Atas dasar khilaf atau tidak, kesalahan yang dilakukan selalu punya kesempatan untuk dimaafkan. Hanya saja, setiap orang punya hak untuk membuka lebar kesempatan atau justru menutupnya rapat-rapat untuk memaafkan.

Kali ini kamu bersikap legawa. Kamu memilih untuk memaafkan dia. Tak perlu disebutkan kesalahan apa saja yang telah dia lakukan. Yang pasti kesalahan tersebut berhasil melukai hatimu sampai bagian yang paling dalam. Kesempatan kedua ini kamu berikan bukan tanpa alasan. Bukan karena takut dengan kesendirian. Tapi karena hati ini sudah terlalu klik dengannya, meskipun pernah dihujam belati olehnya.

Advertisement

Menerima kembali dia yang pernah menyakiti jelas memberikan pengaruh ke hubungan kalian. Layaknya membangun puing-puing rumah yang telah roboh, ada bagian yang tanpa sadar akan berubah. Fondasi serta tiang-tiang penyangga rumah tak lagi seperti dulu, saat pertama kali direncanakan berdua. Kurang lebih seperti hal-hal di bawah ini.

1. Rasa percaya memang masih ada. Tapi jelas tak lagi sebesar dulu kadarnya

Rasa percaya tak lagi sama via redsheepphotocinema.com

Kepercayaan yang kamu berikan padanya memang pernah porak poranda. Tapi dengan tulus kamu melihat dia berusaha untuk menyusunnya kembali. Niat tulusnya ini kemudian kamu sambut dengan tangan terbuka. Kamu dan dia kembali seperti dulu. Bergandengan dan berjalan bersisian. Tapi jauh di dalam lubuk hati dan pikiranmu, rasa percaya ini tak lagi sepenuhnya terisi. Ada beberapa bagian yang tumpah dan tak bisa dikembalikan.

2. Kesempatan kedua yang kamu berikan menumbuhkan rasa insecure yang lebih besar. Selalu ada rasa takut kalau dia kembali menyakiti

Insecure sendiri via nouba.com.au

Wajar jika kamu merasa insecure setelah memberikan kesempatan kedua olehnya. Sebab rasa insecure itu tumbuh tak bisa kamu hilangkan begitu saja. Meski dia berjanji tak akan pernah melakukan kesalahannya, kamu masih saja merasa ketakutan. Takut jika kesempatan untuk menyakitimu terbuka lagi. Sebab kamu tahu, belum ada jaminan dia sepenuhnya berubah. Meski kalau didengarkan secara sekilas janjinya kepadamu seakan meyakinkan sekali.

3. Meski kembali bersama, cara pandangmu terhadapnya tak lagi sama. Bukan lagi sosok sempurna yang dulu pernah kamu damba

Cara pandangmu ke dia tak lagi sama via nouba.com.au

Advertisement

Dulu kamu memandangnya sebagai sosok yang selama ini hatimu tunggu. Segala hal-hal baik yang ada pada dirinya kamu hafal di luar kepala. Tapi begitu dia menyakiti perasaanmu dengan kesalahan tertentu, pandanganmu tentang sosoknya pun berubah. Kamu memandangnya sebagai manusia biasa yang tak sesempurna. Kamu pun menemukan versi dirinya yang baru. Seperti tak sabaran atau marahnya kadang berlebihan. Tapi sekali lagi, hatimu mengalahkan logika dengan masih mau menerimanya kembali.

4. Kenyamanan dalam hubungan juga tak lagi seperti dulu. Ada lubang yang tak bisa ditutupi meski kata maaf sudah keluar darimu

Kenyamanan tak lagi seperti dulu via nouba.com.au

Pusat nyamanmu dulu hanya satu. Dia dan segala sesuatu yang dirinya lakukan untukmu. Pelukan, usapan tangannya di puncak kepala, hingga kata-kata yang selalu mampu menghapus air matamu. Meski di kesempatan kedua ini, pusat nyamanmu belum bergeser darinya, tapi rasanya kini berbeda. Kenyamanan yang kamu rasakan tak lagi 100 persen. Mungkin hanya tersisa 80 persen atau justru di bawahnya. Janjinya untuk berubah memang manis. Tapi tetap tak bisa sepenuhnya menutup lubang yang terlanjur ada di hatimu.

5. Di balik sikapmu yang masih mau dipeluknya, kamu juga bukan lagi sosok lugu yang tak tahu apa-apa

Kamu bukan lagi sosok lugu via nouba.com.au

Memberinya kesempatan kedua tanpa sadar meng-upgrade dirimu. Sebelum dihantam rasa sakit olehnya, kamu adalah sosok lugu yang selalu percaya apa yang pacarmu lakukan. Saat dia lama tak menghubungi dan bilang sibuk dengan aktivitasnya, kamu begitu saja percaya. Bahkan di saat ada orang lain yang berkata sebaliknya, kamu masih saja tak percaya. Kini setelah merasa sakit akibat kesalahannya, kamu tak lagi sosok lugu yang tak tahu apa-apa. Kamu selalu mengkaji ulang apakah yang dia katakan benar adanya atau hanya bualan belaka.

6. Pernah disakiti membuatmu lebih membentengi hati. Kamu jadi tak mudah termakan kata-kata sayang yang dulu buatmu mabuk kepayang

Nggak mempan! via nouba.com.au

Di awal pacaran dulu, kamu selalu dibuat melayang dengan kata-kata sayang. Amarahmu bahkan mudah surut ketika dia sudah memberikanmu rayuan maut. Tapi kini tak lagi seperti itu. Rasa sakit buatmu membentengi hati dua kali lebih rapat. Tak ada lagi celah untuk kata-kata sayang yang hanya manis di mulut saja.

Apapun alasannya, menerima kembali dia yang pernah melakukan kesalahan itu mutlak pilihanmu. Orang lain memang akan memberikan komentar sesuka hati. Tapi pastikan kamu benar-benar mengambil keputusan dengan penuh kesadaran dan paham risiko yang nanti kamu hadapi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya