Tak mudah memang menerima kenyataan bahwa kamu dan pasanganmu sudah tak saling bersama. Ada sesuatu yang hampa ketika pagi menjelang dan menyadari bahwa kini hatimu hanya milikmu seorang. Terasa hampa dan kesepian adalah reaksi patah hati yang kerap terjadi saat putus cinta yang menyakitkan. Tak hanya persoalan cinta, patah hati pun bisa disebabkan oleh masalah keluarga, masalah kerjaan, perasaan tersinggung, atau kehilangan seseorang yang menyebabkan kesedihan atau perasaan kehilangan.

Berbagai macam reaksi patah hati pun terjadi, mulai dari nggak nafsu makan, lemas dan panas demam kamu alami. Reaksi tersebut lumrah karena berhubungan dengan keadaan otak serta hormon-hormon di dalam tubuh kita. Kira-kira seperti apa sih tubuh kita bekerja ketika kita patah hati? Yuk simak beberapa ulasan berikut ini!

Saat kita senang dan sedih, ada aktivitas di Otak yang disebut Anterior Cingulate Cortex

Advertisement

Diulas dari Halosehat, ternyata saat kita sedih dan merasa kehilangan, aktivitas otak yang disebut Anterior Cingulate Cortex muncul. ACC memiliki fungsi emosional dan terletak pada bagian tengah otak. Terdapat banyak reseptor di dalamnya, salah satunya reseptor opioid yang berperan ketika kalian senang dan sedih. Saat sedih tentunya reseptor opioid ini akan melemah dan terjadi penurunan sistem reward dalam diri. Proses ini selanjutnya menjadi aktivitas sistem saraf yang menyebabkan kalian merasa tidak nyaman dan munculnya nyeri pada tubuh secara fisik.

Otak memiliki hormon pembangkit rasa bahagia, yaitu hormon oksitosin dan dopamin

Dikutip dari female first, kedua hormon tersebut akan pergi meninggalkan hormon kortisol, yakni hormon yang akan melakukan perlawanan dan melarikan diri. Tapi jika perihal patah hati, mau melarikan diri ke mana? Tak ada wujud konkretnya. Oleh karena itu hormon lari ke dada dan membuat dada membengkak. Terjadilah yang dinamakan “patah hati”. Hal tersebut juga memicu tubuhmu menjadi lebih ‘rapuh’.

Saat jatuh cinta, Hormon bahagia akan membanjiri otak. Namun, saat patah hati hormon tersebut akan menurun 

Dilansir dari Female First, hormon dopamine membanjiri otakmu saat jatuh cinta sepanjang jalur yang sama seperti yang dilakukan nikotin. Ini akan membuat kamu ‘merasa baik’. Tetapi saat menurun, kamu menginginkan lebih banyak. Selama patah hati, tingkat dopamine kamu turun di bawah rata-rata, yang dapat menyebabkan peningkatan kecemasan dan stres, dan mengalami rasa tidak nyaman, mood rendah, bahkan juga gangguan tidur.

Lakukan hal yang positif agar reaksi negatif patah hati pada tubuhmu tak terjadi

Advertisement

Riset di Universitas Colorado Boulder mengatakan bahwa percaya bahwa  kamu melakukan sesuatu yang positif untuk mengatasi keadaan dapat memengaruhi daerah otak yang terkait dengan regulasi emosional dan mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan.

Otak tidak bisa mengatasi patah hati sendirian. Oleh karena itu otak akan memberikan ‘alert’ ke seluruh tubuh

Naomi Eisenberger, PhD dari University of California mengatakan bahwa rasa galau karena putus hubungan dengan seseorang akan sulit diatasi sendirian oleh otak. Akibatnya, otak akan mengirimkan sinyal-sinyal ke tubuh untuk memberitahu bahwa yang kamu alami saat itu adalah rasa sakit. Tuh kan, otak aja nggak bisa mengatasinya sendirian.

Semua hanya masalah sugesti, jika kamu mensugestikan pada otakmu bahwa patah hati itu menyakitkan, maka yang terjadi pada tubuhmu adalah reaksi negatif. Lakukanlah hal-hal menyenangkan biar patah hati nggak menjadi alasan untuk terus larut dalam kesedihan, salah satunya kamu bisa menulis, karena menulis bisa menjadi wadah meluapkan segala emosi untuk membebaskan pikiran dan jiwamu. Misalnya, menulis di Hipwee untuk berbagi tips perihal patah hatimu itu loh, Guys.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya