Hal-hal yang Tak Seharusnya Kamu Korbankan, Meski Saat Sudah Menikah

Wajar kalau orang menganggap cinta itu buta. Sebab jatuh cinta bisa membuatmu seketika mengesampingkan prinsip yang selama ini kamu miliki. Seolah pasanganmu ini dewa yang wajib mendapat persembahan tertinggi atas dirimu. Padahal cinta yang bersahaja harusnya membuatmu merasa lebih manusia. Cinta harusnya jadi sumber energi positif untuk meninggikan kualitas masing-masing.

Jadi, sebelum terlanjur mempertahankan hubungan yang kurang sehat. Kamu perlu memastikan lagi, hal-hal penting ini tak perlu dikorbankan demi perasaan atau cinta. Sekalipun nanti kalian sudah menikah, hal-hal ini tetap harus dipertahankan.

ADVERTISEMENTS

1. Berbenah dengan mengubah diri itu berbeda. Jangan sampai hadirnya pasangan membuat sosok aslimu hilang begitu saja

847

Berbenah dan berubah adalah dua hal berbeda via dylandsara.com

Tanpa disadari keinginan tampil sempurna di hadapan pasangan membuatmu berusaha terlalu berlebihan. Demi terlihat menarik kamu mengubah gaya vintage-mu jadi lebih kekinian. Kamu juga jadi sering mengalah supaya tak lagi dicap keras kepala. Padahal kamu tak harus selalu mengalah untuk menjadi pasangan yang baik.

Cowokmu pun seharusnya tak memaksakanmu mengubah diri jadi pribadi yang berbeda. Kalau dia benar mencintaimu, alih-alih mengubah penampilan khasmu, cowokmu ini cukup mendukung usahamu untuk lebih baik tanpa embel-embel sempurna. Dia akan tetap menyukai penampilanmu dengan celana kulot, blouse atau kaos polos. Penampilanmu yang apa adanya, tak pernah menjadi masalah baginya. Seharusnya kamu tetap cantik di matanya, apa adanya.

Setidaknya dia sadar keberadaan sosok aslimu lebih penting dalam keseharian. Bukankah sosok aslimu ini yang membuatnya jatuh hati ke dirimu? Kamu cukup berbenah, seperti belajar lebih sabar dan fleksibel. Tak perlu selalu mengalah.

ADVERTISEMENTS

2. Kamu dan dia butuh komunikasi yang berkualitas, tapi bukan berarti waktu untuk keluarga dan teman terpangkas

komunikasi berkualitas tak selalu menyita waktumu atau dirinya

komunikasi berkualitas tak selalu menyita waktumu atau dirinya via meghillphoto.com

Baik atau sehatnya hubungan selalu berawal dari jalinan komunikasi di dalamnya. Tapi kadang kamu lupa, kalau komunikasi berkualitas yang kalian butuhkan tak selalu sejalan dengan kuantitas. Komunikasi berkualitas adalah saat kamu dan dia bisa tetap menjaga kenyamanan meski jarang bertemu. Semua ditentukan dari bahan obrolan kalian. Semakin beragam, semakin kuat juga rasa nyaman yang terbentuk. Jadi komunikasi yang baik tak selalu harus ditentukan dengan kuantitas yang sering.

Paling tidak demi komunikasi berkualitas, kamu tak perlu mengurangi waktu untuk keluarga dan teman. Kamu tetap bisa berkumpul bersama mereka di akhir pekan. Kamu masih bisa memperhatikan mereka. Kecintaanmu pada pasangan tak membuatmu lupa akan hadirnya orangtua, kakak atau adik, serta teman yang lebih dulu ada di hidupmu. Jangan sampai dia terlalu menuntut untuk memberi sebagian besar waktumu untuk dirinya saja. Kalau sudah begitu, kamu sendiri tak perlu ragu untuk melepaskannya. Sebab mencintai harusnya membuat dia mengerti posisi kamu sebagai makhluk sosial yang tak hanya harus ada untuknya.

ADVERTISEMENTS

3. Saling sayang dan peduli masih wajar, asal kamu tetap memegang kendali semua urusan di hidupmu yang paling mendasar

kendali hidupmu tetap ada di kamu

kendali hidupmu tetap ada di kamu via elizabethwellsphoto.com

Mencintai seringnya membuatmu lupa diri. Dengan dalih sayang atau peduli, kamu membiarkan pendapatmu tergerus karena mengiyakan dan mengikuti segala aturan yang dia buat. Padahal hubungan tak pernah luput dari perbedaan pendapat dan seharusnya bisa membuatmu lebih dewasa dalam bersikap.

Kalau dia benar sayang denganmu, dirinya akan bisa diajak kompromi. Menghargai otoritasmu dalam menentukan semua urusan hidup yang paling mendasar. Sebab dia paham kunci bahagiamu tetap ada di genggamanmu sendiri. Toh menunda menikah paling tidak satu tahun tak ada salahnya juga, supaya kamu bisa mencapai target karir. Kelak saat sudah menikah dan punya anak, kamu sudah tak lagi penasaran dengan urusan karir.

ADVERTISEMENTS

4. Pekerjaan dan hobi tetap jadi keutamaan, meski belajar mengerti dia pun perlu ketekunan

Pekerjaan tetap keutamaan

Pekerjaan tetap keutamaan via dylandsara.com

Memahami manusia memang tak akan pernah ada habisnya. Setiap harinya adalah usaha untuk mengerti diri sendiri serta semua orang di sekitarmu, termasuk dia sebagai pasangan. Tapi belajar mengerti bukan berarti harga mati yang membuatmu mengesampingkan urusan yang lain seperti pekerjaan dan hobi. Karena bagaimanapun pekerjaan atau hobi ini tetap bisa kamu andalkan untuk sukses di masa depan. Sementara hubungan bersamanya, kamu sendiri saja belum bisa meraba ini akan sampai di mana.

Realistis sedikit, kalau hubungan kalian sendiri butuh modal materi untuk bisa membawanya ke depan. Dan itu bisa didapat dari pekerjaan dan hobi kalian.

ADVERTISEMENTS

5. Saling menghargai pasangan bukan berarti mengiyakan segala ucapannya. Kamu tetap punya pendapat yang harus didengarkan olehnya

saling menghargai harunya saling tak selalu mengharuskan kata

saling menghargai harunya saling tak selalu mengharuskan kata “iya” ada via meghillphoto.com

Orang bilang jadi cewek itu harus bisa nurut dengan pasangan. Padahal pemikiran seperti ini yang seharusnya diluruskan. Kamu tetap selalu punya hak untuk memberikan pendapat dan didengarkan oleh dia. Kamu dituntut menghargai ucapannya, begitu juga dia yang seharusnya tak memaksamu untuk mengiyakan ucapannya.

Toh kalimat tidakmu ini bukan wujud pembangkangan. Melainkan tanda kamu pun ingin dia bisa adil dalam membuat keputusan. Sebagai pasangan, segala keputusan perlu dipertimbangkan dari dua sisi agar tak berat sebelah. Kata “tidak” ini awal dari hubungan yang tak terkurung oleh dominasi.

ADVERTISEMENTS

6. Setelah menikah nanti, saling mencintai itu pasti. Tapi bukan berarti kamu tak punya duniamu sendiri

Bukan berarti tak punya dunia sendiri

Bukan berarti tak punya dunia sendiri via eventsbytiffie.wordpress.com

Siapa pun orangnya pasti punya harapan untuk membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Dan saat itu tiba, rasanya saling mencintai ini bukan suatu kesia-sian. Tapi kamu tak boleh begitu saja dibuai cinta hingga lupa dengan dunia yang dimiliki olehmu sendiri. Sebab menikah bukan berarti kamu hanya punya dunia bersama pasangan.

Kamu tetap harus menjaga eksistensi duniamu sendiri. Duniamu ini yang akan selalu menjaga kewarasanmu untuk bisa terus berpendapat, memikirkan keluarga serta sahabat, serta punya gairah untuk kegiatan yang selama ini kamu tekuni. Sebab pernikahan sendiri tak seharusnya mengubah dirimu menjadi orang lain. Apalagi sampai mengorbankan banyak hal di hidupmu.

Ruang gerakmu menjadi terlalu sempit, jika semua hal yang cukup baik di dirimu dikorbankan demi sebuah hubungan yang selalu punya banyak kemungkinan. Jangan sampai berkorban di luar batas, karena yang berlebihan tak akan membawa kebaikan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tukang catat yang sering dilanda rindu dan ragu