Jadi Mantan, Tak Harus Musuhan. 7 Cara Ini Bisa Kamu Jajal untuk Tetap Jaga Pertemanan

jadi mantan tak harus musuhan

Mantan pacar. Ketika terlintas dua kata itu, pasti pikiranmu secara otomatis akan berkelana menuju masa lalu. Tentu saja merupakan hal yang wajar. Sebab, mantan pacar merupakan sesosok orang yang pernah mengisi hari-hari di suatu masa kala itu.

Advertisement

Setelah putus, kebanyakan orang justru memiliki hubungan yang nggak baik dengan mantan. Ya mungkin kamu salah satunya. Padahal meskipun hubungan telah berakhir, kamu dan dia tetap bisa lho menjalin hubungan baik bahkan sampai sahabatan. Toh udah jadi mantan bukan berarti kalian harus musuhan, kan? Nah buat kamu yang masih bingung, gimana sih caranya menjalin hubungan pertemanan dengan mantan, simak yuk cara-caranya di bawah ini. Siapa tahu kamu mau menjalin hubungan yang baik dengan deretan mantanmu~

1. Sekali-kali mengirim pesan singkat padanya sah-sah saja, sekadar menanyakan kabarnya maupun keluarga

bertukar kabar itu wajar

bertukar kabar itu wajar via cdn.halloftheblackdragon.com

Putus saat hubungan udah berjalan kelewat lama bak bayar cicilan KPR itu emang nggak enak. Apalagi saat kita udah terlanjur deket sama keluarganya. Namun bukan berarti kita nggak bisa tahu kabar mereka dong. Putus juga sejatinya campur tangan Tuhan, kita cuma belum jodoh aja sama dia. Cara pertama buat jaga silaturahmimu dengan mantan ialah dengan mengirim pesan singkat, entah lewat sms, email, Line, atau apapun itu.

“Wew. Sekarang pindah ke Dompu nih mas kerjanya?”

“Iya Ndin, ada mutasi karyawan sejak dua minggu lalu. Harus meninggalkan Jawa deh.”

“Yaaah… makin jauh dari rumah dong.”

“Iya sih, yaa mumpung masih muda, jalanin dulu aja. Kamu masih di Jogja?”

Advertisement

Ya gitu. Kesempatan itu diciptakan, bukan ditunggu. Makanya, putus mah nggak perlu kamu menghapus semua kontak dia yang kamu punya. Padahal, dari situ pula nantinya kamu bisa jalin tali silaturahmimu itu tadi. Misal di instagram tiba-tiba dia mengunggah foto lagi kerja gitu dan lokasinya sudah bukan lagi di kota saat kalian terakhir bersama, bisa kan tinggalin komentar di bawahnya untuk sekadar nyapa dan bertukar kabar? Ada yang salah? Enggak!

2. Jangan ragu buat datang reuni dimana kalian berdua jadi alumni. Menegurnya lebih dulu juga bisa jadi bukti kedewasaanmu

karena reunian punya segudang keuntungan

karena reunian punya segudang keuntungan via reunion.villanova.edu

“Ardi?”

“Hei Ndin, baru dateng? Apa kabar?”

“Baik. Kamu? Dateng sendirian nih? Mana anak-anakmu?

Selain bisa ngobrol, di momen reunian ini kamu juga bisa lihat mukanya langsung. Jangan absenlah kalau ada undangan reuni. Kalau kamu jomblo juga bisa jadi keuntungan tersendiri lho. Bukan, bukan berarti kamu ngarep balik lagi sama mantan. Tapi di reuni juga bisa banget buat cari gebetan. Mungkin kamu ketemu si A, yang dulunya suka ngompol di celana pas SD, kini malah jadi seperti Lee Min-ho, jomblo juga pula. Yang kaya gini layak didekati dong. Semua obrolan, baik dengan mantan atau seseorang lainnya bisa diawali dengan mengenang cerita masa sekolah. Bukan mengenang kisah kasih percintaan kalian yang gagal #ehh. Nggak gentle banget dong kalau kamu menolak dateng ke reunian karena menghindar ketemuan sama mantan~

Advertisement

3. Karena mantan mengerti kamu luar-dalam, dia justru orang yang tepat kamu jadikan tempat curhat

curhat aja

curhat aja via ecosalon.com

Sudah berapa lama kalian bersama? Selama itu pula dia jadi tempatmu berbagi setiap hari. Berani taruhan, dibanding ke sahabatmu, kamu justru lebih banyak menghabiskan waktu bercerita pada mereka. Berbagi banyak pengalaman suka maupun duka. Di depannya pun kamu tak sungkan lagi untuk menumpahkan air mata. Jangan dipungkiri kalau dialah orang yang paling tahu sisi luar-dalammu. Hal-hal yang nggak kamu tampakkan ke orang lain, buat dia sudah bukan rahasia.

Kalau kehilangannya membuatmu kehilangan seorang penasihat, tak ada salahnya kamu tetap menjaganya sebagai tempat curhat. Jika dia cukup dewasa, dia juga tak akan menolak kok. Mendengar kisahmu bersama lelaki-lelaki lain setelahnya, tentang pekerjaan yang selama ini kamu geluti, dia juga akan mengerti. Kamu boleh kehilangan pasangan, tapi bukan berarti kamu kehilangan hubungan lain seperti persahabatan kan?

“Kik?”

“Kenapa Ndin?”

“Lu pernah ikut seminar-seminar seni nggak?

“Hah? Buat apaan?”

“Daftar kuliah?”

“Oh yang dulu itu. Jadi juga akhirnya di ISI? Ada sih beberapa, entar gue cariin dulu.”

4. Kalau emang dulu deket gara-gara punya hobi yang sama, ya kenapa nggak dilanjutin aja?

nggak sampe kaya gini juga gapapa

nggak sampe kaya gini juga gapapa via cdn.klimg.com

“Wah ini bukunya Aan Mansyur yang baru ya?”

“Iya Zal, baru dateng nih beli via online, di toko sini mah belum ada.”

“Duh aku bakal seneng banget nih kalau dibolehin pinjem~”

“Bolehlah, entar ya, kalau aku udah kelar baca.”

Kalau emang kalian sama-sama pembaca, atau bahkan punya idola penulis yang sama, kalian tentu nggak mau kehilangan manusia macem ini kan cuma gara-gara nggak pacaran?? Silaturahmi bakal tetep baik-baik aja dengan seringnya kalian pinjam meminjam dan tukar menukar buku. Kalau dia punya buku bagus misalnya, dan dia iseng upload di Instagram atau dijadiin foto profil Whatsapp, sah-sah aja kalau kamu komen buat iseng nanya dan ujung-ujungnya mau pinjem. Bisa nambah pinter juga kalau ada diskusi sastra berbobot pada akhirnya. Nggak menutup kemungkinan juga sih buat kalian join komunitas yang sama dengan hobi serupa yang kalian miliki tadi.

Lho Ndin, kamu balik Surabaya?”

“Iya nih baru dateng semalem. Kenapa Dim?”

“Lama nggak nggunung nih, kamu di rumah berapa lama? Naik Arjuno yuk!”

5. Kalau emang sedang butuh bantuan, jangan gengsi buat menghubungi duluan, siapa tahu dia emang masih bisa diandalkan

sini dek, abang tolongin

sini dek, abang tolongin via www.l4leadership.com

“Ren, sibuk nggak? Mau nanya sesuatu nih.”

“Engga sih, kenapa Ndin?

“Mau nanya soal pelaporan pajak ini. Aku belum sempet ke kantor pajak dan kudu masukin nomor efin buat pajak online. Gimana ya?”

“Oh gitu. Bisa kok tanpa kemari. Masukin aja foto KTP sama NPWP mu, nanti keluar nomor efinnya.”

“Oke aku coba dulu. Makasih ya!”

Katanya sudah melupakan kejadian-kejadian menyakitkan bareng mantan, katanya sudah move on, katanya udah nggak ada rasa, lalu kenapa masih gengsi kalau mau nanya sesuatu? Asal yang ditanyain bukan perkara perasaan ya nggak masalah. Toh sebelum nanyain sesuatu hal padanya, kamu juga tahu kapasitasnya kan. Kamu tau dia unggul di bidang apa, dan pertanyaan tentang apa saja yang pasti dia tahu jawabannya. Karena dia kerja di kantor perpajakan misalnya, dan kamu butuh masukin nomor efin (Electronic Filing Identification Number) untuk masukin pajak online. Karena kamu lagi males ke kantor pajak, nanya dia pun tak ada salahnya.

6. Ketika kebetulan kalian berbeda kota, jadilah tuan rumah yang baik saat dia berpelesir ke sana

jadilah tuan rumah yang baik

jadilah tuan rumah yang baik via data.whicdn.com

“Ndin, lagi di Jogja?”

“Iya, kenapa Wan?”

“Tanggal 31 gue ke sana nih, traktir-traktir kopi dong. Guidein gue juga oke, kalau lu nggak sibuk sih.”

“Pas hari Sabtu kan ya? Gue libur tuh. Boleh sih, entar lu kabari gue aja, pasti gue samperin.”

“Asiiik.”

Traveling, melancong, atau berpelesir kini sudah hadir sebagai kebutuhan di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak mudanya. Kalau sudah nggak fokus kerja, bisa dibilang mereka kurang piknik. Kalau sudah gitu, langsunglah berburu tiket-tiket promo ke berbagai destinasi baik dalam ataupun luar negeri. Nah, sudah jadi rahasia umum juga, kalau dengan kehadiran orang lokal atau orang yang kebetulan sudah cukup lama menetap di kota jujugan, dapat mempermudah liburan mereka. Jadi buat kamu, yang ngakunya sudah move on, nggak ada salahnya minta ditemani mantan ketika berkunjung ke kotanya.

7. Memberi love atau like di media sosial seperti di Instagram, dan facebook bukanlah hal yang tabu kok

jangan baperan Ahh!

jangan baperan Ahh! via static1.squarespace.com

“Wih si Desta nge-love foto di Instagram lu nih Ndin!”

“Iye emang. Terus kenapa?”

“Duh tanda-tanda menuju CLBK nih.”

“Nggaklah! Gue kan emang hobi foto, foto gue ini emang kece. Nggak salah kalau dia love gara-gara bagus dong.

Udah nggak saling love di kehidupan nyata bukan berarti nggak boleh nge-love foto atau statusmu di dunia maya kan? Nggak masalah, sama sekali. Mengakui hasil karya seseorang itu emang bagus merupakan suatu bentuk kedewasaan lho. Kecuali yang di love foto, momen, atau status yang udah 3 atau 4 tahun yang lalu. Boleh jadi kamu baper, sebab itu merupakan suatu bentuk keponya yang nggak wajar.

Mau berhubungan baik dengan mantan atau sebaliknya itu merupakan sebuah pilihan, dan hak masing-masing orang, sama sekali tak boleh ada unsur pemaksaan. Sah-sah aja kalau ada yang bilang semua itu bergantung pada sebab dan bagaimana kalian mengakhiri sebuah hubungan. Pas lagi komunikasi juga usahakan jangan ungkit masa lalu (apalagi kalau masa lalu kalian suram), kalau yang menyenangkan boleh aja diungkit. Karena akan membangkitkan memori masa lalu yang membuat kalian tersenyum.

Tapi nih tapi, kalau salah satu atau kalian berdua malah udah punya pasangan sendiri-sendiri, alangkah baiknya untuk saling terbuka pada mereka. Ada sih yang beralasan menjaga perasaan pasangannya, lalu memilih tak berteman dengan mantan. Balik lagi ke kalian bagaimana memanajemen sebuah hubungan 🙂

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Rajin menggalau dan (seolah) terluka. Sebab galau dapat menelurkan karya.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE