Lama sudah kami menanti saat ini. Setelah menjalani komitmen dalam ikatan pernikahan selama belasan bulan, dirimu akhirnya lahir ke dunia dan mengubah selamanya dunia kami berdua. Di sebuah kamar rumah sakit yang serba putih, dari sepanjang pagi dan petang, kami menunggu-nunggu tubuh mungilmu datang. Akhirnya — setelah 9 bulan lamanya kami berusaha memastikan kamu tumbuh baik-baik saja.

Engkau lahir setelah melalui proses persalinan yang panjang dan menyakitkan. Tante dokter berjas putih mengangkat dirimu yang masih mungil dan basah berbalut darah, sambil membalutnya dalam handuk dan memberikan selamat kepada kami.

Advertisement

Halo, malaikat kecilku! Akhirnya kita bertemu.

Suara tangisan yang menyambut lahirnya dirimu justru memancing senyum terlebar yang pernah kami berikan

Tangisan pertamamu di dunia ini

Tangisan pertamamu di dunia ini via www.huffingtonpost.com

Adalah takdir: ketika kamu lahir ke dunia ini dengan menangis, kami menyambutnya dengan berjuta senyuman yang tak dirimu ingat. Kami berdua, ayah dan ibumu, darah dan dagingmu sendiri, adalah dua orang yang kamu lihat pertama kali. Walau ayah lelah menunggu dan ibumu saat ini sudah terbaring dengan senyuman yang letih, kami tak bisa berbohong lagi. Kami sayang denganmu!

Sebetulnya masih banyak yang ingin kami kenalkan kepadamu. Ada kakek dan nenek yang senantiasa merawat ibumu ini semenjak kamu mulai banyak bergerak di dalam perut. Ada om dan tante yang suka juga murah senyum. Tak lupa juga para sepupumu yang lainnya, yang seru dan baik hati walaupun agak nakal. Tapi sabarlah, Nak. Sekarang kita tenangkan tangisanmu dulu.

Menimangmu di dalam balutan handuk menghangatkan hati kami. Setengah tak percaya, kini kami berdua telah menjadi orangtua

Terima kasih sayang

Advertisement

Di dalam balutan handuk tersebut, tersembunyi tubuhmu yang mungil. Rasa sakit yang luar biasa, yang bahkan mempertaruhkan nyawa, terbayar sudah saat lahirnya dirimu dengan selamat ke pelukan kami. Jari kecilmu yang menggenggam tangan kami, seolah berkata tak ingin melepaskannya. Perlahan tanganmu mengayun, mencari ibumu yang melahirkanmu. Melihat dirimu yang kecil dan lemah, rasanya membuat kami ingin memelukmu sepanjang pagi dan malam, agar tidak terserang dingin atau penyakit yang mungkin membuatmu menangis karena kesakitan!

Sayangku yang kecil, nyamankan dirimu. Kami adalah rumah bagi jiwamu. Jangan bosan berada dalam pelukan kami, walau nanti kamu dewasa, karena pelukan kami ini yang akan selalu kamu cari. Ketika kamu sakit, kamu pasti akan merengek mencari kami. Ketika teman sekelasmu menjahilimu hingga menangis, membenamkan wajahmu di pelukan kami akan membuatmu tegar kembali. Tak akan kamu lupakan pelukan ini, walau nanti kita berpisah begitu jauh, Nak.

Salah satu saat yang terindah bagi kami adalah memanggilmu dengan namamu untuk pertama kali

Yang kau dengar ini, adalah namamu nak.

Yang kau dengar ini, adalah namamu nak. via www.megansweeting.com

Kami pun memanggilmu dengan nama yang kami anugerahkan kepadamu sepanjang hidupmu. Nama yang kami pilihkan secara seksama dengan penuh cinta, yang didalamnya terkandung doa kami agar hidupmu kelak bahagia dan indah seperti kami. Nama yang tak sembarangan kami ukirkan, nama yang nggak bikin kamu malu dipanggil oleh teman-temanmu, nama yang nggak bikin kamu dipanggil duluan tiap adanya presensi kehadiran, dan nama yang terindah untuk dimuat dalam piagam-piagam prestasi yang akan kamu ukir seumur hidupmu nanti.

Tak bosan-bosannya kami memanggil namamu, seolah terngiang-ngiang nama tersebut di kepala. Seolah namamu adalah satu-satunya bahasa hati yang kami mengerti, yang akan mendekatkan kepadamu yang belum mengerti bahasa kami. Tiap kali kedua mulut kami mengucap namamu, makin gemas kami dibuatnya!

Wajahmu yang mirip dengan kami begitu sering berubah ekspresi dengan polosnya. Tanpa kamu niatkan, dirimu selalu membuat kami tertawa

Betapa miripnya dirimu dengan kami

Betapa miripnya dirimu dengan kami via theoneinamillionbaby.com

Kami sering memperhatikan saat dirimu terlelap di pelukan ibundamu. Kami saling tertawa, menebak-nebak wajahmu yang lucu itu dan sedang memejamkan mata itu. Sambil berbisik-bisik, kami ngobrol seru tentang dirimu, agar kamu tidak terganggu ocehan kami yang terlampau gembira itu.

“Lihat deh, hidungnya mirip banget sama Mama.”

“Wah, nanti kalau gede bakal keriting kayak Ayah nih!”

…dan berjuta hal rasanya ingin kami obrolkan tentangmu. Ayah dan ibumu berbincang hingga malam — bahkan matahari tak kuat menemani obrolan kami yang begitu panjang.

Kami siap mendampingi setiap langkahmu. Apapun yang kau cita-citakan nanti, kami akan mendukungmu dari segala lini

Jangan takut melangkah, nak

Jangan takut melangkah, nak via www.abplive.in

Tak lelah kami berandai dan berangan-angan tentang dirimu ini, yang nantinya akan tumbuh dewasa. Kadang rasa sedihmu saat lelah dan jatuh terbayang di kepala kami. Sedih karena teman. Sedih karena prestasi yang kurang memuaskan. Sedih karena tidak bisa mencapai mimpi. Ah, beribu bayang itu membuat kami sempat putus asa dan menghela napas.

Tapi kamu tidak perlu takut, anakku. Teruslah berlari mengejar mimpimu nanti walaupun terlihat tidak pasti. Doa kami yang dipanjatkan di setiap langkahmu, tak akan berhenti walau lelah. Tangan ini tak akan kaku kami angkat tinggi-tinggi, karena demi dirimu, ayah dan ibumu ini akan terus berjuang sekuat tenaga!

Selamat lahir di dunia ini, Sayangku. Semoga hidup kami lebih indah bersamamu

Selamat datang ke keluarga kecil ini, sayang!

Selamat datang ke keluarga kecil ini, sayang! via www.pinterest.com

Sayangku, selamat datang di dunia ini. Mungkin tak seindah yang kau bayangkan dari dalam sana, mungkin tak sehangat rahim ibu kandungmu yang selalu menyayangimu. Perlahan kamu harus membuka matamu lebar-lebar, belajar berbicara dan berjalan, agar kamu dapat menjelajahi dunia ini atas kemampuanmu sendiri.

Harapan kami, hanyalah agar hidup ini lebih indah dan berwarna dengan hadirnya dirimu. Tuhan sudah memberkahi kami dengan nikmat yang amatlah besar; dengan kehadiran dirimu di antara kami. Sayangku, sungguh bersyukur kami, kini kamu telah berada disini!

Walaupun surat ini tak seberapa panjang dibanding dengan cinta kami kepadamu, sungguh kami bangga telah memilikimu disini. Rasa rindu selama 9 bulan, terbayar sudah. Buah hatiku, sungguh aku sayang kepadamu!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya