5 Ekspektasi dan Realita Masa Depanmu yang Harusnya Disyukuri Bukan Malah Diratapi

Menjadi fresh graduate adalah waktu yang tepat untuk melatih berkompromi dengan diri sendiri. Mengecilkan ego, memperbesar rasa syukur, dan memperbanyak ikhtiar harus kamu jalani ketika mengingat ekspektasi-ekspektasi yang selama ini kamu simpan rapi. Setelah penolakan demi penolakan kerja kamu alami, kamu pun menjadi pribadi yang lebih legowo menghadapi kenyataan yang Dia beri. Dan setelah kerelaan hatimu yang cukup besar, Dia pun menempatkan mu di antara orang-orang yang akan selalu mau membimbingmu. Kamupun bersyukur, lalu mengingat kembali ekspektasi-ekspektasi yang kamu rancang waktu dulu. Kira-kira seperti ini.

ADVERTISEMENTS

1. Ekspektasi kerja di ibukota dengan segala keriwehannya, tapi realitanya kamu malah masih tercebur di kota yang lama kau tinggali.

menikmati macet

menikmati macet via http://globalnews.co.id

Sebelum lulus dari bangku kuliah kamu selalu berangan-angan untuk bisa bekerja di ibukota ketika lulus nanti. Kamu membayangkan bagaimana pagi-pagi sekali kamu harus berangkat, berkutat dengan kemacetan, sampai di kantor dengan kerjaan yang super padat, lalu pulang ketika hari sudah gelap. Kamu membayangkan menjadi sebagian orang yang berjuang di tengah kota yang katanya menolak untuk lelap. Sesekali kamu akan ikut mengumpat karena merasakan sendiri bagaimana ibukota itu sungguh jahat.

Tapi kenyataan yang kau hadapi sekarang, justru kau masih di kota yang sama ketika kamu kuliah dulu, atau hanya bergeser paling jauh 200km dari kota tempatmu menimba ilmu. Sesekali bayangan ibukota masih ada di benakmu, ah tapi mengapa membayangkan yang belum terjadi? Lebih baik kerjakan yang terbaik saat ini bukan?

ADVERTISEMENTS

2. Ekspektasi berangkat kerja dengan seragam rapi, realitanya kamu malah santai dengan kemeja kuliah sehari-hari

berseragam rapi tiap pagi

berseragam rapi tiap pagi via http://www.iconpln.net.id

Dulu kamu juga membayangkan berangkat kerja dengan seragam rapi jika di kantor atau seragam safety rapi jika di lapangan. Kamu pun tak perlu menjelaskan lebih banyak lagi kepada orang yang menanyai di mana kerjamu. Karena mereka pasti sudah bisa menjawab sendiri. Tapi kenyataan yang kamu hadapi bukan seragam rapi, melainkan kemeja yang biasa kamu kenakan untuk kuliah sehari-hari dulu kini juga menemani.

Di satu sisi kamu senang dan bersyukur tempat kerjamu membebaskanmu dari tetek bengek seragam. Yang terpenting kamu masih pakai baju saja itu sudah cukup. Tapi di sisi lain kamu tak bisa memungkiri bahwa di dalam hati mu masih tersimpan rasa iri kepada mereka yang berseragam setiap hari.

ADVERTISEMENTS

3. Dulu selalu termotivasi untuk kerja di kantor yang punya gedung tinggi, tapi semakin kesini gedung tinggi bukan paling utama dicari

kerja di lantai paling atas

kerja di lantai paling atas via http://dagelan.co

Alih-alih bekerja di lantai paling atas sebuah gedung tinggi, kamupun tercebur di kontrakan sederhana yang disulap menjadi tempat mencari rezeki. Terkadang hatimu masih terasa nyeri ketika melihat teman meng-update sebuah foto dari jendela gedung tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota di bawahnya. Tapi sisi hatimu yang lain justru mensyukuri karena kamu tidak merasakan bagaimana penatnya hidup di kota yang keras itu.

ADVERTISEMENTS

4. Ekspektasi gaji tinggi, tiap bulan bisa nongki-nongki, tapi semakin kesini justru berapapun yang dapat harus tetap disyukuri bukan malah diratapi

nongkrong tiap minggu

nongkrong tiap minggu via https://magazine.job-like.com

Kamu bukan karyawan yang bergaji tinggi, tapi tidak juga bergaji rendah. Setidaknya kamu masih bisa merasakan makan enak beberapa kali, walaupun setelah itu harus menghemat lagi. Ekspektasi gaji tinggi dulu sempat membayangi. Nongkrong di kafe elit setiap bulannya, update lagi ngopi di tempat mahal, atau bahkan sekedar jalan-jalan di tempat yang sedang hits-hitsnya. Tapi nyatanya kehidupan pasca kuliah tak seindah instastory selebrity yang jalan-jalan ke luar negeri.

Berapapun gaji yang kamu dapat sekarang bukanlah masalah utama. Yang kamu utamakan adalah mendapatkan pengalaman dan ilmu baru untuk kehidupan yang lebih baik ke depannya tapi biar bagaimanapun uang masih tetap kamu cari.

ADVERTISEMENTS

5. Seberapa tinggi ekspektasi mu saat ini, yang harus kamu lakukan adalah tetap menjalani dengan sepenuh hati

bersyukur yuk

bersyukur yuk via https://pixabay.com

Tak dipungkiri orang tuamu masih sering memberi kode agar kamu ikut tes di perusahaan yang lebih baik lagi dan juga mendaftar menjadi cpns. Bukannya kamu tak mau, hanya saja kamu masih mempersiapkan itu semua. Kamu sadar jika memang ditakdirkan untuk menjadi pekerja kantoran beneran atau bahkan menjadi pegawai yang mengenakan seragam coklat, kamu memang harus sudah siap bekal. Kamu sadar jika sudah seperti itu waktu yang bisa kamu gunakan untuk belajar lebih sebentar. Tak seperti sekarang, yang seolah-olah kamu belajar tapi dibayar. Dalam hati kecilmu kamu juga ingin mewujudkan keinginan orangtua mu. Sembari menunggu waktu berbaik hati, kamupun selalu mempersiapkan diri dengan melakukan yang terbaik sesuai versimu dengan sepenuh hati.

Setiap orang sudah diberi jalan sendiri-sendiri oleh Tuhan. Sudah ada jalurnya sendiri-sendiri. Jika kamu belum menjadi pekerja yang mengenakan seragam setiap hari, jangan berkecil hati. Mungkin belum saatnya Tuhan memberi, tapi lihat saja skenario seperti apa yang Dia beri nanti. Tuhan selalu punya alasan mengapa kamu ditempatkan di tempat yang sekarang ini. Bukankah kamu masih beruntung karena setiap bulan sudah bisa mendapatkan gaji? Hidup bukan seperti balapan lari, tapi berjalan teratur sesuai jalur sendiri dengan sepenuh hati.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sedang memperbaiki niat dan menata hati