Dear suamiku, kita bisa bersama dalam hubungan yang dipersatukan Tuhan pasti dengan alasan. Mungkin di dunia ini memang cuma kamu yang mampu menghadapi mood buruk yang mengubahku jadi kentang di atas sofa seharian. Mungkin juga cuma aku yang bisa membaca pesan-pesan tersirat dalam kalimat straight forwardmu. Cuma aku yang tetap bisa merasa disayang walau diperlakukan sedatar itu.

Pernikahan juga bukan jalan tol tanpa hambatan, sungguh aku sadar. Beda pendapat, perjuangan finansial, sampai komitmen yang entah harus dipertahankan atau dilepaskan.

Advertisement

Suatu hari nanti bisa saja kamu bertemu seseorang yang bisa menyapamu dengan manis, saat sambutanku di rumah sudah tidak sehangat dulu. Mungkin kamu lebih nyaman melihat dia yang masih punya waktu merawat diri. Sementara aku sudah tidak punya waktu. Boro-boro berdandan, jadwal kuliah Master-bekerja-menyusui anakmu sudah sukses membesarkan kantung mataku.

Jika ujian itu yang tiba pada kita, jika takdir membawa kita harus berdamai dengan perempuan lain yang netizen banyak sebut “Pelakor” di sosial media — aku cuma berharap ini saja.

1. Kuharap kamu yang bicara. Kuharap kamu menghargaiku sebagai pasangan yang masih bisa diajak bercerita

Kuharap aku tidak perlu menemukan kabarmu dekat dengan perempuan lain lewat orang lain apalagi sosial media. Walau komitmen sudah terkhianati, kuharap kamu masih menghargaiku sebagai pasangan yang berhak tahu apapun yang terjadi dalam hubungan yang kita bangun bersama.

2. Semoga kamu punya kerendahan hati mengakui kalau ini kesalahan. Tidak perlu mengelak, toh di sini aku juga punya peran

Advertisement

Kamu yang kukenal sampai akhirnya kunikahi bukan laki-laki pengecut yang pandai berkilah. Kuharap kamu bisa datang padaku dengan jantan lalu mengakui kalau sudah membuat kesalahan. Kuharap aku punya pengendalian diri supaya tidak berteriak, memukul, apalagi menyumpahimu. Biar bagaimanapun dalam blunder ini tetap ada andilku.

3. Walau bingung dan kalut melihatku, kuharap kamu mau mendekat untuk memelukku

Kuharap kamu cukup kuat menangkapku masuk ke pelukanmu. Pasti aku memberontak karena malas disentuh. Semoga kamu tahu kalau itu refleks rasa kecewa dan cemburu.

4. Jika harus tidak bertemu beberapa waktu setelah pengakuanmu, kuharap kita sadar kalau ini fase normal untuk berpikir. Jeda ini kita butuhkan. Tidak pasti mengarah ke perpisahan

5. Menolak bertemu beberapa waktu adalah reaksi wajar . Terburu-buru bicara bisa jadi dari mulut kita juga tidak keluar banyak kata.

6. Tak perlu ada nada tinggi saling membentak waktu kita ingin menyelesaikan semuanya

7. Aku berharap kita bisa tetap bicara seperti orang dewasa. Walau kecewa, sakit, argumen bisa dengan tenang dikeluarkan

Loving couple in a sunny summer city

8. Semoga kita fokus pada “Kita”, bukan fokus pada pelakornya saja. Dia tidak salah sepenuhnya

Portrait of amorous young couple looking at camera in isolation

9. Kuharap saat itu aku cukup punya pengendalian diri untuk selalu ingat kalau pasti ada juga yang salah dariku

10. Semoga kita tidak perlu mengambil jalan memutar, menghabiskan waktu untuk menyalahkan orang. Saat masalahnya cuma kita sendiri yang bisa selesaikan

11. Semoga kamu ingat apa yang membuat kita yakin bisa hidup bersama. Semoga Tuhan membukakan kenangan-kenangan baik yang sudah pernah kita jalani sebelumnya

12. Kuharap kamu bisa dengan jantan menyudahi apa yang sudah dimulai. Ada perasaan orang lain yang juga harus dihargai

Loving couple in a sunny summer city

13. Butuh waktu menyembuhkan luka karena dikhianati. Sembari menunggu aku harap kita bisa menemukan jalan untuk jatuh cinta lagi

14. Kamu tidak akan kucap sebagai pengkhianat, Sayang. We are one flesh. Menjelek-jelekkanmu sama saja menjatuhkan harga diriku

Jika nanti takdir membawa kita pada ujian komitmen yang sedang hits di media sosial ini, kuharap kita bisa menyelesaikan semua tanpa letupan emosi. Hubungan ini tidak perlu dipublikasikan, yang terpenting semua tuntas dan kutukan itu tidak berulang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya