4 Cara Melakukan Penilaian Terhadap Diri Sendiri Untuk Menemukan Konsep Diri yang Tepat

Menilai Diri Sendiri

Perlu tidak ya untuk kita mengetahui konsep diri sendiri? Apakah penting untuk kebaikan diri kita? Mungkin ada beberapa orang yang masih mempertanyakan hal tersebut yang sebenarnya dapat kita ketahui secara real bahwa konsep diri itu berperan penting dalam hidup kita. Melalui konsep diri setiap individu, kita dapat membedakan satu dengan yang lainnya. Tak hanya itu, konsep diri juga dapat menjadi ciri khas dari pada individu tertentu. Lalu memangnya apa sih pengertian konsep diri?

Salah satu kunci dalam kehidupan manusia ialah konsep diri yang berguna pada suatu kepribadian manusia untuk membentuk tingkah laku yang berpengaruh pada kesehatan mental. Seorang manusia akan memiliki arahan untuk hidup yang ditentukan oleh pengharapan diri sendiri. Terbukti melalui pencapaian seseorang dan kesuksesannya yang terjadi karena faktor pengembangan mindset atau pola pikir otak, bahwa seorang individu bisa melakukannya. Dengan tetapi, jika sebaliknya ia tentu akan gagal.

Konsep diri juga muncul melalui proses yang cukup mudah dipahami dalam kegiatan sehari-hari kita yaitu melalui interaksi dengan orang lain, melakukan munculnya perspektif lawan bicara dalam suatu komunikasi yang dialirkan ke dalam diri kita, dan pengembangan pemahaman dalam mengenal diri sendiri. Baik anggota keluarga, rekan kerja, guru, kerabat, dan sahabat dapat berperan menjadi unit sosial yang cukup mempengaruhi dalam proses pembentukan konsep diri suatu individu. Dapat disimpulkan bahwa konsep diri memiliki campuran dari berbagai aspek dalam kehidupan dan memiliki gambaran sesuatu yang dipikirkan, dirasakan, dimaknai oleh seorang individu.

Pertanyaannya sekarang? Bagaimanakah cara mengetahui penilaian diri kita sendiri? Berikut adalah 5 cara melakukan penilaian diri sendiri, antara lain:

Advertisement

1. Penilaian Langsung

OkeZone.com

OkeZone.com via https://www.google.com

Penilaian langsung merupakan cara pertama yang dapat kita lakukan sebagai individu untuk melakukan penilaian diri sendiri. Terdapat berbagai contoh mengenai penilaian langsung yang biasa orang lakukan terhadap kita. Orang-orang yang mengenal kita, khususnya orang terdekat, biasa memberi diri kita suatu ‘label’. ‘Label’ ini dibuat sesuai dengan ciri khas diri kita sendiri. Seperti misalnya ada seorang teman yang memanggil sahabatnya dengan panggilan ‘si batu’. Hal tersebut memberikan pengertian bahwa sahabatnya itu memiliki sifat keras kepala dan susah untuk dinasihati.

 

Advertisement

Orang-orang sekitar juga dapat memberikan penilaian tentang apa yang seharusnya dilakukan. Dalam konteks ini hal tersebut dibagi berdasarkan gender. Misalnya para lelaki tidak diperbolehkan untuk memakai anting atau aksesoris telinga. Sedangkan perempuan tidak diperbolehkan untuk memiliki rambut pendek seperti para laki-laki. Hal tersebut sering kita temui pada kegiatan sehari-hari.

 

Para individu juga sangat membantingkan memperlukan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dalam kehidupannya. Hal itu juga tak luput dari persepsi relasi individu yang positif. Para rekan maupun kerabat yang memiliki pemikiran positif dapat meningkatkan percayaan diri. Hal ini sering terjadi pada kalangan pelajar, yang dimana seorang individu akan lebih percaya diri untuk menjawab suatu pertanyaan karena dukungan melalui persepsi positif dari temannya. Dengan tetapi sebaliknya, persepsi negatif dapat merusak rasa percaya diri. Tak hanya itu yang menjadi penilaian langsung dari seorang individu, ada juga penilaian langsung terhadap ras. Seperti banyaknya persepsi orang yang mengatakan bahwa orang suku Batak terkenal galak, orang suku Jawa terkenal sangat lembut, dan sebagainya yang bergantung pada nada bicara seseorang saja.

Advertisement

2. Penilaian Reflektif

klikmu.com

klikmu.com via https://www.google.com

Cara penilaian kedua adalah penilaian reflektif. Penilaian ini dapat berupa pembangun bagi konsep diri kita sendiri. Hal ini terbukti dari penilaian reflektif yang membangun persepsi kita terhadap cara pikir orang lain dan dapat dijadikan acuan bagi diri kita sendiri. Contohnya disaat orang lain yang selalu mencoba berfikir positif terhadap segala hal dan membuat kita sebagai manusia bercermin untuk ikut selalu berfikir positif. Penilaian reflektif juga dinilai dapat membangun niat untuk melakukan tindakan dan pemikiran pada individu. Dapat disimpulkan juga melalui penilaian reflektif ini, penilaian dari orang lain lebih bersifat efektif karena membuktikan secara jelas perilaku apa yang pantas dan tidak untuk dilakukan.

 

Peran orang lain sangatlah dibutuhkan dalam melakukan penilaian reflektif. Terdapat tiga jenis peran atau tingkatan yang dimiliki oleh orang lain, antara lain:

  1. Tingkatan pertama adalah uppers yang dimana berperan untuk memberikan penilaian positif bagi individu. Sebagai seorang uppers, seseorang akan cenderung lebih memuji, mengapresiasi, dan menghibur yang akan membuat kepercayaan diri kita semakin meningkat. Kita akan mendapatkan nilai-nilai positif jika berinteraksi dengan uppers.
  2. Tingkatan kedua adalah downer yang di mana berperan untuk menilai kita secara negatif, mengingatkan kekurangan kita, yang akan mengurangi rasa kepercayaan diri kita. Hal ini sering kita temukan saat adanya gesekan seperti permasalahan dengan orang lain yang membuat ia tidak menyukai diri kita.
  3. Tingkat ketiga adalah vilture yang di mana berperan sebagai penyerang pada konsep kita. Ia juga memberikan kritikan yang tergolong tajam untuk menyentuh area sensitif pada suatu individu. Disini kesabaran kita juga akan dilatih untuk membangun konsep diri kita sendiri misalnya disaat seseorang mengejek bentuk tubuh kita atau kekurangan kita.

3. Skrip Identitas

Radio Swara Bersujud

Radio Swara Bersujud via https://www.google.com

Cara penilaian kedua adalah penilaian melalui skrip identitas. Penilaian ini dapat berupa tata aturan dalam kehidupan manusia yang menjelaskan secara rinci mengenai peran untuk menjalankan cerita hidupnya sesuai dengan alur dan ketentuannya. Seperti pada contohnya ialah label seseorang dengan “keluarga yang agamawis” dengan artian keluarga tersebut memiliki norma keluarga yang sangat taat dengan agama yang dianut. Contoh lainnya ialah “keluarga yang loyal” yang setiap orang yang berinteraksi atau berteman dengan anggota keluarga tersebut tidak dituntut apapun untuk membalas pertolongan atau sesuatu yang diberikan.

4. Gaya Kelekatan

Tribunnews.com

Tribunnews.com via https://www.google.com

Pendekatan terakhir ini biasa dilakukan oleh seorang ibu yang melahirkan anaknya dan bertujuan untuk anak tersebut dapat menggali dirinya dan juga menjadi faktor pendorong bagi anak untuk dapat melakukan pendekatan kepada lingkungan di sekitarnya (John Bowlby. 1988).

Pendekatan ini dilakukan dengan cara membangun pendekatan psikologis yang intim dengan anak dengan merawatnya. Terbukti dengan hasil usaha yang dilakukan, anak tersebut dapat memiliki pandangan khusus terhadap segala peristiwa yang akan dilalui kedepannya. Seperti contohnya seorang ibu yang selalu sabar dan tetap berbuat baik dalam menghadapi orang lain yang menyakitinya, anaknya pun akan memiliki pandangan akan masalah sejenis yang ia hadapi untuk tetap berbuat baik dan selalu sabar.

5. Siapakah Dirimu?

Depositphotos

Depositphotos via http://https

Manusia wajib untuk mengetahui konsep diri sendiri. Cara untuk mengetahuinya ialah melalui 4 cara yaitu penilaian langsung, penilaian reflektif, skrip identitas, dan gaya kelekatan. Cara-cara tersebut cukup sering kita temui pada kehidupan sehari-hari. Melalui 4 cara itu juga kita akan mudah untuk mengenal konsep diri sendiri.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE