6 Alasan Seseorang Bereaksi Berlebihan Terhadap Hal Sepele

Skip ah, dasar baperan! Gitu aja baper. Gitu aja lebay

Dalam setiap babak kehidupan yang menghiasi dunia ini, tidak seru kalau tidak ada intrik atau bumbu-bumbu penyedap didalamnya. Bagaikan semangkuk mie ayam rasanya enak dan meriah karena kehadiran potongan sawi yang menyegarkan, potongan ayam berbentuk dadu yang lezat dan kelezatan mie yang diracik bersama bumbu-bumbunya. Tetapi rasanya hidup jika datar-datar saja kurang seru jikalau tiap perjalanannya menyisakan banyak duka, cerita, kelamnya diriku dimasa lalu, derita dan lara, amarah yang tidak tertahankan selalu mewarnainya.

Saat kita berbincang-bincang dengan teman-teman ataupun orang-orang, mereka selalu menyelipkan kata-kata yang menyakitkan hati temannya. Goresan luka batin setelah temannya mengucapkan kata dih lebay lo, urusan kayak gitu bisa kali diatasin, oke skip skip, sorry ya gue ga mau deket-deket sama anak yang suka baperan Bye, si ratu drama! sungguh sangat menyakitkan. Pantas saja ada sebuah kata kiasan yang menggambarkan kalau kita semua buruk dalam cerita orang lain. Baik-baik didepan tapi busuknya dikeluarkan dari belakang.

Setidaknya kita perlu membuka mata, buka pikiran seluas-luasnya kalau kita harus sadar bahwa kita tidak mungkin bisa tahu seluruh pengalaman masa lalunya. Orang yang kamu judge itu yang kamu anggap hina didepanmu kamu tidak pernah tahu sudah berapa lama memendam emosinya yang sudah ia tahan tapi tidak sanggup dan akhirnya pecah di suatu situasi. Kita tidak tahu apa yang sudah ia lalui.

Setidaknya kalau kamu tidak bisa membantu tolong jangan menganggap remeh sesuatu hal yang saat ini dia rasakan. Jangan buru-buru untuk melabeli seseorang dengan label baperan, drama, lebay kalau memang sebenarnya kamu tidak tahu bagaimana duduk perkaranya, asal-usulnya dan jangan meremehkannya. Mungkin masalah yang kamu anggap sepele walau hanya secuil itu bisa saja menjadi hal yang besar bagi orang lain. Berikut ini adalah alasan-alasan yang sebenarnya menjawab pertanyaan kenapa seseorang bisa saja bereaksi berlebihan terhadap sesuatu hal yang dianggap sepele bagi orang-orang.

Advertisement

1. Flashback Terhadap Perasaan Trauma di Masa Lalu

Photo by cottonbro from Pexels

Photo by cottonbro from Pexels via https://www.pexels.com

Setiap orang pastinya merasakan trauma yang bermacam-macam bentuknya. Terkadang trauma selalu menghantui didalam kesehariannya. Perasaan malu, khawatir, sedih, resah, pening, enggan untuk melakukannya lagi selalu ia eluh-eluhkan. Emosi negatif seseorang yang sedang merasakan trauma penuh sesak tidak terbendung. Contoh seorang laki-laki sedang belajar untuk mengendarai sepeda motor. Mereka belajar pelan-pelan sampai di satu waktu, laki-laki ini mencoba untuk mengendarainya. Namun sayangnya ia mengerem gasnya terlalu kencang sehingga dia terjatuh dan dia sudah menyerah. Sampai pada akhirnya dia mendapatkan omelan dari mamanya untuk sudah stop jangan dilakukan lagi. Bagi kalian mungkin belajar sepeda motor dan jatuh itu adalah hal sepele. Tapi bagi laki-laki ini mungkin bisa berbeda. Dia sudah kapok untuk tidak mau mencobanya lagi. Jadi ketika ada suara gerungan motor atau sedang memegang setirnya saja sudah tidak sanggup. Padahal sebenarnya bisa. Iya apa mau dikata namanya anak sudah kagok, dipaksa pun bakal susah.

Dari sekelumit cerita berikut kita bisa ambil sebuah pelajaran. Memang perisitwa traumatis yang dialami oleh laki-laki tadi sudah berlangsung lama. Namun ketika si laki-laki ini diberikan kilas balik tentang memori masa lalunya, dia sudah tidak kuat. Perasaan kagok dan tidak ingin mencoba sudah ada dalam dirinya sejak ia dibentak untuk dilarang melakukannya lagi. Kita tidak akan tahu berapa lama ia bisa keluar dari jeratan traumatis yang dialaminya.

Advertisement

2. Rasa Berduka yang ia alami Sedang Pecah-Pecahnya

Photo by Pixabay from Pexels

Photo by Pixabay from Pexels via https://www.pexels.com

Balik lagi dengan soal laki-laki dari ilustrasi cerita diatas. Mungkin laki-laki tadi sudah tahu kalau gasnya kekencengan. Tetapi tidak bisa dipungkiri, bentakan mamanya membuat dia menjadi down. Semangat yang dulunya ada sekarang sudah padam oleh kobaran bentakan yang dilontarkan mamanya itu. Mau apa dikata sebagai anak kita harus nurut kepada orang tua. Mau diajak lagi? Oh maaf saya sudah tidak ada keinginan lagi. Setiap orang ketika sedang berada dalam fase berduka tentunya melewati banyak tahapan yang berbeda. Mulai dari denial, penyangkalan, amarah, emosi, proses healing dan menerima dari rasa duka itu sendiri. Disini definisi berduka bukan hanya bersedih saja, tetapi bisa mengalami rasa-rasa yang lainnya seperti yang disebutkan diatas.

Berduka juga tidak melulu soal kehilangan sesuatu yang pernah dimiliki oleh seseorang. Bisa juga seseorang yang sedang berada dalam masa lalunya dan sedang kehilangan jati dirinya. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu bahwa terkadang seseorang melewati rasa dukanya bermacam-macam. Menghadapinya juga penuh dengan kegamangan. Tahapan kesedihan yang dialami oleh seseorang bervariasi jadi terkadang mereka belum mampu keluar dari rasa dukanya. Siapatau seseorang bisa saja mudah meledak-ledak amarahnya karena mereka teringat sesuatu hal saat dihadapkan oleh situasi yang serupa ini.

3. Sedang Merasa Frustasi dan Mudah Terpancing Emosi

Advertisement
Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Kita tidak akan pernah tahu apa yang benar-benar sedang dialami oleh seseorang. Dibalik kesehariannya yang tenang, gesturnya yang menunjukkan kalau dia berusaha kuat untuk menjalani kerasnya kehidupan kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami. Ditengah keceriaan yang ia tunjukkan melalui raut mukanya yang berusaha untuk selalu tersenyum mereka tetap beraktivitas seperti biasanya. Cuma ya lagi-lagi, dibalik perjalanannya ada sekelumit masalah yang susah untuk diungkapkan dan enggan untuk diceritakan.

Seseorang dalam pikirannya pasti sedang memikirkan bagaimana jalan penyelesaiannya, bagaimana masalah ini dapat segera terselesaikan. Wajar jika raut wajah seseorang seketika berubah karena tersadarkan oleh pikiran-pikiran yang sedang mengikuti bayang-bayangnya. Emosi yang tidak tertahankan, luapan tangisan sudah tidak terbendung lagi. Tidak punya siapa-siapa kemana lagi aku harus mengadu. Lelah, frustasi dan mudah tersulut emosi bisa jadi pemicu seseorang ketika dia sedang bereaksi berlebihan terhadap hal yang sepele. Lelah diri lelah batin meradang. Ditambah lagi dengan ocehan orang-orang yang merendahkan dirimu bener-bener tidak paham lagi bagaimana frustasinya orang itu.

4. Tidak Dapat Mengontrol Kecemasan yang Ia Rasakan

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via https://www.pexels.com

Sebuah studi melaporkan bahwa orang yang sedang mengalami gangguan kecemasan umumnya mengalami emosi yang lebih intens. Saat cemas tubuh masuk ke mode fight-or flight. Tetap dalam keadaan ini untuk waktu yang lama dapat meningkatkan ketegangan, lekas marah, gejala fisik, dan kemampuan seseorang untuk mengatur emosinya. Pada situasi yang tidak menentu seperti sekarang ini banyak orang-orang merasa terkubur atas bayang-bayang pikirannya sendiri. Bayangkan Anda berada di sebuah lorong labirin besar, setiap belokan mengarah ke jalinan bencana yang lebih dalam dan rumit, ada berbagai peristiwa menyedihkan di sana. Seperti itu kira-kira rasanya ketika cemas memikirkan masalah yang menghadang. Memang, setiap orang sesekali memikirkan hidup atau pilihan mereka secara berlebihan.

5. Berusaha Memendam Emosi Tetapi Sudah Tidak Sanggup Untuk Ditahan

Photo by Kat Smith from Pexels

Photo by Kat Smith from Pexels via https://www.pexels.com

Banyak orang yang tidak menyadari darimana dan mengapa mereka marah. Terkadang amarah yang berlebihan bukan disebabkan oleh apa yang terjadi pada saat itu. Seseorang yang terbiasa mengabaikan emosinya, menekan amarahnya dan menumpuk perasaan negatif begitu lama, cepat atau lambat meledak juga. Ini seperti bom waktu suatu saat akan meledak juga. Hal inilah mengapa mengakui, mengekspresikan dan mengelola emosi menjadi sangat penting. Menahan emosi negatif yang sudah tertumpuk tidak enak rasanya jika ditahan terus menerus. Terkadang manusia butuh untuk mengeluarkannya dengan mengeluh. Sungguh menyakitkan jika ia sedang berada dalam lingkaran traumatik. Itulah kenapa juga kita harus mengacknowledge perasaan kita, mengatur aliran emosi kita untuk meminimalisir overreact atau emosi yang tiba-tiba meledak hanya karena hal-hal yang kecil.

6. Sepele Bagi Dirimu Bisa Jadi Hal Besar Bagi Orang Lain

Photo by Demeter Attila from Pexels

Photo by Demeter Attila from Pexels via https://www.pexels.com

Mengutip kata bijak dari Fiersa Besari bahwa sepele bagi dirimu bisa berarti segalanya bagi orang lain. Ada baiknya kita perlu untuk membuka mata dan hati kita terhadap adanya perbedaan sudut pandang. Mengedepankan sikap empati justru sangat penting terkait masalah sepele ini. Sikap empati sangatlah penting akan tetapi ketika kalian mulai berempati dengan sudut pandang mereka kalian tidak harus setuju dengan sudut pandang mereka. Kalian tetap punya kebebasan pendapat akan tetapi kalian juga harus mengerti apa yang mereka inginkan.

Kemampuan Anda untuk terhubung dengan dan memahami orang lain adalah keterampilan yang penting. Tetapi penting juga untuk mengontrol dalam hal ini yaitu emosi sehingga tidak menjadi beban bagi Anda. Dan anda tidak terlihat seperti mengurusi urusan orang lain.

Sebagian dari kita merasa sangat mudah berempati dengan orang lain. Dan itu selalu dihargai. Tetapi apakah Anda tahu bahwa terlalu terlibat dalam masalah yang orang-orang bagikan dengan kita dapat menyebabkan Anda merasa lelah secara emosional?

Sementara kita menjaga emosi orang lain, kita lupa untuk menjaga kesehatan emosi kita sendiri. Belajar mengubah empati anda menjadi sesuatu yang lebih terkendali. Sepele bagi anda menjadi hal besar bagi orang lain. Begitupula sebaliknya hal besar yang bagi anda bikin panik juga kalian memandangnya adalah hal yang sepele. Mulai sekarang tolong untuk belajar memahami background atau latar belakang orangnya seperti apa, pelajari kebiasaannya, pelajari karakter atau wataknya.

Don’t judge book by it’s cover. Janganlah sekali-kali menilai seseorang hanya tampak dari luarnya saja. Misalnya dia anak tunggal, jangan tanya kenapa dia anak tunggal karena itu bukan urusan kamu. Kita tidak pernah tahu hal apa yang telah dirasakan dan dilalui oleh si anak tunggal ini. Jangan mencoba mencampuradukkan dan menyamaratakan problem si A dengan si B. Beda orang ceritanya sudah berbeda.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penyuka Seblak dan Baso Aci

CLOSE