Kalau dihitung-hitung, hubungan kamu dan dia memang belum ada setahun. Jangankan satu tahun, lewat dari fase enam bulan saja belum. Bukan ingin membandingkan hubungan kalian dengan teman-temanmu. Tapi kadang kamu merasa ada yang ganjil dengan hubungan ini. Rasanya hubungan kalian seperti “berat sebelah” dan tak jelas arahnya. Bukan tak ingin mensyukuri kehadiran sosoknya juga. Tapi memang kamu sering bertanya sendiri dalam hati, sebenarnya dia tepat atau tidak untuk dijadikan pendamping masa depan.

Awalnya kamu tak menghiraukan ragu yang kadang bertandang ke hati dan pikiranmu. Tapi lama-lama kamu pun dibuat resah. Alih-alih kamu terus bimbang dan mumpung hubungan kamu belum terlalu jauh. Ada baiknya beberapa hal yang Hipwee uraikan di artikel kali ini kamu teliti baik-baik. Kira-kira cowokmu melakukannya atau tidak?

1. Selalu memintamu menjadi seperti yang dia ingini, sampai kadang kamu merasa kehilangan jati diri

dia membuatmu pelan-pelan kehilangan jati diri via unsplash.com

Diminta nggak banyak ngatur atau tanya. Disuruh ngurusin badan dan dandan seperti pasangan teman-temannya. Sampai kamu sendiri sering diminta mengurangi kegiatan yang berkaitan dengan hobimu sendiri. Alasannya supaya kamu punya lebih banyak waktu dengannya. Padahal dia ingin kamu tak sering kumpul dengan teman-temanmu.

Dia selalu memintamu menjadi sosok cewek yang sesuai dengan kacamatanya. Tanpa peduli kamu nyaman atau tidak. Sementara kamu mulai sering merasa berubah jadi sosok yang dirimu sendiri tak mengenalnya. Apa ini yang disebut memperbaiki diri sama-sama? Kalau kamu justru selalu jadi pihak yang ingin diubahnya. Jangankan menghargai usahamu, mencoba berdamai dengan kekuranganmu saja dia kadang tak bisa.

Advertisement

Cinta seperti apa ini yang tuntutan lebih banyak dari kepedulian dan penerimaan?

2. Saat diajak main ke rumah menghindar, padahal kamu cuma ingin dia dan orangtuamu saling kenal

Selalu enggan jika diajak main ke rumahmua via www.logancoleblog.com

Rasanya sudah banyak alasan darinya yang keluar masuk ke telingamu. Dari yang paling klise sampai yang nggak masuk akal. Padahal ajakanmu main ke rumah bukan untuk memancingnya membicarakan hal serius seperti hubungan kalian ke orangtua. Kamu cuma ingin dia dan orangtuamu saling kenal. Setidaknya orangtuamu tahu anaknya sedang dekat atau menjalin hubungan dengan siapa.

Toh kalau dia punya niat baik dengan hubungan kalian, harusnya tak perlu menghindar saat diajak berkenalan dengan keluargamu. Kalaupun dia belum siap, kenapa juga tak bicara terus terang apa sebabnya.

3. Kamu selalu disalahkan olehnya, saat ada sesuatu yang tak berjalan sesuai harapan

Buatnya semua masalah itu salahmu via unsplash.com

Lewat fase tiga bulan, kamu dan dia jadi kerap mengalami salah paham, bahkan sampai bertengkar. Tapi bukannya saling berbenah dan belajar dewasa dari setiap persoalan. Dia justru lebih sering menyalahkanmu. Dikit-dikit bilangnya, “Kamu sih….” atau “Udah deh nggak usah ngeyel kalau salah,”. Seolah setiap masalah yang ada, dia tak ikut andil. Sekalipun kamu merasa dia yang salah, tapi tetap saja harus kamu yang disalahkan.

Rasanya, istilah cewek selalu benar dan cowok selalu salah seperti terjungkir balik di hubungan kalian.

4. Dia selalu bilang “Terserah” setiap kali kamu meminta pendapatnya. Seolah urusanmu bukanlah urusannya

Terserah dan terserah saja jawabannya via www.samhurdphotography.com

Menurutmu, baiknya aku ambil freelance yang mana?

Terserah kamu lah, ‘kan yang kerja kamu.

Sekali dua kali, kamu masih memaklumi terserahnya dia. Tapi lama-lama kamu dibuat gerah. Kenapa sebagai pasangan dia tak bisa saling melengkapi dengan berbagi pemikiran atau pendapat. Bukannya sebagai pasangan, seharusnya dia bisa diandalkan untuk dimintai pendapat. Terlebih itu hal sepele yang tak terlalu menguras pikiran. Masa iya dia tak punya kalimat lebih baik dari “Terserah”. Dari urusan berbagi pendapat saja sudah tak bisa. Bagaimana nanti berbagi soal visi yang kalian punya?

5. Jangankan membicarakan rencana nikah, diajak menyusun jadwal liburan bareng saja selalu ada alasan untuk tak mengiyakan

sulit membicarakan rencana yang kongkrit dengan dia via www.logancoleblog.com

Diam-diam kamu iri dengan temanmu yang bisa punya quality time bersama pasangannya, seperti liburan ke suatu kota. Bukan kamu tak mensyukuri pertemuan-pertemuan yang kamu punya. Sebenarnya pun kamu selalu berusaha menyusun jadwal untuk liburan bersama. Tapi lagi-lagi semua usaha gagal dan tak ada satu pun vakansi bersama yang kalian lakukan.

Sebegitu sulitnya sama-sama mendudukan pikiran untuk menyusun jadwal liburan. Nggak heran juga kalau urusan nikah saja tak pernah terlintas di obrolan kalian. Dia bukan hanya terlihat tak siap, tapi memang seperti tak punya gambaran yang cukup jelas mau dibawa ke mana hubungan ini. Bahasa kasarnya, dia seperti masih ingin main-main atau sekadar menjajal rasanya menjalin hubungan.

Kecewa dengan hubungan kalian dan sikapnya, itu sudah pasti. Tapi setidaknya di usia hubungan yang masih seumur jagung dan perasaanmu belum terlalu banyak dicurahkan, kamu harus segera menentukan dia orang yang tepat atau tidak.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya