Yah, adek mau jalan sama Nia boleh?
Mau kemana? Sama siapa aja?
Mau ke rumah Lia. Sama Nadia sama Nia. Boleh ya, Yah?
Nggak usah lah. Ini udah malem. Besok aja Bapak anter
Tapi, Yah…
Udah. Kamu tidur aja. Besok pagi Bapak anter kok

Mengingat sosok Bapak tak akan bisa kamu lepaskan dari sifat dan sosoknya yang tegas dan tak kenal kompromi menghadapimu yang punya banyak mau saat kecil dulu. Banyak pintamu yang kamu ajukan pada Bapak dan ditolaknya dengan tegas. Kadang, Bapakmu punya alasan yang jelas untuk melarang dan menolak pintamu. Namun tak jarang pula Bapakmu hanya menolak dengan kata “tidak” atau “jangan” dengan tatapan tegas tanpa penjelasan.

Sebal memang. Mendengar pintamu ditolak mentah-mentah dan inginmu dilarang oleh Bapakmu. Saat kecil dulu, penolakan ddan larangan dari Bapakmu jelas membuatmu sakit hati! Namun saat beranjak dewasa, sedikit banyak kamu mulai sadar. Bahwa ada benarnya juga larangan Bapakmu dulu. Saat kamu beranjak dewasa, perlahan kamu sadar bahwa larangan dan penolakan dari Bapakmu itu sebenarnya tanda cintanya pada anak terkasihnya.

1. Mengingat bentakan ayahmu saat menolak pintamu untuk jalan bareng teman jelas membuatmu sakit hati. Tapi kini kamu sadar bahwa beliau hanya ingin melindungi

Nggak dibolehin kumpul temen via www.bet.com

Namanya juga anak muda. Duniamu masih terpaku pada kesenangan semata bersama teman-temanmu. Ketika Bapak tak mengizinkanmu untuk pergi dan jalan-jalan bareng teman-temanmu, jelas kamu sakit hati. Janji untuk jalan bareng temanmu sudah terlanjur kamu ucap, tapi tak ada izin dari Bapak mengandaskan angan tawa bersama sahabat tercinta. Tapi rasa sakit hati itu dulu. Beranjak dewasa, matamu jadi terbuka bahwa Bapakmu hanya ingin melindungimu. Agar kamu tak terlena dengan kesenangan bareng temanmu dan bisa fokus menata masa depanmu.

2. Larangan untuk pergi larut malam mungkin tak kamu gubris saat kamu belia dulu. Kini, kamu tau bahwa Bapakmu hanya khawatir akan keselamatanmu

Advertisement

Nggak digubris via nymag.com

Saat kamu masih belia dulu, nongkrong bareng teman-temanmu hingga larut malam sudah menjadi sebuah patokan apakah kamu anak gaul atau bukan. Saat ada jam malam yang Bapakmu berikan, tak mungkin kamu tak kecewa. Popularitas dan gengsi antara kamu dan teman-temanmu jadi taruhannya jika kamu tak dibolehkan keluar hingga malam. Namun seiring berjalannya waktu, kamu jadi tahu bahwa Bapakmu hanya mengkhawatirkan kamu. Keluar hingga larut malam lebih banyak kerugian daripada manfaatnya!

2. Saat kamu memilih pergi tanpa izin dari Bapakmu, tentu beliau marah tak karuan. Namun kamu kini paham, itu hanya caranya menempamu untuk tetap punya sikap bertanggung jawab

Dimarahin Bapak gara-gara main tanpa izin dulu via www.cultjer.com

Harapan sesampainya di rumah setelah seharian main bareng teman bisa istirahat dengan tenang seketika pecah karena amuk dari Bapakmu yang emosi karena pergimu tanpa izin terlebih dahulu. Mungkin pikirmu reaksi Bapakmu berlebihan. Toh yang penting kamu sampai rumah dengan selamat, izin pada orangtua pun tak jadi prioritas utama bagimu. Namun, kamu sekarang jadi paham bahwa Bapakmu itu khawatir akan keselamatanmu. Jangan sampai kamu tega melukai perasaan Bapakmu dengan keluar hingga malam tanpa izin terlebih dahulu. Kemarahan beliau hanya ingin mendidikmu menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

3. Karena terburu emosi, kamu marah-marah saat Ayahmu melarangmu pergi liburan bersama teman. Padahal dia hanya mau kamu fokus belajar dulu

jangan liburan dulu sama teman via www.largecabinrentals.com

Kamu pasti dulu sempat marah-marah saat tau Ayahmu tak memberi izin kamu pergi berlibur dengan temanmu. Batinmu marah dan mengumpat bahwa Ayahmu mungkin tak pernah muda, tak pernah merasakan bahagianya liburan bersama teman. Marahmu benar-benar meluap saat Bapakmu dengan tegas menolak permintaan izinmu. Umpatan marah terucap jelas dari mulutmu. Tapi seiring berjalannya waktu, kamu semain sadar bahwa Ayahmu tak memberimu izin karena ia sayang. Beliau ingin anak kesangannya ini fokus belajar demi masa depan. Kalau kamu sudah mapan dulu, liburan kemana saja bisa kamu lakoni tanpa merepotkan orangtua bukan?

4. Saat Bapakmu melarang kamu menjalin hubungan dengan seseorang, kamu berpikir Bapakmu terlalu mengekang. Namun kini kamu sadar, beliau hanya ingin kamu bahagia

Awas ketauan Bapak via greatist.com

Bagi gairah mudamu dulu, di antara semua larangan yang Ayahmu utarakan, yang paling membuatmu nyesek adalah kala beliau tak setuju kamu menjalin hubungan dengan orang yang kamu cinta. Kecewa itu pasti, tapi lebih dari itu kamu pasti marah-marah karena Ayahmu seakan tak percaya padamu untuk menjalin hubungan asmara. Pikirmu, mungkin Ayah masih menganggapmu selayaknya anak kecil yang tak tau apa-apa. Tapi setelah dewasa, kamu sadar bahwa anggapannya itu benar juga. Dengan melarangmu pacaran kala itu, Ayahmu melindungimu dari sakit hati yang mungkin kamu rasa karena putus cinta. Ia hanya ingin kamu bisa lebih bahagia nantinya.


Wajar kok jika kamu marah dan kecewa pada Bapakmu saat itu. Toh dulu kamu masih muda dan pikiranmu masih belum dewasa. Tapi saat kamu sudah beranjak dewasa, kamu jadi sadar bahwa Ayahmu hanya berusaha menjaga anaknya demi kebaikanmu sendiri. Kalau kamu pernah marah-marah gara-gara larangan beliau, segera minta maaf, gih. Suatu saat, kamu pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ayahmu saat kamu punya anak nanti.