai dari yang kecil sampai besar, dan dia harus menghafalkan mereka satu-persatu.

“Itu saudara apa kesebelasan sepakbola?”

Kudu ikhlas hati dan dompet buat jajanin adik sepupu dan saudara-saudara yang nagih traktiran gajian

Mbak, jajanin dong!

Mbak, jajanin dong!

Yang namanya bocah, pastinya udah laper mata kalau denger yang namanya traktiran. Kita yang lebih tua dan notabene uang jajannya lebih banyak, sering jadi sasaran modus. Kalo yang ditraktir satu-dua sih gak masalah, lha ini yang ditraktir bejibun. Bisa pucing pala berbie. Buat uang bulanan aja kagak cukup, deeek!

Namun ujung-ujungnya kamu pun bakal menyerah dan jajanin mereka. Abisnya, gak tahan juga melihat mereka memohon-mohon dengan mata berbinar-binar, iya gak?

Jadi kesayangan eyang dong. Kan cucu pertama.

Paling pertama muncul, paling disayang

Paling pertama muncul, paling disayang via orgblgapa.blogspot.com

Para sesepuh (eyang atau mbah) bakal lebih perhatian dan sayang dong ama kita. Cucu tertua gitu, jelas deh selalu mereka ingat dan sayang. Gak keliatan sedikit, langsung dicariin. Mereka banyak rejeki, kita pasti dikasih oleh-oleh. Hmm!

Tapi, diam-diam ternyata banyak doa yang mengalir ke kita. Karena dianggap ujung tombak, keluarga besar pun selalu men-support kita. Rasanya seneng banget deh kalo udah gitu.

Rasanya tenang deh kalo udah gitu

Rasanya tenang deh kalo udah gitu via waterplease.deviantart.com

Tanpa kita tahu, para anggota keluarga yang lebih tua selalu memanjatkan doa tanpa lelahnya. Doa-doa agar kita tetap sehat, selamat, sukses dalam usahanya, dan bisa jadi contoh adik-adiknya, serta bisa membawa keluarga ini menjadi lebih sukses. Walau tanpa menceritakannya ke kita, kita bisa sadari kok dari kesuksesan dan bantuan dari tangan-tangan Tuhan yang tak terlihat, yang kita sebut sebagai keajaiban pada hidup kita.

Rasanya seneng banget, dapat support dari mereka, apalagi doa-doa tersebut seringkali dikabulkan Tuhan ketika kita benar-benar butuh. Terima kasih ya!

Jadi anak tertua dalam keluarga besar, memang banyak kisah konyolnya. Walau lebih banyak gak enaknya, sisi positifnya harus selalu disyukuri. Terutama ketika nanti adik-adikmu sukses karena mengikuti langkah-langkahmu dulu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya