Hari gini siapa sih yang kagak demen dengan yang namanya transaksi dan belanja online. Belanja online memangkas model belanja offline yang menguras tenaga, waktu dan biaya. Teknologi belanja berbasis website dan aplikasi memudahkan transaksi. Namun demikian, tak selamanya transaksi dan belanja online itu aman-aman saja.

Hacker ada di sekitar kita dengan DDoS (Distributed Denial of Services), Phishing hingga Malware/Ransomware. Mereka menjadi ancaman serius bagi kita yang suka belanja online. Hasil survei PricewaterhouseCoopers (PwC) menyebutkan dalam satu hari saja diperkirakan ada lebih dari 160 ribu serangan. Kasus peretasan oleh Sultan Haikal M Aziansyah alias Emre alias Sultan Haika alias Sultan Ekel yang mampu membobol 4 ribu lebih situs, termasuk tiket.com, situs pemerintah, hingga media online menjadi bukti hacker itu menakutkan.

Tidak tanggung-tanggung, Haikal sanggup meraup uang miliaran rupiah dari pembobolan tiket pesawat. Nah, bagi yang ingin aman saat bertransaksi online, tips berikut ini menjadi langkah dini bebas dari serangan hacker :

1. Jangan Biasa Gunakan Jaringan Internet Umum

Membuka website atau aplikasi transaksi online dengan jaringan internet di tempat umum (wifi gratis), warnet dan thetering rentan hacker. Sambungan internet di tempat umum memudahkan hacker meretas informasi yang sedang kita akses. Khusus di warnet, waspadailah keylogger. Aplikasi ini biasa digunakan untuk menyimpan atau mencetak data yang kita ketik melalui keyboard yang digunakan. Keylogger mampu mencuri data pribadi seperti username, password, nama dan nomor rekening.

2. Biasakan Mengupdate Password

Advertisement

Kebiasaan memakai satu password untuk banyak akun keuangan dan berbelanja sangat rentan dan bisa menjadi celah untuk serangan cyber. Memamng, kadang kita tak mau ribet dengan banyak password. Karena meremehkan variasi password, kita kadang lupa log out atau membiarkannya terus terbuka di perangkat yang kita pakai. Jangan pula menaruh atau menyimpan password secara sembarangan. Berdasarkan hasil penelitian PWC, lebih dari 60% pelaku serangan cyber ternyata orang dalam perusahaan atau mantan karyawan alias orang-orang dekat kita.

3. Merahasiakan Username dan Password

Username dan password itu sifatnya pribadi. Jangan tunjukkan, apalagi memberikannya pada mereka yang ngaku-ngaku dari lembaga atau perusahaan keuangan. Kita semua tahu, titik terlemah sistem digital adalah user.

4. Jangan Gegabah Membalas Email yang Mencurigakan

Membalas email yang mencurigakan adalah tindakan fatal, apalagi memasukkan sandi pada situs yang mencurigakan/tiruan (website phishing). Situs tiruan yang memang mirip dengan situs resmi lembaga atau perusahaan keuangan mengecoh pemakai masuk ke situ palsunya sehingga data-datanya tersimpan

5. Gunakan Browser Bebas Phishing

Advertisement

Pastikan menggunakan browser yang memiliki filter phishing agar kita terhindar dari website tiruan. Meski dalam perkembangan waktu muncul aplikasi yang menggantikan website dan meminimalisir pencurian data, bukan berarti aplikasi bebas scam 100 persen.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya