Dulu, kamu dan saya pernah bersama merajut harapan, menyusun sepenggal rencana yang rasanya layak untuk diperjuangkan. Ada gambar yang jelas sekali tentang masa depan, kita punya arah yang sama sebagai tujuan. Saya pernah yakin semua akan bisa diwujudkan, bersamamu semua terasa masuk akal untuk diusahakan.

Kita jelas tidak lagi ada di satu sisi, kamu pergi dan saya tetap tinggal di sini. Kamu bahkan sudah mengulang berkali-kali, saat ini urus hidup kita sendiri-sendiri. Saya tidak mau lagi membicarakan tentang patahnya hati, ini hanya cerita tentang mimpi-mimpi yang sekarang tidak akan saya kejar lagi.

 

1. Saya pernah percaya, perjalanan yang terjal pun bisa bahagia ujungnya.

saya akan bahagia di jalan lainnya

saya akan bahagia di jalan lainnya via http://dylandsara.com

"Kalau baru pacaran saja sudah nangis tiap hari, bagaimana Tuhan mau merestui?"

Teman saya pernah baik sekali mengingatkan saya tentang hal ini. Bagaimana mau direstui kalau belum-belum sudah menangis saban hari? Tapi saya sangat bebal dan tidak mau peduli. Saya ini punya mimpi, dan saya tidak keberatan harus melewati jalan seterjal ini. Tidak jarang saya merasa sedang berjuang sendiri, berkali-kali ingin menyudahi namun nyatanya saya tidak pernah rela berhenti.

"Buat apa memperjuangkan orang yang suka datang dan pergi seenaknya?"

Pertanyaan itu hampir setiap hari mampir di telinga saya, tapi saya keras kepala, meyakini bahwa perjuangan ini pasti ada ujungnya. Masa iya sih ada manusia yang tidak bisa disentuh hatinya. Saya kan sudah bergelut dengan sekuat tenaga, apa iya kita tidak bisa berakhir bahagia? Bagaimanapun juga saya sempat jumawa, merasa di hatimu saya ini benar-benar ada. Saya meyakini pada masanya nanti kita akan berjuang sama kerasnya. Tapi akhirnya mimpi ini memang harus saya gantung di angan saja, kita berdua memang tidak pernah berjalan di rute yang sama.

 

2. Gambar rumah mungil yang kamu kirim itu masih saya simpan, tapi bagaimana mengatur perabotnya nanti sudah tidak lagi saya pikirkan.

tidak lagi saya pikirkan

tidak lagi saya pikirkan via http://favim.com

Dulu kamu pernah semangat sekali bercerita, karena mau melamar saya, punya rumah jadi prioritas utama. Kamu sering bilang, kalau sampai nanti ayah saya bertanya apa yang kamu punya, setidaknya kamu bisa menjawab sudah punya rumah untuk putrinya. Lalu kamu bilang, seperti apapun bentuknya, yang penting kan sudah punya kita, jadi lepas menikah nanti kita tidak perlu menumpang di rumah orang tua.

Kamu juga pernah bertanya, rumah ini bagaimana? apa saya suka? bisanya baru yang begini dulu, di pinggir kota, besarnya juga tidak seberapa. Heiii...tahu tidak kalau saat itu saya sangat bahagia! Saya selalu melihat segala hal dari niatnya, bagi saya, hari itu saya melihatmu benar-benar tumbuh menjadi lelaki dewasa, yang mencintai saya, dan bisa diandalkan tanggung jawabnya.

Saya juga pernah bercanda, bagaimana kalau kita tinggal di apartemen saja? Lalu kamu mencubit hidung saya, kalau tinggal di apartemen kan kasihan anak-anak kita, nanti mereka tidak pernah kenal rumah yang ada halamannya.

Banyak cerita dan rencana tentang tempat tinggal yang akan kita bangun bersama, dimulai dari yang sederhana, sampai nanti benar-benar menjadi yang seperti idaman kita. Saya tidak pernah keberatan melalui semua proses yang ada, saya bahkan sudah mereka-reka bagaimana nanti mau mengatur perabotnya. Setelah kita tidak lagi bersama, jelas semua mimpi itu akan saya lupakan saja.

3. Meriahnya pesta pernikahan dan semua yang dibutuhkan, saya sudah berhenti memikirkannya.

tidak akan ada undangan

tidak akan ada undangan via http://contohundangan.com

Kita sempat dibuat sakit kepala dengan rencana pesta, kadang kita sama-sama tertawa melihat rentetan acara yang panjang sekali persiapannya. Ada debat-debat kecil cincin kita mau dibuat dari apa, saya bilang kita sama-sama pakai palladium saja, lalu kamu bilang jangan, punyamu palladium dan saya tetap emas putih dengan satu permata. Saya juga sering merajuk manja, kalau banyak begini butuhnya, terus berapa lama bisa dipersiapkan semua. Kalau sudah begitu, kamu akan mengusap rambut saya dan bilang kita bisa percepat waktunya asal saya tidak keberatan menikah dengan sederhana. Saya pun mencubit pipi kamu dengan mesra, hanya dicatat di KUA saja sudah cukup bagi saya. Kemudian kamu sendiri yang keberatan, kita kan punya keluarga, biarpun sederhana tetap harus ada perayaannya.

Kita mulai menghitung tabungan dan berapa banyak lagi yang harus dikumpulkan, saya mulai mencatat siapa-siapa saja yang nanti mau dikirimi undangan. Kegiatan memusingkan itu nyatanya saya nikmati sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan. Saya pun mulai mempersiapkan segala hal seperti yang orang sarankan, yang selumrahnya dilakukan oleh perempuan yang katanya mau dipinang.

Ingat tidak, kita sempat ngiler sekali melihat resort di dekat rumah saya yang view-nya cantik luar biasa. Keren ya kalau acara kita nanti dirayakan di sana, outdoor, malam hari, bertabur bintang pula. Semua perintilan itu sekarang menjadi mimpi yang saya sadari tidak akan lagi menjadi nyata.

4. Membawamu pada keluarga, memperkenalkanmu pada mereka, inilah pria yang saya pilih untuk menua bersama. Rencana ini jelas saya cancel realisasinya.

...saya cancel realisasinya

...saya cancel realisasinya via http://dylandsara.com

Sudah lama sekali saya bermimpi satu hari nanti saya akan membawamu ke depan keluarga saya secara resmi. Saya mau memperkenalkanmu tidak hanya pada ayah ibu, tetapi juga keluarga lain dan siapa saja yang saya temui. Saya akan dengan malu-malu bertanya pada mereka, boleh tidak kalau lelaki ini yang kelak akan saya makmumi? Saya cinta sekali dengan pria satu ini, saya jamin mereka akan memberi ijin untuk kita melangkah lebih jauh lagi. Sekarang saya menerima jika keinginan itu hanya cukup menjadi mimpi, dan harus saya akhiri sampai di sini.

5. Traveling bersamamu pasti seru sekali. Tempat yang ingin saya datangi bersamamu kini sudah tunai saya sambangi, sendiri.

saya datang, sendiri

saya datang, sendiri via http://traveltravel.com

Kita punya keinginan yang sama, menjelajah dunia jika bisa. Saya masih ingat betul apa yang kita rencanakan jika ada waktu untuk liburan. Katanya Lombok itu masih alami pantainya, dan kalau bisa kita mau pesiar ke Sulawesi Utara, mengunjung Bunaken yang konon cantik sekali bawah lautnya. Tapi waktu kita terbatas, jadi yang dekat dulu saja lah, ke Pulau Seribu kalau saya sempat menyusulmu ke Jakarta, atau kalau kamu pulang kita bisa berburu pantai di Jogja, dan nanti kita bakal sering-sering ke Bali, mengunjungi kakakmu yang kini tinggal di sana. Tapi, aahh...keinginan itu pastinya tidak akan terwujud lagi. Bagaimanapun juga hutang saya untuk menikmati tempat itu sudah saya lunasi, sendiri.

6. Keluargamu itu asik sekali, rasa sayang saya tetap sama walaupun tidak akan pernah jadi bagian dari mereka.

saya tidak akan menjadi bagian dari mereka

saya tidak akan menjadi bagian dari mereka via http://calimaportraits.net

Ayah, ibu, dan dua kakakmu itu baik sekali. Saya pernah sangat bahagia karena merasa diterima dengan terbuka. Ibumu bahkan sudah menyebut saya sebagai anaknya, dan kakakmu selalu bilang saya adalah adik mereka. Bersamamu, saya mengenal hubungan yang lebih tinggi jenjangnya. Bukan lagi hanya antara kita, tetapi juga tentang mendekatkan dua keluarga. Saya memang tidak akan pernah menjadi bagian dari mereka, namun saya masih memiliki rasa cinta dengan kadar yang sama. Sering kali saya rindu pada ibumu yang masih saya panggil mama, dan keponakanmu yang lucu-lucu itu selalu sukses merebut hati saya.

7. Menjadi ibu dari anak-anakmu, jelas impian ini hanya akan saya simpan dalam angan saja.

happy family...

happy family... via http://bethehappyfamily.com

Sejak kita bersama, pembicaraan kita memang tidak melulu sesederhana besok mau makan dimana, atau tempat mana lagi yang akan kita kunjungi di hari libur kerja. Kita punya banyak sekali rencana yang akan kita wujudkan setelah bisa pulang ke alamat yang sama. Perbincangan-perbincangan kecil sering kali sampai pada pertanyaan besok mau punya anak berapa? Mau bagaimana cara mendidiknya? Saya selalu bilang cukup dua anak saja, dan kamu tetap ngeyel kalau tiga anak pasti akan lebih terasa serunya. Kamu percaya saya bisa mendidik mereka dengan baik, dan untuk itu pun saya rela jika nanti harus tinggal di rumah dan hanya kamu saja yang bekerja. Saya sering terseyum saat kenangan-kenangan tentang pembicaraan itu kembali menyapa. Akhirnya saya harus menerima jika mimpi itu kini hanya akan tinggal dalam angan saja.

8. Mendampingimu, menua bersamamu. Mungkin memang bukan untuk saya kamu ditakdirkan.

bukan untuk saya kamu ditakdirkan.

bukan untuk saya kamu ditakdirkan. via http://dylandsara.com

Bagi saya dulu, tidak ada yang saya inginkan untuk menua bersama selain kamu. Ada banyak impian yang ingin saya wujudkan bersamamu. Tentang pulang yang berarti bersandar dengan nyaman di dadamu, atau detak jantungmu yang selalu terdengar sebagai irama paling merdu. Hal pertama yang akan saya cari saat bangun pagi adalah tanganmu, walau mungkin saya sedikit kesal semalaman tidak bisa tidur karena suara dengkurmu. Semua mimpi saya itu sudah terjawab oleh waktu, kita tidak lagi punya jalan yang sama untuk dituju. Kamu sudah melangkah lebih dulu, jelas berat sekali bagi saya untuk menyaksikan itu.

Namun saya tidak akan mengutuk dan menyalahkan keadaan. Saya percaya ini adalah yang terbaik menurut Tuhan. Mungkin memang tidak bersamamu saya ditakdirkan, saya menerima jika semua yang saya impikan harus ditangguhkan. Ada saatnya nanti kebahagiaan yang sama juga akan saya rasakan, saya hanya tinggal menunggu giliran.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya