Artikel ini terinspirasi dari @aminfadlillah, pemenang hari 3 #30HariTerimaKasih Challenge. Hayo, sudahkah kamu cukup bersyukur hari ini?

Nada bicaramu datar. Kau hampir tak pernah bertanya, lebih banyak melempar pernyataan. “Pulang sebelum jam 9, ya.” Ujarmu tegas. “Jangan sampai kemalaman.” Hanya sekejap dirimu melirikku dari balik kacamata dan buku yang sedang kau baca.

Advertisement

Makna “terlalu malam” dalam kamusmu sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Aku, misalnya, tak menganggap pulang pukul 22.00 sebagai suatu ketidakpatutan. Menurutku yang congak itu, keamananku toh terjamin karena ada yang mengantar pulang. Namun di matamu, justru karena itu aku harus kembali secepatnya. Soal menjaga putrimu ini, tak ada anak lelaki yang bisa dirimu percaya.

Aku masih bocah SMA waktu itu. Tentu saja kata-katamu tak kudengarkan dengan benar-benar. Aku pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kau sudah menunggu di teras rumah, di depan dada menyilangkan tangan. Hatiku luruh melihatmu menghabisi pacarku yang juga masih bocah dengan kalimat penuh ceramah.

“Kami tadi cuma ngobrol, kok!” kataku membelanya. Malam itupun sebenarnya kami tidak pergi berdua, ada teman-teman kami yang lainnya.

Waktu memang jadi tidak terasa karena kami semua bersilat lidah begitu asyiknya.

Advertisement

Tapi tentu kau tidak peduli. Esoknya aku dihukum tak boleh sering-sering main lagi. Pacarku selalu mendapat ceramah panjang darimu, bahkan berbulan-bulan setelah malam itu.

Sekarang aku sudah jauh lebih dewasa. Umur sudah mantap menginjak kepala dua. Namun saat meminta izin untuk pergi ke luar rumah di malam hari, kau masih meresponnya dengan kalimat yang sama.

“Jangan pulang malam-malam,” katamu. Aku mengangguk, sebelum mengambil kunci motor dan menutup pintu.

Meski tak pernah langsung kau utarakan, aku paham. Kau selalu ingin menjagaku dengan segenap kekuatan

Bahkan saat terkadang aku merasa aman-aman saja tanpa penjagaan via miyubeauty.tumblr.com

Dalam beberapa hal kita memang berbeda pandangan. Aku seseorang yang lebih bebas dan tak mempermasalahkan; kau lebih banyak keberatan dan melarang. Apalagi kalau sudah tentang pacaran. Bagimu, semua laki-laki yang ingin mengajakku kencan harus menampakkan diri di rumah dulu untuk meminta izinmu. Masalahnya, izin itu begitu jarang kau berikan. Dirimu lebih sering memanfaatkan pertemuan itu untuk memarahi si anak laki-laki dan membuatnya tak berani lagi untuk menampakkan diri. Gara-gara ini, saat aku SMA kita berdua sering berselisih. Aku pun mulai menjaga jarak denganmu — sikapmu yang selalu ingin mengawasiku justru membuatku merasa risih.

Semakin aku bertambah dewasa, semakin aku tahu niatmu hanyalah menjaga. Mungkin karena aku semakin mengerti bahwa bukan dunia yang mudah di luar sana. Caramu menunjukkan perhatian memang tak selalu menyenangkan. Namun karenamu, hingga kini aku selalu hati-hati — kau berhasil membuatku selalu berpikir dua kali sebelum memutuskan mencintai.

Aku tahu kau sedang berjuang mengikhlaskan. Menyaksikanku tumbuh dewasa mungkin membuatmu merasa sedikit kehilangan

Kita lebih banyak bermain santai saat aku kecil via www.amornews.az

Saat aku kecil dulu, kita banyak bermain berdua dan bercerita. Kau menggendongku, sesekali mengangkatku ke udara. Aku selalu tertawa dibuatnya.

Kau pun bukan tipe Ayah yang gengsi mengasuh putrinya ketika sang Ibu tak ada. Di depan teman-temanmu, kau tak segan menyuapiku. Kadang kau jugalah yang mengganti popokku. Tugas untuk merawatku memang kau bagi berdua dengan Ibu. Tak ada yang salah dengan ini di matamu.

Namun semakin aku dewasa, semakin kau memposisikan diri sebagai penjaga yang tak banyak bicara. Sosokmu yang hangat berganti menjadi tegas. Kau percaya, aku tak boleh terlalu bebas.

Mungkin kau hanya takut aku salah pergaulan. Mungkin kau takut aku salah memilih teman.

Mungkin kau terkejut menyadari aku kini sudah dewasa. Mungkin kau merasa kehilangan, dan membuatku menurut padamu adalah peliput lara.

Tak perlu takut aku melupakanmu. Sampai kapanpun, kau tetap lelakiku yang nomor satu

Kau yang nomor satu via www.teenlife.com

Malam ini aku baru saja pulang dari lembur menyelesaikan pekerjaan. Pukul 11 malam. Ternyata kau beberapa kali mencoba meneleponku, namun tak kudengar. Ada dua pesan darimu yang baru kubuka sekarang.

“Mbak, udah di mana?”

“Mbak, ini udah malam. Cepat pulang.”

Ketika akhirnya aku sampai, pintu rumah sedikit terbuka dan televisi masih menyala. Kotak televisi itu menontonmu tertidur di atas sofa. Hanya setengah badanmu yang tertutup selimut. Tangan kananmu memegang remote TV dan tangan kirimu menyangklungkan ponsel ke depan dada.

Kau tertidur selagi menungguku pulang.

Kumatikan televisi dan kulepas kacamata dari wajahmu. Pelan-pelan, kupastikan selimut flanel putih itu menyelimuti seluruh badanmu.

Ah, siapalah yang nanti bisa menggantikanmu dalam hidupku?

Mana ada, pikirku.

Bahkan jika nanti aku sudah berumah tangga — tak ada yang mampu menggesermu dari posisi nomor satu.

Selain rasa terima kasih atas Ayah yang selalu menjaga, adakah ucapan terima kasih lain yang ingin kamu ungkapkan padanya? Ceritakan pengalamanmu ke Hipwee lewat campaign 30HariTerimaKasih di Instagram, yuk!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya