Lagi asyik scrolling konten viral TikTok atau Instagram Reels, kamu pasti sering banget lewat tren suami disuruh belanja yang ujung-ujungnya malah salah. Skenarionya ada-ada aja dan sukses bikin ngakak.
Minta tolong belikan tomat dua ribu rupiah, pulangnya malah bawa dua kilo karena malu kalau cuma beli dua ribu. Atau pas diminta memasukkan lauk sisa makan malam ke kulkas, eh, malah dimasukkan ke freezer sepenggorengannya sampai beku keras kayak batu.
Sekilas, kelakuan lucu suami ini kelihatan hiburan yang sangat relata, kan? Dari yang awalnya dikira murni hiburan di media sosial, kebiasaan “salah melulu” atau “berantakan terus” pas diminta tolong ini ternyata ada istilah psikologinya, lho. Fenomena sengaja salah atau pura-pura nggak bisa dikenal dengan istilah weaponized incompetence.
Apa itu weaponized incompetence?

Tren pamer suami di sosmed yang selalu salah saat dimintai tolong oleh istri | Foto via pinterest
Secara sederhana, ketidakmampuan yang disengaja atau weaponized incompetence adalah tindakan atau pola manipulasi ketika seseorang sengaja berpura-pura nggak bisa,nggak paham, atau sengaja mengerjakan tugas dengan buruk agar tanggung jawab tersebut akhirnya diambil alih oleh orang lain.
Nah, istilah tersebut menggambarkan taktik sengaja lepas tangan atau kemalasan strategis secara sadar untuk menghindari pekerjaan rumah tangga maupun tugas harian. Hm, relate nggak?
Ketidakmampuan yang disengaja sendiri awalnya diteliti oleh ahli psikologi Chris Argyris pada era 1980-an dengan nama skilled incompetence, lalu dipopulerkan oleh jurnalis The Wall Street Journal, Jared Sandberg, untuk menyebut fenomena taktik membuang tugas di tempat kerja.
Kini, istilah ini marak dipakai di media sosial untuk menggambarkan fenomena pura-pura nggak bisa dalam hubungan percintaan dan rumah tangga.
Dalam kehidupan sehari-hari, beberapa ciri dan tanda pasangan melakukan trik ini antara lain:
- Sengaja mengerjakan asal-asalan: Hasil cucian piring ditinggal masih berlemak atau menyapu lantai dengan sangat lambat.
- Beralasan tidak mahir: Mengeluarkan kalimat pamungkas seperti “Aku nggak berbakat, kamu aja ya, nanti malah rusak kalau aku yang bikin”.
- Bertanya hal dasar berulang kali: Pura-pura bingung meletakkan barang sederhana atau bolak-balik bertanya cara pakai alat yang sebenarnya sepele.
- Terus-terusan mengeluh: Sengaja mengeluh berlebihan saat diminta tolong sampai pihak sebelah lelah mendengarnya dan memutuskan pengerjaannya sendiri.
Terus, apa sih tujuannya pura-pura begitu? Yup, jelas membuat pasangan menyerah, merasa lebih cepat kalau dikerjakan sendiri, dan akhirnya nggak akan pernah meminta tolong lagi ke depannya. Pernah ngalamin?
Kenapa weaponized incompetence sangat subur di Indonesia?

Budaya patriarki yang diwariskan oleh masyarakat Indonesia | Foto via pinterest
Kalau kamu perhatikan, tren ini gampang banget diterima dan dimaklumi di lingkungan sosial kita. Kenapa? Ya karena fenomena ini berkelindan erat dengan peran gender tradisional dan budaya patriarki yang masih melekat kuat di Indonesia.
Sejak kecil, banyak anak laki-laki yang nggak dibiasakan menyentuh pekerjaan domestik karena dianggap sebagai tugas anak perempuan atau ibu. Ketika dewasa dan menikah, ketidakbiasaan ini menjelma jadi pembenaran. Begitu pasangan mencoba bantu lalu hasilnya kacau, lingkungan sekitar kerap menyambutnya dengan permakluman halus:
- “Ah, namanya juga cowok, maklum kalau nggak teliti pas belanja.”
- “Wajarlah, laki-laki mana paham bedanya bumbu dapur.”
Permakluman sosial inilah yang membuat praktik ketidakmampuan yang disengaja tumbuh subur tanpa disadari. Kelaziman sosial membuat sebagian orang memilih bertahan di zona nyaman dengan dalih “memang nggak mampu”.
Alih-alih belajar keterampilan hidup dasar (basic life skills) agar lebih mahir di rumah, ketidakmampuan yang sengaja dibiarkan malah dibungkus rapi menjadi lelucon yang dianggap biasa.
Padahal, pembagian tugas rumah tangga sebenarnya bukan soal bakat bawaan sejak lahir, melainkan kemauan untuk belajar dan beradaptasi bersama.
Nggak cuma jadi bahan lelucon, fenomena ini ada dampaknya

Weaponized incompetence lama-lama bisa memberikan dampak terhadap fisik dan psikis | Foto via pinterest
Nggak masalah kalau sesekali pasangan memang belum paham dan salah membeli barang. Namun, kamu perlu waspada jika kesalahan tersebut berulang dan membentuk pola yang disengaja.
Di balik konten media sosial yang terkesan menggemaskan, taktik pasangan yang sengaja lepas tangan menyimpan bahaya serius bagi kesehatan mental dan keharmonisan rumah tangga, lho.
Kalau dibiarkan terus-menerus, hal ini bisa memicu berbagai masalah dalam hubungan:
- Mental Load dan Kelelahan Emosional (Burnout): Harus memikirkan detail rumah tangga aja sudah melelahkan. Pas harus mengecek ulang, mengarahkan, sampai membereskan lagi pekerjaan yang berantakan, beban mental kamu jadi berlipat ganda. Ujung-ujungnya bikin lelah emosional dan gampang stres.
- Menumbuhkan Rasa Kesal (Resentment): Merasa ngerjain semuanya sendiri itu nggak enak. Lama-kelamaan, rasa jengkel yang dipendam ini bisa bikin kamu merasa berjuang sendirian dalam rumah tangga.
- Mengikis Kepercayaan pada Pasangan: Perilaku yang terkesan pasif-agresif ini perlahan bikin rasa percaya luntur. Kamu jadi malas minta tolong lagi karena sudah tahu hasilnya bakal berantakan.
Intinya sih taktik pasangan yang pura-pura nggak bisa ini bukan lagi lelucon biasa, melainkan bentuk manipulasi halus yang bikin pembagian tugas rumah tangga jadi nggak seimbang.
Biar nggak capek sendiri, ini cara menyikapi bareng pasangan!

Pasangan harus kompak untuk bisa mengatasi permasalahan ini | Foto via pinterest
Nontonin kelakuan lucu suami di medsos memang menghibur banget. Lagipula, namanya juga manusia, pasti ada salahnya. Kadang orang beneran gak tahu atau gak terbiasa aja, bukan selalu punya niat manipulatif. Lagian, menguasai urusan rumah tangga itu butuh proses, apalagi kalau dari dulu gak terbiasa pegang sapu atau bumbu dapur.
Nah, yang paling penting itu sebenarnya niat buat belajar bareng. Kalau kamu mulai merasa capek sama pola yang begitu-begitu terus, coba ajak ngobrol pas suasananya lagi dingin. Sampaikan aja kalau kamu butuh bantuan dan merasa keteteran kalau harus pegang semuanya sendiri.
Coba tahan diri buat nggak langsung ambil alih atau membereskan ulang hasil kerjaannya. Mau lipatan bajunya gak rapi atau sapuannya masih ada yang kelewatan, biarin aja dulu. Kasih kesempatan buat belajar dari prosesnya.
Semoga kalian tetap harmonis dan saling melengkapi, ya! Selain itu, Hipwee punya artikel menarik soal tips menjaga hubungan tetap harmonis berikut ini.
FAQ
Apa itu weaponized incompetence?
Taktik sengaja pura-pura nggak bisa, bingung, atau ngerjain tugas secara asal-asalan biar orang lain capek dan akhirnya mengambil alih pekerjaan tersebut.
Kenapa banyak laki-laki/suami yang melakukan weaponized incompetence?
Biasanya karena terbiasa dengan norma gender tradisional dan budaya patriarki yang mewajarkan laki-laki nggak paham urusan rumah, sehingga ketidakmampuan itu dijadikan alasan gampang buat menghindari tugas domestik.
Apakah weaponized incompetence termasuk gaslighting?
Perilaku weaponized incompetence tergolong manipulasi halus karena membuat kamu meragukan standar diri sendiri, merasa bersalah saat minta tolong, sampai akhirnya terpaksa memaklumi kelakuannya.