1. Entah kenapa anak magang itu lebih banyak diamnya daripada berkata-kata di awal masuk kerja.

Ilustrasi: Anak magang lebih banyak diam daripada berkata-kata di awal masuk kerja.

Ilustrasi: Anak magang lebih banyak diam daripada berkata-kata di awal masuk kerja. via http://www.vemale.com

Jika anak magang banyak diam di awal minggu masuk kerja wajar sih, apalagi sedang masuk dalam tahap pengenalan lingkungan. Anak magang masih butuh penyesuaian terhadap ritme kerja yang ada di sekitarnya. Anak magang akan bicara ketika dalam mengerjakan tugasnya mengalami kendala. Tebaran senyum dari anak maganglah yang hanya bisa diberikan dan menghiasi ruangan kantor saat itu.

Untungnya, anak-anak magang Hipwee bisa begitu cair ketika disapa kakak-kakak penulis dan editor yang manis. Ya, walaupun masih malu-malu kucing sih termasuk saya. Tapi lama-kelamaan, persahabatan anak-anak magang dengan orang kantor jadi begitu akrab bagaikan kepompong.

2. Ketika fasilitas makan siang tersedia, anak magang malah pada pura-pura berpuasa.

Ilustrasi: Anak magang pura-pura berpuasa padahal dapat fasilitas makan siang

Ilustrasi: Anak magang pura-pura berpuasa padahal dapat fasilitas makan siang via https://kantorsurabaya.wordpress.com

Memang di kantor ada fasilitas makan siang yang tersedia. Namun di awal-awal masuk kerja, anak magang pada pura-pura berpuasa. Padahal bulan ramadhan saat itu juga belum tiba dan membuat orang kantor bertanya-tanya. “Apakah mereka tidak lapar? Atau mungkin mereka sedang berpuasa senin-kamis seperti tradisi orang Jawa? Entahlah! Hanya Tuhan yang tahu untuk menjawabnya,” gumam mereka.

Tapi peristiwa itu tidak berlangsung lama. Lambat laun, anak-anak magang termasuk saya mulai berani untuk menyantap siang bersama. Canda tawa hingga duka lara dicurahkan saat makan siang di sana. Bahkan tidak ada sekat di antara mereka. Ya, walaupun anak-anak magang belum pernah makan bersama dalam satu meja namun setidaknya membaur bersama teman-teman dari berbagai divisi di Hipwee.

3. Ketika kehabisan ide untuk menulis, maka akan muncul tingkah laku di luar batas.

Ilustrasi: Anak magang biasanya konsultasi dengan editor maupun penulis Hipwee lainnya

Ilustrasi: Anak magang biasanya konsultasi dengan editor maupun penulis Hipwee lainnya via http://print.kompas.com

Kadang kala, anak magang bisa kehabisan ide penulisan ketika mendapatkan tugas untuk membuat sebuah artikel. Menariknya, anak-anak magang Hipwee pada kreatif untuk mengatasinya. Mulai dari berkonsultasi ke editor, membawa majalah sebagai bacaannya, hingga jalan-jalan di kantor dengan hati yang begitu gundah gulana.

Saya dan Dito ini yang paling demen mencari inspirasi tulisannya dengan berkonsultasi dengan para editor dan penulis Hipwee lainnya. Khusus tambahan buat Dito, dia suka jalan-jalan dan bergumam sendiri hingga orang Hipwee pada bertanya-tanya sedang apa dia?

Kalau Chiki, sih kadang kala bawa majalah edisi lama untuk cari idenya. Bahkan udah buat kerangka tulisan yang akan dikembangkan jadi artikel. Lain halnya dengan Ega, yang langsung di depan komputer untuk mengetik artikelnya. Setiap anak magang punya caranya masing-masing untuk menemukan ide penulisannya, yang terkadang kelewat batas. Tapi semuanya tetap kreatif.

4. Ucapan salam anak magang Hipwee di pagi hari, mulai dari "Assalamualaikum" hingga "Permisi".

Ilustrasi: Ucapan salam

Ilustrasi: Ucapan salam "Assalamualaikum" via http://azharmind.blogspot.com

Ketika anak magang satu-satu berdatangan ke kantor, tidak lupa ucapan salam khas yang terucap dari bibir manisnya menyapa teman-teman Hipwee. Chiki sebagai seorang hijabers sejati, sudah pastinya menyapa lembut dengan ucapan Assalamualaikum yang akan disambut Wa’laikumussalam secara bersama-sama. Begitu juga Dito yang kadang kala menyapa dengan sapaan tersebut.

Berbeda halnya dengan saya yang kebiasaan tiap masuk kantor selalu bilang “Permisi” dengan begitu lemah lembut (katanya) dan akan dijawab serentak “Silakan”. Kalau dipikir-pikir, sapaan saya ini persis mbak-mbak katering yang sering mengantarkan makan siang teman-teman Hipwee.

Ini yang membuat teman-teman Hipwee bertanya “Apa jangan-jangan Angga juga karyawan katering dan satu grup dengan mbaknya ya? Entahlah. Ini rahasia ilahi yang belum terpecahkan hingga sekarang,” gumam anak-anak Hipwee.

5. Gayanya anak magang Hipwee itu mulai dari urban street fashion hingga hijabers yang istiqomah.

Ilustrasi: Gaya Casual di Kantor

Ilustrasi: Gaya Casual di Kantor via http://kawaiibeautyjapan.com

Anak-anak magang sejak awal memang dibebaskan dalam berbusana ketika menjalani magang di Hipwee. Maka dari itu, terciptalah empat gaya fashion yang berbeda-beda dari keempat anak magang Hipwee. Chiki bisa dibilang hijabers istiqomah masa kini, yang mampu memadupadankan hijab dengan pakaian yang dikenakannya sehingga terlihat menarik untuk dipandang.

Beda halnya dengan Ega yang lebih casual, pakaian yang dikenakannya lebih simple tapi tetap trendy saat beraktivitas di kantor. Saya sendiri yang lebih formal dengan menggunakan hem dan kaos berkerah, bahkan pernah menggunakan batik saat di kantor. Aksiku ini membuat sang office manager sempat bertanya “Mengapa kamu begitu rapi, Ngga?” ucapnya. Karena kebanyakan teman-teman Hipwee mengenakan pakaian yang casual ketika bekerja.

Terakhir Dito. Pria ini bisa dibilang paling fashionable dari keempat anak magang lainnya karena sering menggunakan gaya urban street fashion saat berkegiatan di kantor. Terlebih lagi, rambutnya yang japanese style membuat dia layak untuk menekuni dunia catwalk.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya