“Habis putus sama A, kok dapatnya si C sih. Kan sayang yaa, downgrade gitu levelnya.”

Mungkin tanpa sadar kita sering mengucapkan kalimat itu. Mengomentari pilihan seseorang tentang pasangan, dan menilai pasangan sebelumnya jauh lebih oke dibanding yang sekarang. Biasanya standar yang digunakan adalah ketampanan/kecantikan, kemapanan materi, atau pun prestasi-prestasi lainnya.

Advertisement

Sekarang bayangkan bila kamu yang mengalami itu. Mungkin perasaanmu akan merasa goyah dan merasa kamu memang sudah melepaskan permata berharga demi batu akik biasa. Padahal patokannya adalah hal-hal yang cuma bisa bisa dilihat mata. Sementara hal-hal itu belum tentu menentukan bagaimana hubungan itu berjalan. Jadi saat dibilang pilihanmu downgrade, tak perlu dipikirkan. Asalkan hal-hal ini kamu alami, pilihanmu justru sudah tepat kok.

1. Dulu kamu mati-matian jadi sosok yang menyenangkan supaya dia tidak pergi. Sekarang kamu mulai nyaman menjadi diri sendiri

mati-matian jadi sosok yang menyenangkan via www.lifeoftrends.com

Rasa cinta kepada seseorang pasti diikuti dengan rasa takut ditinggalkan. Apalagi bila dulu kamu merasa beruntung bisa bersamanya. Karena itu kamu memilih untuk menjadi sosok yang sangat menyenangkan. Bahkan kadang menjadi orang lain pun dilakukan, karena kamu takut dia tahu kekuranganmu. Tapi dengan pasanganmu yang sekarang, kamu justru nyaman menjadi dirimu sendiri. Dirimu yang penuh kekurangan, namun tak membuatnya keberatan.

2. Dulu fokusmu adalah bagaimana membuat dia mencintaimu selamanya. Sekarang keberadaannya justru membuatmu lebih mencintai diri sendiri

ingin membuatnya terus mencintaimu via pixabay.com

Dicintai itu menyenangkan. Karena itu, dulu kamu begitu terobsesi menjadi sosok sempurna, sehingga dia mencintaimu selamanya. Hal itu melelahkan, sebab kamu selalu merasa kurang. Pikiran-pikiran parno itu muncul karena kamu merasa di luar sana banyak yang lebih baik darimu. Tapi dia yang bersamamu sekarang berbeda. Segala sikap dan perlakuannya padamu, justru membuatmu lebih menyayangi dirimu sendiri. Kamu tak lagi hanya memikirkan kebahagiaannya, tapi juga kebahagiaanmu sendiri.

3. Dulu pacaran membuatmu tak punya waktu untuk hal-hal lain. Sekarang, kamu justru lebih jago mengatur waktumu

kamu jadi jago mengatur waktu via pixabay.com

Advertisement

Saat kita benar-benar jatuh cinta, rasanya waktu 24 jam pun tak cukup lama. Fokusmu hanya soal dia, kalau tidak ketemu sebentar kamu mudah kelabakan. Pikiran dan waktu pun tersita, sampai-sampai kamu “tak sempat” melakukan hal-hal lainnya. Hubunganmu yang sekarang tak lagi menghabiskan waktumu. Kalian sama-sama mengerti bahwa kamu dan dia sama-sama punya kesibukan. Justru sekarang, kamu lebih jago mengatur waktumu agar pacaran dan kerjaan bisa sama-sama terselesaikan.

4. Dulu kamu berusaha keras untuk memendam ego demi menjaga perasaannya. Sekarang kamu belajar untuk mengungkapkan apa suka dan tidak suka

bisa mengungkapkan pendapat via pixabay.com

Dulu, ketidaksepahaman adalah ketakutan terbesarmu. Kamu begitu mencintainya sampai takut bertengkar. Karenanya, kamu lebih sering memendam dalam hati saat ada sesuatu yang tak kamu sukai. Pokoknya asal tidak berantem, itu yang terpenting. Tapi hubunganmu yang saat ini kamu bisa mengatakan apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka, tanpa membuatmu takut akan perdebatan. Karenanya, sekarang kamu juga lebih bisa menghargai perasaan dan isi pikiranmu sendiri.

5. Dulu kamu sering menghindari masalah, sekarang setiap ada persoalan langsung dibicarakan dengan kepala dingin

bisa membicarakan persoalan dengan kepala dingin via pixabay.com

Dulu daripada bertengkar dan membicarakan ketidaksepakatan, kamu lebih suka menghindar. Diam-diaman dulu sementara, sampai salah satu kangen dan tak tahan untuk berjumpa. Lantas, menyerahkan waktu untuk menghapusnya. Padahal setiap persoalan harus dibicarakan bagaimana penyelesaiannya. Karena tidak semua persoalan bisa berlalu dengan sendirinya. Pun, dengan membicarakan baik-baik setiap masalah yang terjadi, kamu dan dia akan belajar dan saling mengevaluasi diri.

6. Dulu kamu penginnya dia yang mengubah diri jadi lebih baik lagi. Sekarang kamu juga termotivasi untuk memantaskan diri

termotivasi untuk memantaskan diri via www.lukasleonte.com

Dulu kamu begitu terobsesi memintanya berubah. Menentukan tujuan, merapikan hidup, dan memperbaiki hal-hal yang kamu rasa kurang. Kamu terlalu sibuk memintanya menjadi sosok ideal yang kamu bayangkan, sampai lupa bahwa kamu juga perlu pembenahan. Namun hubunganmu yang saat ini, membuatmu termotivasi untuk memperbaiki dirimu juga. Kamu tak lagi sibuk menyuruhnya begini dan begitu, tapi kamu rajin mengevaluasi diri dan menjadi lebih baik lagi.

Dia yang nampak sempurna di depan mata, belum tentu sosok yang kompatibel dengan dirimu, yaitu sosok yang bisa memotivasimu untuk menjadi versi terbaik dari dirimu. Jadi, tak perlu mendengarkan omongan orang. Toh, kamu yang menjalaninya.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya