Artikel ini terinspirasi dari kisah @belindasudirmanPemenang hari  #30HariTerimaKasih Challenge. Hayo, sudahkah kamu cukup bersyukur hari ini?

Hey, adikku yang kian hari makin besar dan tampan.

Semoga tulisan ini tidak membuatmu menahan mual karena terlalu banyak mengandung urusan perasaan. Dasar memang sok jantan sekali, menyentuh perasaan sedikit pasti kau bilang aku berlebihan mengungkapkan isi hati.

Advertisement

Hubungan kita memang tidak semanis ikatan kakak-adik di foto-foto Tumblr yang dreamy kesannya. Kamu juga bukan orang yang kebaikannya kuceritakan ke mana-mana. Kita lebih sering saling mengusili, menyembunyikan barang atau memanggil dengan nama sapaan yang konyol sekali.

Aku bisa terlihat sok mengatur dan menyebalkan sesekali. Tapi kakakmu ini diam-diam mengagumi. Kamu, adik laki-laki kecilku, sebenarnya kubanggakan sepenuh hati.

Meski tidak mengakuinya, aku merasa beruntung kita tumbuh bersama. Kau dan aku jadi sahabat dan rekan saling mengusili yang tak ada dua

Aku merasa beruntung kita bisa tumbuh bersama

Aku merasa beruntung kita bisa tumbuh bersama via keithpitts.net

Tumbuh besar bersamamu memang menyisakan cakaran-cakaran kecil di tubuhku. Juga beberapa bekas luka yang masih tertinggal sampai hari ini di sisi kiri lenganku. Dulu, kamu pernah seusil itu.

Advertisement

Saat kamu masih kecil dan aku mulai remaja kamu adalah definisi gangguan yang paripurna. Mengikutiku ke mana-mana, mengobrak-abrik kamar yang sudah tertata, bahkan iseng mengintip kiriman surat cinta. Ah! Kehadiranmu dulu membuatku ingin meledak saking kesalnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, rasa beruntung mulai terselip dalam setiap fragmen kehadiranmu. Perlahan, kamu makin dewasa. Keusilanmu tergeser dengan sifat mengayomi dan mulai sedikit bijaksana. Adik kecilku kini mulai tumbuh jadi pria dewasa.

Jika ditanya apakah aku ingin bertukar kawan tumbuh bersama, diam-diam akan kukatakan “Tidak” sebagai jawabannya. Kamu adalah rekan tumbuh bersama yang terbaik yang Tuhan kirim pada umatnya. Meski kenyataan itu enggan kuakui dengan terbuka.

Dalam diam kau tunjukkan bagaimana seorang pria seharusnya bersikap. Tidak ada alasan buatku untuk merasa tak genap

Kamu menunjukkan alasan bagiku untuk merasa genap

Kamu menunjukkan alasan bagiku untuk merasa genap via www.flickr.com

“Mbak, ngapain sih kamu galau begini? Udah lah putusin aja pacarmu. Kamu bisa dapat yang lebih baik dari itu.”

Masukan-masukanmu tentang perasaan makin ke sini kian terasa masuk akal. Saat aku sedang galau-galaunya, kamu datang dengan pemikiran rasional yang membuka mata. Dengan gaya cuek dan kata-kata sederhana, kamu tunjukkan bagaimana seharusnya sikap seorang pria.

Waktu hubunganku sedang di titik absurd level dewa, titik yang membuatku merasa tidak pernah cukup sebagai wanita — kamu menenangkanku dengan cara yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kuingat jelas saat itu kita berbaring berdua di atas kasurmu, dengan hidung dan mata yang kian sembab karena air mataku.

“Kamu ngapain nangis sih ah?”, ucapmu kesal melihat air mataku kembali keluar.

Pendapatmu selanjutnya malam itu kembali mengguncang perasaanku,“Baik sama naif itu beda tipis, Mbak. Kamu boleh baik tapi sama cowok yang tepat. Kalau terlalu baik tapi sama cowok sembarangan itu namanya rela dimanfaatkan.” 

Dalam diam, kau tunjukkan bagaimana pria seharusnya bersikap. Ketegasanmu mengungkapkan apa yang ada di pikiran membuka mataku soal keteguhan dan keyakinan. Sesungguhnya tak ada alasan buatku untuk merasa tak punya kemampuan.

Tumbuhlah, adik kecilku. Pria kedua yang paling kupercaya setelah Papa. Pria yang kelak akan jadi kebanggan keluarga

Tumbuhlah dewasa, tapi jangan melupakan keriaan di luar sana

Tumbuhlah dewasa, tapi jangan melupakan keriaan di luar sana via teresaburkephotography.com

Tumbuhlah Dek, jadilah pria yang sebenarnya. Yang hormat pada mama,yang meniru semangat kerja papa. Pria yang jadi kebanggan keluarga.

Tumbuhlah Dek, kejar semua impianmu di luar sana. Jadi pemain basket yang handal. Atau calon dokter yang penuh kesahajaan. Apa saja yang kau mau. Lakukan semua dengan kesungguhan dan daya juang. Yang paling penting, selalu ingat berbagi saat kesuksesan sudah di tangan.

Dewasalah Dek, sudah saatnya kita berbagi peran. Sudahkah kau tangkap muka Mama Papa mulai berhias kerutan dan uban? Ya, mereka bertambah tua. Sementara kita makin dewasa. Semoga saat aku sudah bekerja. Dan kau hampir selesai studinya. Hingga tak perlu lagi mereka berpikir, “Anakku butuh apa?”

Semoga kamu tak pernah lupa. Ada kakak perempuan yang diam-diam menyimpan rasa bangga. Sudah dianugerahi lelaki kecil yang begini baiknya

Semoga kamu tak pernah lupa pada bangganya kakak perempuanmu

Semoga kamu tak pernah lupa pada bangganya kakak perempuanmu via brandiwatford.com

Jangan lupa, bersenang-senanglah. Jalinlah perkawanan. Kembangkan persaudaraan. Cicipilah gelegak percintaan, dalam koridor keimanan. Rayakan masa mudamu dengan keriaan.

Tidak lagi banyak yang kakakmu ini harapkan — selain kebaikan yang akan datang pada adik kecil yang sungguh ia sayang. Diam-diam, kau akan terus kubanggakan

Adakah rasa syukur lain yang ingin kamu ungkapkan pada teman tumbuh terbaikmu? Jika ada, yuk bagikan kisahmu lewat #30HariTerimakasih Challengebersama Hipwee di Instagram!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya