Mempersiapkan segala hal termasuk jodoh dalam hidup kita bukanlah perkara mudah. Persiapan yang matang serta kemampuan menentukan pilihan yang tepat adalah jawabannya.

Tak melulu jauh-jauh untuk bertemu dengan orang yang tepat, kadang yang terdekat pun bisa menjadi belahan jiwa. Dan, memantapkan hati dan diri demi calon jodoh adalah hal bijak yang bisa kita lakukan saat ini.

“Jodoh memang takkan kemana, toh Tuhan telah menggariskan semuanya. Termasuk kamu, yang semoga saja kelak akan menjadi imamku, hey pria idamanku…”

Pertemuan antara kita memang tak kunjung tiba. Tapi tenanglah, bukankah Tuhan maha hebat untuk mengatur semuanya?

Tuhan belum mempertemukan kita via dylandsara.com

Pertemuan yang mungkin “ditunda” ini sangat membuatku tidak sabar. Aku tak sabar mengenal dan mengajakmu bercengkrama bersama merencanakan tentang masa depan kita nanti. Tetapi, takkan mengapa jika memang waktu pertemuan kita belum terjadi saat ini. Aku yakin akan tiba masa di mana kamu dan aku bisa bersanding bersama di akhir hari.

Advertisement

Aku yakin, Tuhan telah menggariskan semuanya termasuk takdir kita berdua. Aku siap menanti dengan pasti waktu yang indah itu tiba. Aku takkan main-main dengan penantian yang telah keras kuupayakan ini. Besar harapanku bahwa menunggumu adalah bukan hal percuma.

Tak hanya menanti tanpa berbuat apa-apa. Telah kuceritakan tentang kamu pada kedua orang tuaku dan semoga mereka memberikan restunya.

kamu, aku dan orang tuaku via dylandsara.com

Sering kubincangkan penantianku terhadapmu kepada orang tuaku, meski kadang bercanda atau tak jarang dengan nada serius. Aku terus bersabar sambil menyaksikan iringan restu yang kelak akan mereka berikan untuk kita. Tak bisa kupastikan bahwa orang tuaku adalah sosok yang memanjakan atau menuruti segala permintaanmu, yang bisa kupastikan adalah mereka akan menyayangimu persis seperti orang tuamu sendiri.

“Hey calon imamku, kuharap kamu juga mempersiapkan diri untuk segera menjadi anak kesayangan orang tuaku nanti…”

Bisa berada di sisimu kini jadi harapan terbesarku saat ini. Aku pun sedang berjuang memperbaiki diri agar lebih cepat memelukmu di sisi.

aku tak berharap lebih via medicalnewstoday.com

Tak bisa kupungkiri bahwa hidup tak selalu berada di atas, kegelisahaan serta duka lara tak bisa kita cegah untuk senantiasa hadir. Satu hal yang telah aku siapkan untuk ini adalah kemauanku menemani, mendampingi, serta mendekapmu erat saat semua hal buruk dalam hidup datang menghampiri.

Aku pun tak mau berpangku tangan saja. Kuusahakan untuk menjadi pribadi yang sebaik-baiknya. Harapanku, semoga saat kita bertemu nanti, kita telah sama-sama jadi manusia yang mendekati sempurna. Sehingga, aku dan kamu akan lebih siap menjalani biduk rumah tangga.

Semoga kamu di sana juga sedang berjuang. Mempersiapkan masa depan demi kita berdua dan anak-anak yang kelak jadi kesayangan.

puaskan dulu dengan duniamu via dylandsara.com

Puaskan hasratmu bekerja selagi pertemuan kita belum menjadi kenyataan, calon imamku. Bekerjalah dengan hati, bekerjalah dengan tulus dan bijak. Tak usah kamu kejar gelimangan materi, hematlah waktumu untuk berdo’a dan mengupayakan yang terbaik demi masa depan kita dan anak-anak nanti.

Hingga saat ini, impian-impian tentang dirimu masih rapat kusimpan. Siapa, darimana dan seperti apa dirimu jadi hal menarik yang selalu kupikirkan.

kamulah, yang aku tulis dalam impian via dylandsara.com

Aku penasaran, seperti apakah sosokmu? Apakah kamu pria tampan dengan perawakan tinggi serta kumis tipis yang menggemaskan, atau kamu pria manis dengan kaca mata tebal berteman buku-buku bacaan? Ah… Aku mulai tak sabar ingin segera dipertemukan denganmu.

“Semoga Tuhan mendengar doaku. Mengamini harapan-harapanku untuk segera dipertemukan denganmu.”

Aku hanya berharap kelak bisa menua bersamamu. Mensyukuri bahwa kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku.

tentunya, masa tua akan indah jika denganmu via stylishwife.com

Pertemuan denganmu adalah kebahagiaan terbesarku. Menjalani masa depan bersama hingga kita sama-sama menua tentu yang aku inginkan satu-satunya. Kamu adalah anugerah yang Tuhan berikan untukku. Kamu adalah pendamping yang Tuhan titipkan padaku.

“Aku menunggu saat itu tiba. Ketika kita dipertemukan dan segera memulai masa depan bersama hingga suatu saat kelak menutup mata…”