Tidak semua perempuan pandai merangkai kata untuk mengucapkan rasa sayang. Putrimu sayangnya masuk ke golongan yang satu ini.

Teruntukmu Ayah, mungkin baru memanggil namamu saja suaraku sudah bergetar.

Kuurungkan saja untuk ungkapkan secara langsung. Dari surat terbuka ini, kuharap Ayah mau menyempatkan waktu untuk membaca sebagian kecil tentang betapa bangganya aku menjadi putri kecilmu.

Lelaki yang tak pernah membuat hatiku sakit gegara cinta. Bagaimana kabar Ayah?

Rela kujadikan korban dandan via www.confusedsandals.com

Mendoakanmu semoga Tuhan tak henti-hentinya untuk memberikanmu kesehatan adalah doa yang senantiasa dipanjatkan oleh anak perempuanmu ini setiap saat. Mungkin ingatanku saat masih belajar merangkak, tidak melekat dengan sempurna. Samar. Tapi yang jelas kuingat adalah sosokmu Ayah. Dengan postur yang agak kurus dengan senyuman lebar yang tertutup oleh kumis tipismu, tidak pernah bosan menggendong, mencubit pipi, dan memanggil namaku. Mengapa kamu terlihat kurus saat itu, Ayah? Apakah kehadiranku membuat pikiranmu terbagi hingga kamu tak ada waktu untuk makan yang cukup? Aku minta maaf, Yah.

Untuk pria yang selalu terlihat tahan banting dan tak kenal lelah. Sedang apa sekarang, Yah?

Advertisement

Sedang sibuk apa. Yah? via www.everythingfordads.com

Apa Ayah sudah bisa duduk santai sambil membaca koran favoritmu di beranda depan, seperti yang Ayah inginkan sejak lama tanpa sibuk memarahi aku? Atau, masih dibuat sibuk dengan pekerjaan yang masih mengharuskanmu merasakan lelah yang berlebih untukmu?

Maafkan putrimu ini yang masih belum bisa menjadi orang siaga di dekatmu akhir-akhir ini. Mendengar kabar darimu pun sudah tak bisa sesering dulu. Ketika Ayah sedang rindu akan kehadiran putri kecil kesayangannya ini, yang bisa kulakukan hanya membuatmu menanti dan khawatir. Ya, hanya Ayah yang tahu rasanya ketika harus membiarkan anak perempuan tinggal dan berkutat dengan keegoisannya untuk meraih mimpi di kota seberang.

Sampai hari ini Ayah masih memperlakukanku seperti balita. Ah, mungkin ayah lupa kalau aku sudah dewasa

Maaf. via www.tumblr.com

Ayo makan bersama di meja makan.

Segerakan pulang jika tak ada keperluan penting.

Jangan pacaran!

Misalnya saja ketika kamu melontarkan kata-kata pada 3 hal kecil ini. Membosankan, aku merasa seperti dikurung. Dituntut untuk melakukan hal yang kupikir sudah tidak terlalu penting buatku.

Ketika lapar, aku bisa mencari cara untuk mengisi tenaga dimana saja tanpa harus pulang ke rumah. Makan di tempat makan kesukaanku pun bisa kulakukan sendiri. Bahkan, aku sudah tidak perlu repot karena banyak teman yang bisa menemaniku.

Aku pun ingin bebas, Yah. Berpikiran bahwa semakin bertambahnya umur membuatku bisa bebas tanpa kekangan dari orangtua adalah kesalahan besar. Aku masih tidak bisa lepas. Panggilan dari telepon genggam tak henti berdering ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Apa menikmati angin malam tidak boleh kurasakan?

Mendengar Ayah mengomel ketika aku menghabiskan banyak waktu di luar bersama teman lelakiku, membuatku diperlakukan tidak adil. Apakah aku tidak diperbolehkan merasakan cinta selayaknya anak muda seumurku?

“Ayah, aku bukan anak kecil lagi.”

Sudah berapa banyak gerutuan yang aku ungkapkan. Tak bisa kuhitung. Berapa kali ayah merepetisi perintah untuk anak kecil itu? Pun tak Tapi, terhingga. Perilaku Ayah pun tidak pernah berubah.

Ayah membentukku jadi gadis yang kuat tapi tetap penuh kemanjaan. Ayah jadi tempatku paling nyaman untuk pulang

Baru kusadari via www.mymodernmet.com

Merawat bayi perempuan yang tak berdaya menjadi sosok yang kuat bukanlah hal yang mudah. Menjaga, melindungi, dan memberikan rasa aman selalu ingin kamu berikan padaku. Perlu kamu ketahui Ayah, kamu telah berhasil membuatku jadi orang kuat yang bisa bertahan dimanapun ku berada.

Aku baru sadar tentang betapa berharganya berkumpul bersama keluarga. Suasana hangat dan tawanyalah yang membuatmu selalu ingin aku hadir di meja makan untuk sedar menyantap kudapan. Karena Ayah tau, waktu yang dimiliki untuk dihabiskan bersamaku tidaklah lama. Aku akan disibukkan dengan kegitaanku kedepannya. Ya, Ayah memang peramal yang ulung.

Ayah melarangku pacaran atau keluar malam bukan karena tidak sayang. Dalam larangan Ayah ada ucap, “Ayah khawatir, Nak.” yang bergaung pelan

Karena khawatir via onlybabies.tumblr.com

Ya, melarangku pulang terlalu larut adalah caramu untuk memastikan aku aman ketika di luar rumah. Aku terlalu muda untuk memahami betapa kerasnya dunia saat itu. Ayah tidak bisa tidur lelap sebelum aku sampai rumah. Maaf, telah membuat ayah terjaga sepanjang malam.

Hati yang dibuat sakit oleh cinta memang menyakitkan. Aku baru menyadari makna dari larangan berpacaran yang diultimatum oleh Ayah. Karena Ayah tidak ingin anak perempuan yang manja ini merasakan pedihnya patah hati. Tak kuat hati melihat anaknya dibuat menangis oleh bocah ingusan, hanya itu yang diharapkan. Cinta yang sebenernya itu tidak akan datang saat kamu belum siap. Aku terlalu muda, maafkan aku, Yah.

Menualah dengan tenang, Yah. Putri kecilmu ini sudah bisa menjaga diri sendiri. Kamu berhasil mendidiknya sampai hari ini

Butuh waktu, tunggu Yah. via www.mymodernmet.com

Tidak akan mengeluh dengan omelan dan ocehanmu, aku berjanji. Karena aku pun sadar, seberapa banyak usia yang telah kudapat dan seberapa jauh aku melangkah, aku akan selalu menjadi putri kecilmu.

Ribuan maaf tidak bisa menebus kesalahan yang aku lakukan padamu, Yah. Alih-alih membuatmu bangga, Kata-kata kasar mungkin pernah menyakiti hatimu, tapi rasa sayangmu padakmu tidak pernah luntur sebutir pun. Terima kasih telah merawat putri kecilmu ini menjadi sedewasa ini. Aku berjanji tidak akan berubah, karena akulah gadis kecil yang dibuat tertawa dan bahagia olehmu. Aku bersyukur telah terlahir menjadi putri kesayanganmu, semoga Ayah pun merasa bangga telah bersusah payah membesarkan aku.

Salam sayang yang tak pernah putus,

dari putri kecilmu dulu dan selamanya.

Kredit featured image: http://essenciaemflor.blogspot.co.id/