5 Alasan Curhat Menjadi Hal yang Menakutkan Bagi Sebagian Orang. Please Jangan Dipaksa!

Alasan takut curhat

“Kamu kalau ada masalah, cerita-cerita saja. Mungkin gak bisa membantu, tapi setidaknya bisa sedikit lebih lega.”

Kalimat diatas sering banget diucapin sama beberapa orang sekitar, entah karena benar-benar peduli, atau hanya sedang kepo. Padahal kepo dan peduli itu berbeda dan saling bertolak belakang. Sayangnya, tidak semua masalah bisa diceritakan.

Ada beragam alasan kita urung menceritakan kesedihan atau masalah yang sedang dihadapi sekarang. Padahal teman dan keluarga ada di sekitar kita. Lalu? Berikut ragam ketakutan yang mencegah kami menceritakan isi hati kita.

Advertisement

1. Takut menjadi beban

Takut menjadi beban

Takut menjadi beban via https://www.sane.org

Takut kalau dengan cerita kami, kalian ikutan jadi sedih apalagi merasakan beban seperti kami juga. Cukup kami saja yang bersedih, jangan sampai sekeliling kami juga.

2. Takut tersebar

Takut tersebar

Takut tersebar via https://www.dailymail.co.uk

Perasaan paling tidak mengenakkan sedunia adalah perasaan diadili oleh orang banyak. Kenal juga tidak, tapi semua orang tahu akan masalah kita. Apalagi kalau mereka kemudian jadi kepo. Bye.

Advertisement

3. Takut dianggap berlebihan

Takut dianggap berlebihan

Takut dianggap berlebihan via https://curiosity.com

“Ah, ini bukan apa-apa. Masalah aku lebih berat lagi..” Nggak ada penghinaan yang lebih parah untuk orang yang ingin di dengarkan, selain dengan tanggapan seperti itu. Tadi katanya kami harus berbagi cerita agar sedikit lebih lega. Kok jadinya kamu yang cerita ke kita?

4. Takut diadili

Takut diadili

Takut diadili via http://theconversation.com

“Ya, kamu sih begini. Coba kalau kamu begitu.” Oke, ini bikin frustasi banget. Masalah sudah terjadi, sekarang yaa gimana mencari solusinya, bukan mencari penghakiman. Lagipula, kami bercerita untuk mencari kelegaan dan solusi, bukan penghakiman.

5. Takut batal ikhlas

Takut batal ikhlas

Takut batal ikhlas via https://www.echolive.ie

“Ya, kamu sih begini. Coba kalau kamu begitu.” Oke, ini bikin frustasi banget. Masalah sudah terjadi, sekarang yaa gimana mencari solusinya, bukan mencari penghakiman. Lagipula, kami bercerita untuk mencari kelegaan dan solusi, bukan penghakiman.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Spilling irregular ideas through words

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE