Dulu saat menginjak usia 20 tahunan kamu salah satu cewek yang punya harapan bisa menikah di usia muda. Tak terpikir sama sekali kalau di usia yang sudah menginjak 27 tahun ini kamu masih sendiri alias belum menikah. Jangankan menikah, pasangan untuk masa penjajakan saja kamu belum punya. Bahkan kamu sendiri sudah terbiasa dengan pertanyaan, cibiran atau nasehat yang itu-itu saja. Diibaratkan makanan, usiamu ini hampir memasuki masa kadaluarsa. Setidaknya begitulah komentar kebanyakan orang yang gregetan dengan kamu yang kini justru terlihat lebih santai.

Kamu duduk entah menatap apa, sambil tersenyum dan menghela napas. Bertemu jodoh dan menikah sekarang atau nanti rasanya bukan lagi hal yang memberatkanmu seperti tahun-tahun sebelumnya. Kamu seperti sudah selesai dengan proses galau-galauan persoalan jodoh.

Bukan…. bukan karena kamu tak peduli mengenai jodoh masa depan. Tapi sekarang yang kamu tahu hanya menjalani proses memantaskan diri sembari mencari orang yang tepat. Terserah orang mau komentar, nasehat atau bertanya apa ke kamu tentang jodoh yang kalau dipikirkan terus nggak ada selesainya juga. Bisa dibilang, kamu sudah cukup kebal dengan hal-hal semacam ini!

1. Pertanyaan “Kapan nikah?” sih cuma masuk kuping kanan, dan pasti akan segera keluar lagi dari kuping kiri

Mending menyibukkan diri via shutterstock.com

Menginjak usia matang pertanyaan “Kapan nikah?” sudah jadi sesuatu yang kelewat mainstream. Hampir setiap lini kehidupan tak henti-hentinya menyuarakaan kalimat itu ke dirimu. Kamu sendiri tak pernah tahu maksud-maksud yang sebenarnya dari tiap orang yang bertanya. Mungkin ada yang sekadar basa-basi, atau memang ada yang benar peduli, bisa jadi juga ada sebagian yang kurang kerjaan dan maunya ikut campur urusan orang saja. Entahlah, apapun itu pastinya dulu pasti membuatmu agak risih, gregetan sampai bingung ingin menjawab apa pun tak perlu ditanya.

Advertisement

Berbeda dengan sekarang, di mana kamu justru sudah mulai nyaman dengan pertanyaan itu. Nyaman dalam arti tak lagi terlalu pusing memikirkannya. Urusan menjawabnya pun sudah ala kadarnya saja. Kalau memang belum ada calon dan belum ada bayangan kapannya, ya kamu akan bilang “Belum tahu nih kapan.” Setelah itu pertanyaan itu akan berlalu begitu saja dari dalam kepalamu.

Bisa dibilang, kalimat “Kapan nikah?” ini cuma masuk ke kuping kanan, mampir sepersekian detik di pikiran, setelahnya ya keluar lagi melalui kuping kirimu.

2. Melihat teman mesra dengan pasangan atau seru-seruan ngurus anak, kamu sendiri punya kegiatan yang sama asyiknya.

Kamu punya kegiatan yang nggak kalah seru via dylandsara.com

Entah sudah berapa banyak teman-temanmu yang satu angkatan atau sepantaran sudah memiliki keluarga kecil. Bahkan beberapa adik tingkatmu ada juga yang baru menggelar pernikahan. Dan kamu sendiri menyaksikan langsung bagaimana kehidupan mereka semua di sosial media. Entah temanmu yang mengunggah foto mesra bersama pasangannya, atau foto temanmu lainnya lagi yang sedang membagikan keseruan-keseruan menjadi orang tua muda.

Alih-alih baper dengan semua yang kamu saksikan. Sekarang kamu memilih berpikir positif, kalau kegiatan atau apapun hal yang dilakukan olehmu sama asyiknya dengan kehidupan mereka. Mungkin memang sekarang ada tugas yang mesti dituntaskan terlebih dahulu, seperti urusan karir. Tak apalah kamu belum bisa sukses dalam hal menikah, tapi bukannya kesuksesan sendiri ada banyak rupanya.

3. Diledekin jomblo dengan embel-embel ngenes. Kamu cukup tertawa saja, biar yang ngeledek jadi tambah kesel plus gemes

Kita jomblo tapi bahagia via www.logancoleblog.com

Mus, kamu nggak bosen apa sendirian terus. Ngenes banget sih hidupnya jomblo.

Hahaha, ngenes?! Menurut kamu aja kali ngenes. Aku sih santai, hahaha….

Sebenarnya kamu agak heran, ketika ada teman atau siapapun yang menganggap status kejombloanmu ini sesuatu hal yang menyedihkan sekali. Padahal, kamu sendiri yang belum punya pasangan hingga detik ini tak kurang-kurangnya merasa bahagia. Kamu masih punya keluarga yang bisa jadi pusat kebahagianmu. Ada teman dekat atau sahabat yang juga tak pernah membiarkanmu bersedih.

Jadi sah-sah saja, kalau kamu memilih menertawakan orang yang berpikiran terlalu picik tentang sumber kebahagian. Biar saja mereka kesal dengan responmu yang justru tertawa santai, sebab memang mereka perlu tahu ungkapan “jomblo ngenes” sudah tak ada lagi dalam kamus hidupmu.

4. Kemana-mana sendiri juga bukan masalah besar, Kamu justru menikmatinya sebagai kebebasan yang berharga

kemana-mana sendiri santai aja lagi via elizabethwellsphoto.com

Nilai plus yang harus orang tahu dari dirimu yang masih sendiri ini, apalagi kalau bukan kemandirian. Kamu sudah terbiasa melakukan atau pergi kemana-mana sendiri. Meski kadang orang memandangnya pun sama seperti ungpakan “jomblo ngenes”, terkesan menyedihkan karena tak ada yang bisa diajak berbagi atau menemani. Padahal kalau saja mereka menjadi kamu yang sekarang, mungkin mereka pun akan bersyukur.

Bagaimana tak bersyukur? Kalau kamu menganggap kesendirian ini sebuah kebebasan yang berharga. Kamu tak perlu repot meminta izin ke pasangan untuk melakukan berbagai hal kesukaanmu. Kamu tak perlu repot mendengar larangan ini itu dari pasangan yang katanya mengkhawatirkanmu. Toh sudah sedewasa ini, kamu pasti mengerti kewajibanmu untuk bertanggngjawab dengan dirimu sendiri.

Nikmati saja apa yang bisa kamu lakukan sekarang. Pergi ke tempat baru, berpetualang dan mencari pengalaman serta pelajaran hidup sebanyak-banyaknya. Tak menutup kemungkinan, kelak sebuah perjalan justru menjadi titik pertemuanmu dengan dia yang tepat untuk jadi pendamping hidupmu. Bukankah kemungkinan selalu terbuka lebar untuk siapa saja yang mau memasukinya?

5. Acara-acara percomblangan juga udah jadi hal biasa yang kamu sikapi dengan tangan terbuka, tapi nggak ngoyo juga

Udah nggak ngoyo via shutterstock.com

Dikenalkan dengan si ini, si itu, si dia bukan lagi hal yang baru. Entah sudah berapa cowok yang datang mengulurkan tangan silih berganti, tapi sayang tak ada satupun yang berjabatan erat hingga kini. Sedih, putus asa, atau merasa khawatir, dulu mungkin iya, tapi sekarang perasaan-perasaan itu sudah bisa kamu atasi.

Sebenarnya kamu sendiri sudah tak terlalu memikirkan segala percomblangan yang dilakukan orang-orang terdekatmu ini. Ada yang cocok ya bersyukur, tapi nggak ada yang cocok ya tak masalah. Terpenting, kamu selalu berusaha membuka tangan untuk mengenal seseorang. Urusan jodoh atau bukannya ya kembali lagi ke Sang Pencipta Semesta. Kalau Dia belum mengiyakan, kenapa juga harus ngoyo atau memaksakan diri?

6. Momen ketemu keluarga juga nggak akan bikin baper, sekalipun ada pertanyaan mana calon menantu buat ayah dan ibu?

udah nggak perlu baper-baperan lagi via www.logancoleblog.com

Kakakmu sudah menikah, sedangkan adikmu pun sudah punya pasangan yang bisa diandalkan untuk dibawa ke masa depan. Tapi kamu sendiri gambaran siapa yang akan jadi pasangan saja belum ada. Pantas kalau akhirnya, momen bertemu keluarga kadang mengharuskanmu berpikir lebih keras untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar jodoh.

Awal-awal mengahadapinya, berat itu sudah pasti. Membuatmu menarik napas dalam-dalam dan berpikir kalau kamu harus berdamai dengan momen ini. Dan benar saja, berdamailah yang membuatmu tak lagi pusing atau baper sendiri saat membahas persoalan jodoh bersama keluarga. Buatmu berterus terang lebih baik, tak mungkin juga orang tua tak mengerti perasaanmu ini.

Paling, saat ditanya, “Mana nih calon menantu buat Bapak dan Ibu dari kamu?”

Jawaban jitumu ya apalagi kalau bukan, “Doain aja ya Pak, Bu.”

7. Kamu sendiri tak lagi mengeluh soal jodoh, bertemu sekarang atau nanti dirimu tetap baik-baik saja

ketemu sekarang atau nanti, aku akan tetap baik-baik saja via dylandsara.com

Jodoh itu ketetapan Pencipta Semesta yang tak bisa diganggu gugat. Mau sekeras apapun kamu mencarinya kalau memang belum waktunya bertemu, ya tetap saja tak berbuah hasil. Lagipula mengeluhkan soal jodoh sampai kapanpun tak akan memberi jawaban. Bahayanya lagi keluhanmu bisa jadi bumerang untuk diri sendiri yang buatmu semakin resah.

Bukankah proses mencari pendamping setiap orang itu tak selalu sama. Bisa jadi buatmu porses pencarian ini mengharuskanmu selesai dengan urusan dirimu seperti cita-cita. Bukan tanpa alasan kamu harus mencapai target lain terlebih dulu. Mungkin supaya kamu paham, kalau ada atau tak adanya dia dirimu tetap baik-baik saja.

Kamu nggak perlu jadi pribadi yang terlihat menyedihkan, cuma karena belum bertemu jodoh di usia yang sudah matang. Bukankah memaksakan diri seperti halnya berlari, perlu pemanasan dengan baik supaya kamu tak menciderai dirimu sendri.

Semoga saja urusan jodoh tak membuatmu ngoyo sekali. Ingat setangguh-tangguhnya hati pun perlu kamu istirahatkan dari proses pencarian yang terlalu memaksakan diri.