Menjadi kaya saat lahir adalah takdir. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari keluarga yang kaya raya. Walau demikian, menjadi kaya semasa hidup adalah nasib, sehingga dengan membuat keputusan-keputusan yang tepat sepanjang hidup, kita bisa menjadi kaya. 

Gaya hidup seseorang memengaruhi keuangan mereka. Orang seringkali merasa tak cukup dengan penghasilannya, karena mereka banyak yang mengejar hasrat memenuhi keinginan, bukan kebutuhan.

Penampilan memang tidak bisa jadi satu-satunya patokan melihat status hidup seseorang. Terkadang ada orang yang berpenampilan “wah” namun sebenarnya keuangannya pas-pasan saja. Sebaliknya, kita juga kerap menjumpai penampilan seseorang yang biasa saja namun ternyata hartanya melimpah.

Perbedaannya yang pasti sangatlah bertolak belakang. Bahkan kebiasaan sehari-hari dan pandangan hidup pun cukup jauh berbeda. Berikut 6 perbedaan pola pikir orang kaya dan orang miskin.

1. Orang kaya sungguhan punya strategi dalam setiap pengeluaran, dia yang abal-abal hanya asal beli tanpa memikirkan mau makan apa di akhir bulan

Proporsional

Proporsional via https://unsplash.com

Salah satu hal yang kerap membedakan orang kaya dan orang miskin adalah dalam memanfaatkan gajinya. Orang kaya akan menunda kebutuhan yang dianggapnya hanya sebatas keinginan saja. Namun orang miskin akan membelanjakan gajinya untuk sesuatu yang dia inginkan.

Advertisement

Tidak dewasa di sini, maksudnya orang miskin masih senang membeli sesuatu atau melakukan kegiatan sesuai keinginan, bukan sesuai kebutuhan. Akibatnya ia boros dan tidak pernah bisa menabung. 

Orang yang bisa membedakan keinginan dan kebutuhan termasuk dalam mental si kaya. Ia pandai memilih, mana yang hanya godaan dan mana yang benar-benar perlu. Sehingga ketika uang keluar, maka itu benar-benar diperlukan bukan sekadar pemuas nafsu belaka.

2. Bagi yang belum kaya betulan, gaji segitu-segitu saja sudah cukup. Tapi, dia yang kaya beneran justru nggak cepat berpuas diri

Rich man and poor man

Rich man and poor man via https://unsplash.com

Seperti yang sudah dikatakan di atas, bagi orang miskin jabatan dan gaji adalah puncak dari segala sesuatu. Namun bagi orang kaya apalah arti sebuah jabatan dan gaji jika seseorang dapat memegang jabatan tertinggi dalam usahanya sendiri dan justru dapat menggaji orang lain, bukan sebatas menunggu gaji dari atasan.

Advertisement

Orang kaya cenderung merasa terus harus meningkatkan apa yang sudah dicapainya saat ini. Terus ingin mengembangkan usahanya, dan terus belajar meningkatkan kemampuannya.

3. Bagi dia yang kaya, uang bukanlah properti yang digunakan untuk pencitraan. Bagaimana dengan dia yang kaya abal-abal? Yup, uang adalah alat untuk meraih pujian

Ia selalu ingin terlihat glamour, padahal kemampuannya belum sampai di tahap itu. Hal ini justru hanya akan menyiksa dompet dan mental diri. Kendalikan diri, sangat sulit orang mengendalikan diri jika lapar mata melihat pakaian, sepatu, atau tas keren di etalase toko mewah. Bila Anda sudah bisa menahan diri, maka ini tanda sudah punya mental orang kaya. Selamat!

4. Dalam hal pekerjaan, dia yang kaya betulan memprioritaskan kenyamanan dan prospek ke depannya, bukan cuma gaji semata

Lebih totalitas

Lebih totalitas via https://unsplash.com

Orang miskin seringkali justru memiliki gengsi yang tinggi dalam memilih pekerjaan. Baginya jabatan dan gaji yang tinggi adalah cara terbaik untuk mendapatkan kekayaan dan kejayaan hidup. Hal ini sudah sangat puncak dan cukup baginya untuk menjalankan hidup. Ini bertolak belakang dengan budaya orang kaya yang mau melakukan apa saja selama menghasilkan dan baik serta bukan hal salah.

Bagi orang kaya, bukanlah jabatan dan gaji yang penting. Jika tekun dalam melakukan sesuatu maka semua orang pasti bisa mencapai puncak karirnya. Oleh sebab itu tidak heran jika orang kaya rata-rata adalah seorang bos besar. Hal ini dikarenaka pada awal karir, orang kaya tidaklah banyak memilih tipe pekerjaan dan selalu menekuni bidang yang sedang dikerjakannya.

Sadari bahwa semua hal di atas dikendalikan oleh gengsi. Takut terlihat tidak keren, akhirnya membeli barang yang tidak sesuai kapasitas. Jika Anda ingin keluar dari bagan orang bermental miskin, gengsi adalah hal utama yang harus Anda singkirkan. 

5. Sok bergaya mewah padahal 'kosong', dia yang kaya abal-abal akan menghalalkan segala cara demi hidup ala konglomerat. Hal kayak gini nggak berlaku buat dia yang kaya betulan, lho!

Masih menyangkut poin sebelumnya, ini juga salah satu ciri mental orang miskin. Ia ingin terlihat banyak uang dengan memakai mobil mewah dan perhiasan, padahal itu semua dibeli dengan cara berhutang, atau bahkan yang parah, meminjam milik orang.

Orang kaya akan lebih memilih menggunakan otaknya untuk berpikir serta memanfaatkan situasi dan kondisi agar menguntungkan bagi mereka. Wujudnya bisa berupa investasi, orang bermental kaya tidak perlu tampil mewahuntuk penampilan sehari-hari. 

Namun setiap saat, otaknya berpikir keras bagaimana cara bisa mendapatkan passive income. Artinya, sesuatu yang secara rutin bisa menghasilkan uang, tanpa ia harus hadir untuk melakukan sebuah pekerjaan.

6. Jika diibaratkan, orang yang kaya betulan selalu bermain untuk menang, bukan cuma sekadar 'tidak kalah' seperti mereka yang abal-abal

Seperti permainan

Seperti permainan via https://unsplash.com

Hidup sama seperti permainan. Ada menang dan ada kalah. Mereka yang menguasai peraturan dan tahu bagaimana cara uang bekerja akan memenangkan permainan. Dalam permainan uang, orang kaya selalu berusaha untuk menang. Mereka tidak mau kalah. Hal ini berbeda dengan cetak biru orang miskin yang merasa cukup hanya dengan tidak kalah.

Kaya atau tidaknya seseorang tentu bukanlah menjadi hal yang harus selalu menarik bagi orang lain. Namun untuk orang yang pura-pura kaya, penting bagi mereka agar mendapatkan pengakuan dan juga sanjungan atas hal tersebut. Sehingga mereka kerap menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak perlu. Dari kedua hal tersebut, kita tentu dengan mudah bisa tahu mana mental orang kaya dan mana orang yang pura-pura kaya saja, bukan?

Menjalani hidup mengalir dan apa adanya membuat diri juga lebih terlihat percaya diri dan berkelas. Jangan berlaku seolah ingin terlihat kaya. Hal ini justru akan menenggelamkan kehidupan Anda dan membuat hidup tidak dapat berkembang. Bukanlah pendapat orang yang penting, melainkan menata hidup ke depan jauh lebih penting dibandingkan mendengar pendapat orang yang tidak bermanfaat.

Jadi itulah 6 perbedaan pola pikir orang kaya dan orang miskin. Adaptasikan pola pikir tersebut ke pola pikir Anda, orang kaya memikirkan peluang, dan orang miskin hanya fokus terhadap masalah yang ada hingga melupakan peluang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya