Dulu, kamu sering datang ke sini seminggu beberapa kali. Bukan cuma bertemu denganku, tapi juga ibu dan ayahku. Kamu menganggap mereka sebagai sosok yang berharga, saking ramah dan sayangnya terhadapmu. Tak pernah sekalipun mereka kesal, bahkan ketika kamu datang di sela-sela waktu kami makan siang atau menoton televisi, kami tetap menyambutmu dengan hangat.

“Kini berbeda masanya, di mana kita bukan lagi sebagai pasangan, melainkan sebatas teman. Tak masalah bagiku, pun bagimu. Tapi, ibuku yang dulu selalu menyambutmu dengan riang mulai bertanya-tanya, bagaimana kabarmu saat ini? Apa kamu baik-baik saja?”

Beberapa kali, Ibu menanyakan keberadaanmu yang sekarang. Mungkin dia berpikir, bahwa kita masih saling sayang

beliau pikir kita masih sayang

beliau pikir kita masih sayang via wittyfeed.com

Advertisement

Aku memang belum sepenuhnya bercerita pada ibu, tentang hubungan kita yang kini sudah mulai renggang. Kita memang teman, tapi sangat jarang bertukar kabar. Mungkin kamu juga merasa hal yang sama denganku, yaitu rindu. Namun kamu terlalu sibuk dengan kehidupan yang baru dan tak ada waktu untuk memikirkan masa lalu.

Kamu tak perlu kuatir, ibu bertanya kabarmu bukan berarti memaksa untuk datang ke rumah lagi. Dia hanya menggenapi perannya sebagai orang tua yang wajib mencurahkan kasih sayang dan rasa peduli. Sesekali, bolehkah aku mengirimkan pesan untukmu, agar bisa ku sampaikan kabar baik bahwa kamu masih sama seperti yang dulu kepada ibu?

Bukan cuma ibu… Ayah yang dulu sering kuseduhkan kopi berdua denganmu juga bertanya, kapan kamu akan datang lagi?

Ayah juga menanyakan kabarmu

Ayah juga menanyakan kabarmu via www.familytalktoday.com

Sama seperti ibu, ayahku yang jarang di rumah pun sering menanyakan kabarmu yang sekarang. Beliau tak hanya bertanya sekali, tapi berkali-kali ketika kita berkesempatan ngobrol dan meneguk secangkir kopi. Aku tidak bisa menjawab banyak, meski aku tahu kamu ingin kita tetap terlihat baik-baik saja di depan ayah.

Advertisement

Tahukah kamu, mungkin di belakangku mereka berdua sering membicarakan perihal status kita berdua yang dulunya serius tapi kini agak sedikit berbeda. Bukannya berlebihan, orang tuaku hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar menjagaku dengan baik dan takkan ada perselisihan berarti yang berujung luka. Ya, cuma itu saja.

Dibalik senyum ibu yang seperti biasa, tiba-tiba dia menegurku dengan nada kecewa. Kenapa kamu tak pernah membalas pesan singkatnya?

kenapa pesan singkat Ibu nggak dibalas?

kenapa pesan singkat Ibu nggak dibalas? via robynickphotography.com

“Aku, ayah dan ibu memang satu paket lengkap yang tidak bisa secepat itu melupakan kebaikan seseorang. Kami tidak tahu harus bagaimana, selain membalas kebajikan itu dengan setimpal, yakni senantiasa peduli.”

Kamu jangan menganggap ibu sebagai orang tua yang cerewet atau banyak maunya. Beliau tidak begitu, apalagi denganmu, lelaki tampan yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Mengobati rasa rindu terhadapku mungkin sangat sulit baginya, sehingga mengirim pesan singkat kepadamu menjadi salah satu cara untuk sedikit menawarnya. Lalu, apa salahnya untuk membalas pesannya walau hanya sekali?

Ibu mungkin sangat menantikan kehadiranmu. Dia juga rindu ketika kamu datang dan melahap habis semua kue buatannya, seperti dulu

kue buatan ibu dulunya favoritmu

kue buatan ibu dulunya favoritmu via www.epicureanpiranha.com

“Dulu waktu pacarmu sering datang ke sini, kue bikinan Ibu selalu habis. Dia lahap, sampai kue yang sudah berhari-hari di kulkas pun nggak lupa dia habiskan. Ah, Ibu kangen dia.”

Ibu.

Ingatkah kamu, ketika ibu menyuguhimu dengan sepiring kue kering beraneka rupa dan rasa? Ibu pun tak pernah lupa untuk memperbanyak rasa coklat favoritmu dan hanya sedikit rasa jeruk, favoritku. Dia begitu bahagia ketika kue buatannya habis karena kamu habiskan, pun sisa-sisa kue kemarin yang belum kami makan. Ibu sangat merindukanmu, begitu juga aku.

Akhirnya ibu benar-benar serius mengajakku bicara. Dia kembali bertanya dan berharap kita baik-baik saja. Menurutmu, aku harus menjawab apa?

Ibu akhirnya tahu, kita belum berjodoh

Ibu akhirnya tahu, kita belum berjodoh via wisehimup.com

Tidak terasa, kini sudah hampir setahun kamu absen berkunjung dan kita sangat jarang bertemu. Pertanyaan ibu dan ayah tentangmu kini juga semakin berkurang. Mereka mungkin sudah menyadari sendiri, bahwa kita tidak dalam keadaan baik-baik saja, malah sebaliknya. Dulu mungkin kita punya komitmen teguh untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih tinggi, tapi mau bagaimana lagi ketika yang berbicara adalah hati.

Kini ibu sudah tahu dan maklum, hubungan kita memang tak bisa dilanjutkan lagi. Ibu juga percaya bahwa keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik dan paling tepat untuk kelangsungan hidup kita, dua orang yang belum ditakdirkan untuk berjodoh.

Ibu titip pesan, jaga diri baik-baik di sana. Tak ada kata benci dalam kamusnya, meski sedikit kecewa karena tahu bahwa hubungan kita cukup sampai di sini saja.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya