Angkot, di mata sebagian orang Jakarta adalah "sosok" menyebalkan. Tetapi di sebagian yang lain, adalah "dewa" penolong. Bukan polemik itu yang menarik bagi saya, tetapi keunikan angkot yang layak Anda ketahui. Atau barangkali, Anda adalah korban dari keunikannya ini. Saya share 5 diantaranya untuk Anda, silahkan Anda lengkapi sendiri yang lainnya.

1. Maju Mundur Bikin Galau

Angkot ngetem, masalah bagi penumpang yang ingin cepat. Mengakibatkan juga kemacetan. Tetapi supir angkot beranggapan, mereka sudah dimaklumi pengguna jalan lain. Alasannya, setoran. Kata pamungkas yang mengalahkan logika apapun. Berdasar itu, biasanya penumpang menghindar. Calon penumpang tak menggunakan terminal sebagai tempat naik angkot. Mereka memilih naik di jalan setelah angkot keluar terminal, atau beberapa meter di depan dari tempat dimana biasanya angkot ngetem. Harapannya angkot tak lagi ngetem.

Siasat penumpang ini ternyata juga jeli dibaca para supir angkot. Mereka pun lantas menggunakan trik cerdik. Menjalankan angkotnya beberapa meter, dan memainkan gas, seolah-olah angkot siap berangkat. Setelah mengecoh penumpang, dan berhasil menaikkan beberapa, biasanya angkot akan mundur lagi. Maju mundur seperti ini biasa dilakukan hingga beberapa saat. Bagi mereka yang sudah terlanjur terjebak, sangat jarang yang kemudian turun lagi. Sebab angkot setelahnya juga melakukan hal yang sama.

2. Second Home

Advertisement

Angkot adalah salah satu alternatif bagi para komuter. Harganya terjangkau, meski ketepatan waktunya tidak terduga. Bisa duduk agak nyaman hingga di depan tempat kerja. Belum lagi, ada jalur-jalur khusus yang dikuasai sang supir saat macet. Lewat gang perumahan yang banyak polisi tidurnya, tetapi bonusnya ; sampai tempat kerja tidak terlambat. Apesnya, jika ternyata ada banyak angkot lewat jalur yang sama, macet-macet juga.

Tuntutan kerja yang tinggi di Jakarta, angkot dapat menjadi salah satu tempat bagi penumpangnya untuk barang sejenak melepaskan lelah. Pagi ; jam berangkat kerja, dan sore sepulang kerja. Ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa sebagian besar penumpang, memejamkan matanya. Entah, tidur atau sekedar trik agar tak melihat jalanan yang crowded supaya tidak tambah strees. Tapi apapun itu, sepertinya para penumpang pagi dan sore hari itu hanya ingin mengembalikan kebugarannya. Angkot menyediakannya.

Para penumpang angkot, seringkali menunda mimpinya hanya gara-gara weker berbunyi. Berkemas, dan melanjutkan lagi mimpi yang tertunda di angkot. Gema azan masih terdengar dari masjid-masjid terdekat. Satpam masih berjaga di depan pos atau portal perumahan. Para komuter sudah berjuang di dalam angkot ; mengalahkan kantuk dan lelah yang belum sepenuhnya menghilang

3. Konsisten dengan Slogan 4 – 6

desak-desak diangkot

desak-desak diangkot via https://sys1726.wordpress.com

Advertisement

Bangku angkot di “desain” untuk dapat diduduki 6 – 4 – 2 -2. Enam orang di bangku panjang belakang supir, empat orang dekat pintu, dua orang samping pintu hadap belakang dan dua orang samping supir. Supir biasanya mengatur penumpang untuk duduk sesuai dengan hitung-hitungan itu, sambal teriak “empat enam, empat enam”. Tak peduli ukuran tubuh, 6-4-2 -2 terisi, barulah angkot melaju. Desak-desakan sudah pasti, yang penting pantat nempel, ok lah.

Sepanjanng perjalanan, badan sudah seperti dalam packing, tak bisa bergerak. Untuk garuk-garuk saja repotnya bukan main. Kalau rasa gatal menyerang muka, masih lumayan tapi kalau ujung kaki yang gatal , Silahkan meringis hingga sampai di akhir jalur trayek. Penumpang turun, baru deh tuh kaki bisa digaruk.

4. Ruang Privat di tengah public

ngobrol diangkot

ngobrol diangkot via http://www.boombastis.com

Gadget, sangat penting di angkot. Begitu pantat mendarat, tutup kuping dengan headphone, buka BB, tulis atau baca massage, jadi hiburan yang lumayan menghilangkan kebekuan (maksudnya emang kayak ikan beku, kaku). Rombongan, tetapi biasanya masing-masing membisu, terbang dengan angannya. Situasi menjadi berbeda, jika ada dua atau tiga orang di satu angkot merupakan orang-orang yang saling kenal. Lagi pacaran, pulang kantor bareng atau suami istri.

Kehidupan keluarga menjadi perbincangan seru diangkot, tak peduli pada sesama pengguna yang lain. Persis seperti di ruang keluarga, atau perbincangan di atas ranjang sebelum tidur, yang ada hanya mereka berdua. Jika mereka suami istri. Gaji, bos tak tahu diri, manager reseh, menjadi topik hangat juga bagi mereka yang kebetulan ketemu saat pulang kantor. Ngerumpi tambah menjadi-jadi saat angkot kejebak macet.

Di Jakarta ini nyaris benar-benar tak ada ruang public. Trotoar di tempati PKL, kendaraan Parkir. Taman dipenuhi tuna wisma, juga pedagang. Tanah Negara yang semestinya bisa bikin lapangan sepak bola, dipenuhi pemukiman liar. Mau mancing di waduk pun siap-siap kecewa, karena telah dijadikan tempat pembuangan sampah. Bahkan sampai diangkot pun, ternyata juga ruang udaranya telah di okupasi oleh sebagian penumpangnya dengan membawa persoalan pribadi melalui pembicaraan sebagian penumpangnya. Belum lagi, jalanan depan rumah dijadikan lahan parkir mobil tetangga. Nasib!

5. Musik, Bikin Hidup Lebih Hidup

Musik itu universal, penikmatnya bisa dari kalangan mana saja. Sehari saja tak mendengarkan music, rasanya hidup jadi kurang sempurna. Di Jakarta, yang banyak waktu dihabiskan di jalanan. Membuat banyak kalangan membidik cara, agar orang dapat mendengarkan music di manapun ia berada. Peluang ini ternyata juga di baca secara cerdas oleh para pengusaha angkot.

Suara yang mendentum, laksana menikmati house music di diskotik, adalah fasilitas lain dari angkot. Speaker out door, atau gedung di pasang di bagian belakang. Suaranya tidak hanya dapat dinikmati penumpang, namun juga kadang menggelegar hingga keluar. Bassnya tidak hanya berdegup nikmat, tak jarang juga menggoyang mobil. Lagu, tergantung selera supir. Tak peduli apa selera music penumpang. Sehingga, meski lagu menggema dalam ruang angkot yang sempit, sebagian penumpang masih saja mengenakan headsetnya di telinga. Jadilah music campur sari. Jazz dari headset dan dangdut dari speaker angkot yang dinaiki. Hidup jadi lebih sempurna.

Aturan angkot yang ketat, duduk harus 4-6-2-2, dengan kehadiran speaker out door membuat penumpang harus mampu berinovasi. Mengubah gaya duduk. Ruang yang terbatas, harus tetap menampung 12 penumpang. Penumpang deretan belakang mesti duduk agak serong, karena dengkul terganjal speaker. Dentuman music, kadang bikin nyeri dengkul yang nempel di ujungnya. Belum lagi jika himpitan penumpang lain cukup besar, pantat harus maju dari kursi panjang. Ancaman seriusnya, kram. Bonusnya, sulit keluar angkot saat sudah sampai tujuan; kaki kesemutan. Musik memang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan manusia. Tidak hanya mampu mengubah mood Anda, tapi juga cara Anda duduk; di angkot.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya